Opini

Perkuat Solidaritas untuk Bangkit

Bicara nasib kaum Muslim secara jelas bisa dikatakan sangat menderita. Tanpa junnah atau perisai yang menjamin seluruh kebutuhan hidupnya, hidup bak anak ayam kehilangan induknya. Sebab penguasa yang berkuasa hari ini memungsikan dirinya sebagai regulator kebijakan. Bukan sebagaimana seharusnya yaitu sebagai pe-riayah (pengurus).


Oleh Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)

JURNALVIBES.COM – Dalam acara Takbir Akbar Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah, yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Jokowi mengatakan bahwa pandemi ini adalah momentum menguatkan solidaritas sekaligus ajang memperkuat persaudaraan antar muslim dan antar manusia untuk bangkit. “Kita perlu kesediaan lebih banyak berkorban lagi, mengorbankan kepentingan pribadi, dan mendahulukan kepentingan masyarakat serta sesama,” ungkap beliau (CNN Indonesia, 19/7/2021).

“Mari kita bersama-sama memohon Pertolongan Allah Swt., memohon kesembuhan saudara-saudara kita yang sedang sakit, memberikan kekuatan kepada saudara-saudara kita yang sedang melakukan tugas-tugas kemanusiaan,” ujarnya. Presiden juga mengajak seluruh masyarakat untuk mengoptimalkan ikhtiar lahir dan batin. Menurutnya, hal itu bisa dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan.

Perkuat Solidaritas untuk Bangkit

Semoga kalimat di atas tidak sekadar retorika, sebab fakta di lapangan seringnya berbeda dengan apa yang keluar dari lisan beliau. Nyatanya, kaum muslim tidak pernah berhenti untuk bermuhasabah kepada penguasa, mengoreksi, mengingatkan, bahkan mengajak penguasa untuk mengadakan perubahan. Namun apa yang terjadi? Semua dipersekusi, dipenjara, diintimidasi, dan dianggap sebagai lawan, hanya karena bahan muhasabah berlawanan dengan kebijakan.

Maka rasanya janggal, jika di momentum perayaan Idul Adha penguasa menyerukan perkuat solidaritas dan persaudaraan. Akankah seruan ini benar-benar mengantar kepada kebangkitan? Sebab perlu adanya kesamaan pemahaman tentang kebangkitan itu sendiri, terlebih jika disandarkan pada kacamata Islam, sebagai agama mayoritas yang dipeluk penduduk Indonesia.

Bahan bakar kebangkitan tidak cukup hanya sensasi penguatan persaudaraan, nostalgia sesama Muslim yang memiliki perasaan Islamiyyah. Namun harus ada pemahaman yang benar tentang tiga hal yaitu, darimana kita berasal, mengapa kita diciptakan Allah, dan kemana kita sesudah mati?

Ketika itu sudah terjawab, maka munculnya sebuah kebangkitan saat itu adalah kebangkitan yang benar. Yaitu dengan terwujudnya kebangkitan atau kesadaran yang kokoh bahwa kita berasal dari Allah, diciptakan Allah untuk beribadah, dan kita semua kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Titik fokus pada tiga pertanyaan itu adalah Allah Swt.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”(TQS. Adz Dzariyat [51]: 56). Inilah sebenarnya misi dan visi tertinggi manusia hidup di dunia, yaitu menjadi hamba Allah Swt., maka segala sesuatu yang berhubungan dengan perilaku, perkataan, dan pemikiran kita hendaknya sesuai dengan larangan dan perintah Allah Swt. Tidak boleh melenceng sedikitpun.

Di ayat lain Allah juga berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (TQS An Nisa [4]: 170).

Tegas sekali Allah menyebutkan bahwa segala yang di langit dan bumi ini adalah milik Allah. Pantaskah kita semena-mena terhadap apa yang dikuasai Allah? Bahkan dengan arogan di awal masuknya virus Corona mengatakan tidak mungkin berdampak, nyatanya hari ini setiap harinya tidak kurang dari 50 ribu orang meninggal dunia karena Covid-19 dan masih mengatakan dengan congkaknya jumlah itu masih terkendali karena jauh lebih kecil dari negara Inggris.

Maka masuk akal jika kita haruslah benar-benar terikat, tunduk dan patuh kepada syariat Allah, karena status kita hamba. Tidak ada celah hukum buatan manusia menggantikan posisi syariat, jika kita tidak ingin disebut sebagai kafir dan berakhir di neraka.

Sikap Seorang Mukmin

Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan hampir dua tahun, tidak pelak juga memorakporandakan kehidupan kaum Muslim. Tidak hanya perekonomian yang ambruk, namun juga produktivitas peribadahan. Maka, yang harus dibangun adalah pola pikir (mindset) positif. Ini adalah kehendak Allah, makhluk bernama Corona itu sama seperti yang lain yaitu makhluk bagi Allah Swt., ia memiliki karakter tidak terlihat, namun bisa merusak apapun yang ia sentuh. Maka hal itu kita terima dengan penuh keimanan. Pandemi adalah anugerah bagi Mukmin dan azab bagi kafir.

Bicara nasib kaum muslim secara jelas bisa dikatakan sangat menderita. tanpa junnah atau perisai yang menjamin seluruh kebutuhan hidupnya, hidup bak anak ayam kehilangan induknya. Sebab penguasa yang berkuasa hari ini memungsikan dirinya sebagai regulator kebijakan. Bukan sebagaimana seharusnya yaitu sebagai pe-riayah (pengurus).

Maka, kepercayaan (trust) masyarakat kepada penguasa yang semakin berkurang sebab kebijakan yang bergonta-ganti namun minus jaminan. Hidup ini harus menjadi momentum bagi kita untuk menggencarkan pemahaman Islam yang kafah agar terwujud kesadaran umum, hingga mencapai kebangkitan berpikir pula.

Inilah yang tepat diartikan sebagai ikhtiar lahir batin sebagaimana yang disebutkan Bapak Presiden Jokowi. Agar seruan tidak berhenti sebatas retorika. Agar permintaan maaf yang sudah disebutkan oleh beberapa pejabat kementerian benar-benar bermakna sebagai tauban nashuha. Agar baldatun thayyiban wa ghafuran terwujud. Wallahu a’ lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button