Opini

Pangan Mahal Makin Parah, Partai dan Elite Makin Sibuk Tebar Janji

Pengaturan Islam yang begitu komprehensif dalam segala aspek kehidupan manusia yang mampu menghantarkan manusia pada ketakwaan, ketenangan dan kesejahteraan.


Oleh Wa Ode Selfin
(Pegiat Literasi Baubau)

JURNALVIBES.COM – Berbagai aksi protes terhadap kenaikan harga minyak goreng terus berdatangan dari berbagai penjuru negeri. Mereka yang terdampak tak tanggung-tanggung turun ke jalan menyuarakan protes terhadap para elit politik yang dirasa seperti tidak bekerja. Persoalan harga minyak goreng saja para pejabat tidak mampu memberikan solusi yang solutif, justru terkesan malah sibuk menebar pesona.

Sebagaimana dilansir dari Posmerdeka.com (12/03/2022), ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) dari sejumlah wilayah di Mataram, Lombok Tengah dan Lombok Barat, menggelar aksi unjuk rasa ke DPRD NTB di Jalan Udayana, Kota Mataram, Jumat (11/03/2022). Mereka memprotes sikap DPRD NTB yang terkesan sibuk berpolitik, dan mengurus kepentingan sendiri untuk bagi-bagi kekuasaan, di saat minyak goreng langkah.

Masyarakat kini mulai mempertanyakan peran para elit politik yang memangku kekuasaan. Dimana mereka ketika rakyat terzalimi terus-terusan. Yang lebih justru miris para elit politik berubah haluan sibuk mengadakan pasar murah dan bagi-bagi minyak goreng, yang tidak menuntut kemungkinan juga menjadi pelaku penimbunan minyak goreng.

Sebagaimana dilansir dari Fajar.co.id, (09/03/2022) kelangkaan minyak goreng menyeret nama dua partai politik (parpol). Diantaranya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Diketahui PDIP telah melakukan pembagian minyak goreng hingga 10 ton. Sementara PSI telah menggelar operasi pasar murah.

Watak Asli Elite Politik Sekuler

Sederet fakta memperpanjang masalah minyak goreng yang tidak teratasi. Menuai tanya bagi kita semua, dimanakah rimbanya para wakil rakyat dan para elit politik yang dulu sebelum menjabat begitu banyak janji manis yang terlontar. Sekarang mereka seakan-akan menutup mata dari kezaliman yang menimpa rakyat, pun justru sibuk mengurusi masalah pribadi.

Tidakkah mereka memiliki simpati dan empati pada rakyat yang rela mengantri berjam-jam demi memperoleh satu liter minyak goreng dengan harga yang mampu dijangkau? Bahkan terbaru ada seorang Ibu yang sampai meninggal dunia akibat terlalu lama mengantri. Kemanakah rakyat harus mengaduh, sudahlah kezaliman demi kezaliman menimpa rakyat, dan para wakil rakyat dan elit politik pun kian menutup mata.

Demikianlah watak asli para elit politik sekuler di negeri mayoritas muslim ini. Mereka bukan sibuk mencari solusi masalah namun malah menambah beban masalah. Bagaimana tidak, di tengah kelangkaan pangan minyak goreng para elit politik justru sibuk mengadakan pasar murah dengan jumlah yang fantastis. Tidak salah jika masyarakat berspekulasi bahwa mereka turut andil melakukan penimbunan minyak goreng, sehingga kelangkaan yang terjadi di lapangan.

Jika kita menelisik, sejatinya seperti demikianlah gambaran para elit politik dalam sistem kapitalisme sekularisme. Sebuah sistem negara yang memisahkan urusan agama dari kehidupan. Sistem kapitalisme menjadikan materi dan nilai sebagai satu-satunya tujuan dalam berbuat yang telah ditanamkan sejak dini dalam keluarga, lingkungan dan sistem pendidikan. Sehingga tidak heran dari sistem ini lahir para individu-individu yang sibuk mencari materi dan nilai semata. Mereka sibuk menebar pesona untuk berkonstelasi di pemilu mendatang, hadir seolah-seolah sebagai penolong rakyat yang tengah kesulitan, namun mereka buta dengan kesengsaraan masyarakat. Kekuasaan hanya dijadikan ajang untuk meraup sebanyak-banyaknya keuntungan materi belaka.

Tidak heran pula para elit politik menebar pencitraan seolah-seolah mereka peduli pada kondisi rakyat. Padahal andai benar mereka peduli harusnya mereka bekerja ekstra membasmi para mafia minyak goreng yang menjadi penyebab kelangkaan. Namun justru faktanya mereka termasuk pelaku.

Dalam sistem ini siapa pun bebas menabrak rambu-rambunya demi melancarkan setiap kepentingannya. Mengharapkan pemimpin amanah dan berlaku adil bak pungguk merindukan bulan, peluangnya hampir tidak ada.

Dalam sistem kapitalisme, sistem ekonominya diserahkan pada persaingan pasar bebas, sehingga hanya para pemilik modal lah yang senantiasa eksis di kanca persaingan. Akibat persaingan pasar bebas ini siapapun bebas menjadi pelaku ekonomi untuk memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Sehingga tak heran akibat kebebasan inilah menjadi asal muasal munculnya berbagai problem. Tidak dapat dihindari semua orang berpeluang untuk melakukan kecurangan-kecurangan yang nyata.

Dalam sistem ini negara justru hanya sebagai regulator pembuat kebijakan semata, bukan untuk memantau persaingan pasar. Sehingga tak heran banyak muncul para mafia-mafia pelaku penimbunan barang yang justru tidak tersentuh hukum seperti para kartel. Akibat penimbunan barang ini berlaku hukum penawaran dan permintaan. Semakin sedikit penawaran maka permintaan pun semakin banyak sehingga harga barang menjadi naik.

Demikian gambaran dalam sistem kapitalisme sekuler yang sangat jauh dari sistem yang diridai Allah Swt. Lantas masihkah kita berharap pada sistem yang dasarnya saja sudah rusak?

Kembali pada Sistem Islam

Berbagai problematika yang menimpa negeri dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia bahkan untuk seluruh umat manusia, sejatinya hanya dengan kembali pada sistem Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-sunnah sebuah sistem yang dalam naungan rida-Nya. Sebab hanya Dia lah yang berdaulat untuk menetapkan hukum, bukan manusia yang notabenenya lemah dan terbatas. Sehingga setiap kebijakan dalam segala lini kehidupan dijadikan aqidah Islam sebagai landasannya. Tak heran jika sistem ini mampu eksis selama belasan abad lamanya.

Dalam sistem Islam negara memiliki kewajiban untuk menciptakan lingkungan taat bagi setiap Muslim dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan dalam pengaturan urusan masyarakat. Masyarakat dididik untuk memiliki kepribadian Islam sehingga tahu tujuan hidupnya dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya landasan dalam berbuat.

Dengan demikian akan lahir individu-individu yang bertakwa yang memahami bahwa kekuasaan yang diamanahkan di pundaknya kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, sehingga tidak akan bebas mengikuti hawa nafsuhnya. Apalagi tidak akan sibuk untuk sekedar mencari materi.

Dalam hal ekonomi Islam, kebijakan-kebijakan yang ditetapkan juga berlandaskan Islam. Negara menyerahkan mekanisme pada persaingan pasar. Setiap orang bebas menjadi pelaku ekonomi, namun tidak bebas untuk memiliki. Telah ditetapkan oleh syariat mana yang menjadi hak mikik individu, masyarakat, dan negara, sehingga tidak akan terjadi individu yang memiliki aset umum milik msyarakat, meskipun notabene nya memiliki modal yang cukup seperti yang terjadi dalam sistem ekonomi kapitalisme.

Hukum permintaan dan penawaran juga berlaku dalam sistem ekonomi Islam. Hanya saja apabila penawaran barang tinggi sementara permintaan barang rendah, maka negara bertindak untuk menyeimbangkan antara jumlah penawaran dan permintaan yakni dengan membeli barang-barang tersebut dari rakyat. Sebaliknya apabila penawaran rendah sedangkan permintaan tinggi maka negara akan menjualkan barang yang telah dibeli sebelumnya kepada rakyat dengan harga yang terjangkau.

Selain itu negara juga berperan menjaga kestabilan harga di pasar dengan menindak tegas para pelaku penimbunan, sebab syariat mengharamkan tindakan menimbun diluar untuk keperluan rumah tangga. Sehingga tidak akan terjadi lonjakan harga yang drastis. Namun, dalam sistem ekonomi Islam negara sama sekali tidak berhak mematok harga untuk setiap barang, sebab itu adalah sebuah kezaliman.

Demikianlah pengaturan Islam yang begitu komprehensif dalam segala aspek kehidupan manusia yang mampu menghantarkan manusia pada ketakwaan, ketenangan dan kesejahteraan. Wallahu a’lam bissawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button