Opini

Ritual Klenik Nusantara hingga Pawang Hujan Mandalika, Sekularisme Melanggengkan Kemusyrikan

Sudah saatnya kita menanggalkan sekularisme yang merupakan paham dari Barat tersebut untuk kembali kepada sistem Islam kafah. Yang akan menjaga akidah umat dan membasmi praktik kemusyrikan.


Oleh Nasywa Adzkiya
(Aktivis Muslimah Kalsel)

JURNALVIBES.COM – Perhelatan dunia Moto GP yang dilaksanakan di Mandalika, Indonesia tengah menjadi perhatian dunia. Bahkan media asing melalui cuitannya di sosial media ramai membicarakannya. Bukan tentang prestasi yang diperoleh Indonesia, melainkan karena adanya seorang pawang hujan. Orang ini meniadi perhatian publik karena ditampilkan dalam perhelatan moto GP tersebut.

Sebagaimana dilansir dalam sport.detik.com (21/03/2022) media internasional, menyoroti aksi pawang hujan di Mandalika tersebut. “Ketika kami sangat membutuhkannya. Terima Kasih, Dukun,” cuit akun MotoGP on BT Sport dengan menambahkan emoji kambing, simbol untuk yang terbaik sepanjang masa (GOAT).

Aneh tetapi nyata. Di zaman yang sudah modern saat ini Indonesia masih menggunakan pawang hujan untuk menangkal hujan yang dinilai primitif. Bahkan menyita perhatian publik karena aksi pawang hujan tersebut digunakan dalam perhelatan internasional. Pemerintah pun mendukung hal tersebut.

Diketahui Kemdikbud membagikan informasi mengenai tradisi pawang hujan kepada publik, lengkap dengan foto Rara. “Tahukah #SahabatDikbud jika tradisi pawang hujan ada pada banyak budaya di dunia sejak berabad yang lalu? Di Indonesia sendiri pawang hujan memiliki sebutan yang berbeda-beda di berbagai daerah,” kata akun Instagram @kemdikbud.ri dilansir Galamedia Sabtu, 26 Maret 2022.

Pendakwah Ustadz Felix Xiauw memberikan tanggapannya terkait cuitan Kemdikbud tersebut. Felix heran dengan Kemdikbud, sebab mereka masih percaya dengan pawang hujan. “Coba pikir, kalau selevel kementrian pendidikan aja udah posting begini, lalu mau diharap apa dari pendidikan Indonesia?” tuturnya dilansir Galamedia Sabtu, 26 Maret 2022.

Tidak Masuk Akal

Karena viralnya mbak Rara, ia pun diundang dalam podcast kenamaan Dedy Corbuzier. Dalam podcast tersebut mbak Rara memberikan statement yang dinilai membingungkan. Dalam podcast tersebut Rara mengatakan bahwa dia memiliki teman-teman di langit. Di langit ada AC. Rara melanjutkan bahwa dialah yang memiliki remote AC di langit.

Statement Rara ini kembali viral di media sosial. Netizen beramai-ramai membuat meme dengan foto Rara yang sedang memegang remote.
Pernyataan ini pun mengundang nyinyiran, termasuk dari pihak BMKG yang merasa tidak dibutuhkan tersebab sudah ada pawang hujan yang “menyelesaikan masalah iklim”

Sekularisme Melanggengkan Kemusyrikan

Ironis memang, di zaman modern sekarang pada level pemerintah masih melanggengkan praktek seperti ini yang merupakan praktek kemusyrikan. Bagaimana mungkin seorang manusia mampu mengendalikan iklim dengan ritual-ritual yang di luar nalar bahkan jatuh pada kemusyrikan.
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, maka salatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR Muslim)

Alih-alih dihilangkan, pejabat negara malah seperti sedang melestarikan ritual ini. Terbukti dari beberapa acara kenegaraan menggunakan ritual semacam ini. Beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi juga melakukan ritual kendi Nusantara di titik nol IKN Kalimantan Timur. Kemudian disusul dengan pawang hujan di mandalika. Bahkan prosesnya begitu detail dipertontonkan.

Begitu ironis, pejabat negara yang seharusnya terdepan menghilangkan kemusyrikan, malah menjadi pelaku dan mengajak masyarakat Indonesia untuk mengamini kelakuan mereka. Banyak pihak yang menduga bahwa keberadaan pawang hujan sebenarnya hanyalah strategi marketing agar event Moto GP ini menarik perhatian dunia.

Terlepas dari strategi marketing atau bukan, tidak sepantasnya ritual syirik yang dapat mengundang azab Allah Swt. ini dilakukan. Bagaimanapun, mempertontonkan kemusyrikan sama saja dengan mendorong masyarakat untuk makin mempraktikkan tradisi ini. Padahal, syirik adalah dosa besar yang tidak akan Allah ampuni.

Kembali pada Islam

Praktek kemusyrikan yang dipertontonkan pejabat negeri ini menunjukan bahwa telah terjadi kerusakan akidah di negeri ini akibat diterapkannya sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Sesungguhnya praktik-praktik kemusyrikan seperti ini membuat umat semakin jauh dari syariat Islam.

Sebagai firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (TQS An-Nisa: 48)

Jika sekularisme masih dipertahankan, maka praktik-praktik kemusyrikan lainnya akan terus bermunculan dan tentu hal ini akan mengundang murka Allah.

Karena itulah sudah saatnya kita menanggalkan sekularisme yang merupakan paham dari Barat tersebut untuk kembali kepada sistem Islam kafah. Yang akan menjaga akidah umat dan membasmi praktek kemusyrikan

Akidah umat akan terjaga dan rahmat Allah pun akan kita dapatkan. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button