Opini

Gen Z, Dari Depresi Menuju Resistensi

Sejarah telah mencatat bahwa generasi yang memiliki syaksiyah Islam, akan punya kepribadian Islam yang kuat. Menjadi pembela Islam yang tidak hanya faqih dalam agama tapi juga cakap dalam bidang keilmuan, teknologi dan kepemimpinan


Oleh. Sulistijeni
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Tingginya tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas hari ini membuat Gen Z banyak yang mengalami depresi. Akan tetapi mereka lebih terbuka pada kesehatan mental mereka, karena  bagian penting dari kesejahteraan secara menyeluruh. Hal ini ditunjukkan dengan kesadaran dalam merespon emosional mereka dengan cara mendatangi layanan konseling, terapi, minum obat, dan cara lainnya.

Sebagaimana yang dirilis data.goodstats pada (8/4/2026) 60% Gen Z cemas akan masa depan, akan tetapi mereka lebih terbuka untuk mencari bantuan profesional buat kesehatan mentalnya.

Faktor pemicu depresi sangat beragam, seperti pengaruh medsos, ketidakpastian karir, tekanan sosial, kondisi global dan lain-lain. Dari data didapatkan kecemasan terhadap masa depan 60%, tekanan finansial 57 persen, ekspektasi sosial 42 persen, merasa tidak berdaya atas situasi di luar kendali 36% (goodstats, 8/4/ 2026)

Fenomena ini menggejala di seluruh dunia, apalagi menyangkut dengan ketidakpastian karir dan masa depan membuat Gen Z bersikap lebih skeptis. Hal ini bisa menghambat tumbuh kembang generasi sebagai penerus bangsa dalam mewujudkan visi Indonesia emas di tahun 2045.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh atau 14,3% anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, dan menyumbang 15% dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. (kompas,18/6/ 2026).

Namun dengan adanya kondisi ini muncul adanya gelombang resistensi.. Hal ini karena didasari atas kekecewaan yang terakumulasi dan diprediksi akan menjadi titik balik kebangkitan bagi generasi yang kerap sekali dianggap rapuh ini.

Faktor utama yang menjadi pemicu kecemasan pada diri Gen Z adalah adanya krisis multimedia yang melanda dunia dewasa ini. Dengan perkembangan teknologi digital bisa mengubah segala aspek kehidupan, misalnya dalam hal berinteraksi, membangun identitas diri dan juga memaknai emosi yang dialami. Apalagi dunia digital yang merupakan bagian integral kehidupan sehari-hari bagi Gen Z, misalnya dalam pembelajaran daring, komunikasi, ekspektasi sosial bahkan sampai standar pencapaian bisa mereka dapatkan.

Sebagaimana yang disampaikan A.P Regita C. Firdaus selaku akademisi, penulis, dan peneliti muda atas perilaku Generasi Z di era digital. Dengan kebebasan informasi digital ini akan memunculkan tekanan psikolosi yang halus dan terus-menerus yang bisa mempengaruhi kesehatan mental bagi Gen Z.

Hal tersebut disebabkan karena adanya peradaban sekuleristik dan kapitalistik, sehingga menjadikan potensi Gen Z sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri mereka. Juga akibat karena memisahkan agama dari kehidupan menjadikan mereka berbuat sesuka hati mereka, dan mengukur kesuksesan dari banyaknya materi, penampilan dan validasi semu.

Hal ini diperparah oleh abainya riayah negara terhadap generasi hari ini. Alih-alih dirangkul, justru banyak generasi muda hari ini justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Selain abai, negara hari ini juga membiarkan generasi mudanya berjuang sendirian di tengah ketidakpastian. Rapuhnya tatanan dunia menjadikan generasi sekarang krisis multimedimensi, generasi terpuruk, depresi dan banyak yang mengalami krisis mental.

Negara yang seharusnya menjadi pengurus, pelindung dan penjaga agar generasi tidak semakin hancur malah tidak peduli.

Akan tetapi di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bisa bangkit menuju kondisi yang lebih ideal. Dengan banyaknya kekecewaan yang terakumulasi menjadikan titik balik akan kebangkitan bagi Gen Z yang kerap dianggap rapuh. Dibalik kekecewaan dan kecemasan mereka akan masa depan, ada penolakan terhadap kerusakan. Ini bisa menjadi modal dasar untuk membongkar kebobrokan kapitalis yang gagal memanusiakan manusia. Sistem yang hanya menjadikan manusia sebagai mesin penggerak, yang diberdayakan untuk menguntungkan segelintir pemilik modal yang tidak memberikan ruang bagi Gen Z untuk menjadi manusia yang ideal.

Sangat berbeda dengan Islam yang menjadi pandangan hidup sebagai ideologi. Islam punya pandangan yang komprehensif dalam mengatasi krisis multidimensi di dunia. Islam punya solusi untuk menyelesaikan krisis yang melanda dunia hari ini. Karena dengan penerapan Islam akan mendatangkan rahmatan lil alamin, bisa membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia. Dengan penerapan Islam secara kafah dalam kehidupan maka akan banyak pemuda yang tidak stres, cemas, gelisah, was-was dan kekawatiran akan kehidupan dimasa datang.

Sejarah telah mencatat bahwa generasi yang memiliki syaksiyah Islam, akan punya kepribadian Islam yang kuat. Menjadi pembela Islam yang tidak hanya faqih dalam agama tapi juga cakap dalam bidang keilmuan, teknologi dan kepemimpinan. Sebagaimana Muhammad Al-Fatih sebagai sosok pemuda yang berkarakter kuat dan menjadi generasi hebat di masa kejayaan Islam. Berkepribadian Islam, cakap dalam berbagai bidang keilmuan dan tangguh dalam membela Islam dan menjadi sosok pemimpin yang tangguh dan bertanggung jawab.

Islam juga membutuhkan kehadiran negara, yang diperlukan sebagai pelindung, pelayan umat, dan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Di mana negara yang memposisikan sebagai pelayan umat, mengurusi, melindungi dan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup rakyat.

Negara juga wajib untuk memberikan jaminan ekonomi, keamanan, kesehatan dan menjaga jiwa dengan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya secara adil. Negara berkewajiban untuk menyadarkan pemuda agar mengemban mabda Islam, yang dimana masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan dan membentuk generasi sebagai pelopor peradaban. Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan diterapkannya Islam secara kafah dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bi as-shawab

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz

Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button