Opini

Kapitalisme Menghilangkan Fitrah Anak-anak

Sistem Islam menjaga fitrah anak, dan menjadikannya generasi berkualitas, yang selalu produktif dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Standar perbuatannya berdasarkan halal dan haram, yang merupakan cerminan dari kuatnya keimanan kepada Allah Swt.


Oleh Desy Purwanti
(Aktivis Dakwah)

JURNALVIBES.COM – Kasus perundungan anak hingga hari ini masih saja terjadi. Bahkan, angkanya semakin meningkat. Sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu di Tasikmalaya. Ada seorang anak sekolah dasar yang dipaksa temannya untuk menyetubuhi kucing, hingga akhirnya depresi dan meninggal dunia.

Dikutip dari halaman kompas.tv, “Di Hari Anak Nasional, Presiden Joko Widodo menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya seorang siswa di Tasikmalaya, yang menjadi korban perundungan. Menurut Jokowi, kasus perundungan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Hal ini disampaikan presiden usai menghadiri puncak Perayaan Hari Anak Nasional di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

Butuh kerja sama dari orang tua, sekolah, tenaga pendidik, hingga masyarakat mencegah terulangnya kasus perundungan. Presiden berharap semua elemen dapat menjaga dunia bermain anak dari perundungan.

Polisi sedang mendalami peristiwa perundungan di Tasikmalaya yang menyebabkan kematian bocah berusia 11 tahun. 15 orang diperiksa termasuk keluarga korban dan anak-anak yang berada di lokasi perundungan. Bukan hanya pihak yang melakukan perundungan, tapi polisi juga memeriksa pihak perekam hingga pengunggah video. Polisi berhati-hati menyelesaikan kasus ini karena melibatkan anak di bawah umur.

Peristiwa tersebut sungguh ekstrem. Anak-anak yang seharusnya fokus menuntut ilmu di bangku sekolah, justru menjadi pelaku perundungan yang menyebabkan si korban meninggal. Padahal usia mereka masih di bawah umur.

Fakta di atas menunjukkan cara pandang seseorang yang lahir dari sistem kapitalisme. Sebuah sistem yang akidahnya sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Mereka percaya bahwa Allah itu ada, Allah yang menciptakan manusia, tetapi aturan Allah tidak boleh mengatur kehidupan manusia. Maka, mereka membuat aturan sendiri.

Oleh karena itu, lahirlah generas-generasi yang hidupnya bebas tanpa aturan syari’at Islam. Tingkah laku mereka tidak mencerminkan seorang Muslim, melainkan bertindak dengan semena-mena hingga menghilangkan nyawa seseorang.

Sungguh miris, moral generasi hari ini di tengah gempuran sistem kapitalisme yang rusak dan merusak. Pendidikan di sekolah tidak mampu menanamkan nilai-nilai agama Islam secara menyeluruh yang mampu diamalkan di dalam kehidupan.

Selain itu, media sosial juga berpengaruh besar. Anak-anak yang lepas dari pengawasan orangtua akan bebas menyaksikan tontonan dan mengikuti trend masa kini. Alih-alih biar viral, tetapi berujung tindak amoral. Demikianlah kerusakan sistem kapitalisme yang telah menghilangkan fitrahnya anak-anak untuk berbuat kebaikan.

Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam yang menjaga fitrah anak, dan menjadikannya generasi berkualitas, yang selalu produktif dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Standar perbuatannya berdasarkan halal dan haram, yang merupakan cerminan dari kuatnya keimanan kepada Allah Swt.

Hal itu hanya dapat dilahirkan dalam tatanan negara yang melindungi anak secara menyeluruh dan komprehensif, baik jasmani maupun rohani, termasuk menjaga peran fitrah seorang perempuan sebagai ibu generasi.

Negara yang memiliki keselarasan antara tujuan dan kebijakannya dalam melindungi anak baik fisik, mental, spiritual dan sosial. Negara tersebut ialah khilafah Islamiah yang menerapkan syariat Islam secara kafah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button