Opini

Persatuan Umat dalam Haji Akankah Menjadi Persatuan Hakiki?

Paham kesukuan dan kebangsaan melahirkan cara pandang yang dangkal dalam mempersatukan umat Islam. Karena paham ini hanya memandang kesetiaan pada warna kulit dan warna duit.


Oleh Yenni Sarinah, S.Pd.
(Jurnalis Riau)

JURNALVIBES.COM – Persatuan umat ibarat obat yang amat mujarab bagi perwujudan cita-cita mulia umat Islam dunia yaitu mengembalikan kehidupan Islam. Haji adalah salah satu cara dipertemukannya umat Islam sedunia dalam bingkai akidah yang satu, yaitu akidah Islam dan perasaan yang sama yaitu sama-sama mengakui bahwa Allah Swt. sebagai Rabb semesta alam dan Rasulullah saw. sebagai manusia terbaik yang menjunjung budi pekerti mulia lagi benar dalam menyampaikan kabar gembira.

Sejak diruntuhkannya daulah Islam terakhir, Daulah Turki Utsmani pada 3 Maret 1924 Masehi silam tentu persatuan umat ini menjadi kerinduan terbesar umat Islam yang kini dijarah hartanya dan kian parah jiwanya dalam menanggung derita. Namun, kenyataan berbicara sebaliknya. Sungguh menjadi paradoks yang sangat memilukan, mereka berkumpul setiap tahunnya menghadap Rabb yang esa dari ajaran yang dibawa Muhammad saw., namun tak memberi dampak positif bagi kebaikan umat Islam di seluruh dunia.

Berkumpul sekadar melaksanakan ibadah haji secara ritual semata, terlihat banyak namun tidak menunjukkan mereka layak menjadi pionir yang mampu mengembalikan kehidupan Islam. Sedih yang amat dalam, lemah bak buih di lautan. Banyak tapi tak berpihak kondisi umat yang kian melarat. Hal ini mengingatkan pada sejarah ketika persatuan umat disekat dengan adat istiadat. Sebagaimana paham Arab jahiliyah dulunya. Kental akan paham kesukuan dan kebangsaan. Bersekutu, namun tak jua maju. Begitupun dengan kondisi umat Islam di negeri-negeri Islam lainnya. Dipalu dengan sekat nasionalisme dan tak lagi memiliki rasa malu ketika meninggalkan Islam beserta sistem yang melekat padanya.

Paham kesukuan dan kebangsaan ini melahirkan cara pandang yang dangkal dalam mempersatukan umat Islam yang banyak ini. Karena paham ini hanya memandang kesetiaan pada warna kulit dan warna duit. Lain halnya dengan ikatan akidah yang dijadikan oleh Islam sebagai pengikat setiap yang memiliki jiwa untuk melampaui batas ras maupun wilayah. Pengikatan jiwa atas nama akidah menjadi pengikat yang berlandaskan pada kebenaran (al-Haq) bukan ketenaran apalagi kekuasaan yang memperbudak manusia.

Awal Madinah berdiri, Rasulullah saw. menawarkan Islam dengan menjadikan akidah Islam sebagai pengikat telah berhasil mempersaudarakan Shuhaib ar-Rumi dari bangsa Arab yang pernah menjadi budak di Romawi (Bizantium) dengan Salman al-Farisi dari bangsa Persia (Iran) dan kisah keduanya ini menjadi simbol pemersatu bangsa Romawi dan Persia kala itu.

Tidak hanya itu, Kaum Aus dan Khazraj juga disatukan dalam perjanjian aqabah dengan ikatan akidah yang indah, yang kemudian mereka disebut sebagai kaum Anshar yang bersatu menyebarkan Islam bersama Rasulullah saw. di Yatsrib (Madinah). Ikatan akidah ini pun mampu menyatukan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin yang hijrah dari Mekkah ke Madinah yang kemudian menjadi cikal bakal utuh kekuatan Islam dalam daulah Islam pertama yang bernama Madinah al-Munawwarah pada tahun 622 Masehi. Daulah ini menjadi titik sentral dakwah dalam melakukan futuhat ke berbagai bagian bumi lainnya untuk menyebarluaskan Islam.

Tidakkah kita rindu untuk menjadi umat yang kuat, umat yang taat, umat yang bermartabat? Jika kerinduan ini tidak hadir dalam relung hati kita yang paling dalam, sudah selayaknya kita pertanyakan pada diri kita tentang untuk apa kita di dunia ini diciptakan? Apakah sekadar menjadi jiwa yang memiliki otak tapi tak mampu menggerakkan? Ataukah kita hadirkan diri ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari cita-cita besar umat untuk mengembalikan kejayaan Islam yang dulu pernah ada? Semua tanya ini hanya bisa dijawab dengan iman dan ilmu. Bukan dengan jiwa yang ragu dan berdiam bungkam menunggu. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button