SDA Melimpah, Afghanistan Diperebutkan Penjajah

Karena itu jika kaum Muslimin ingin kembali berdaulat tanpa intervensi asing, bebas mengurusi negara dan SDA secara mandiri, bahkan menjadi adidaya maka kembali pada sistem Islam adalah solusinya.
Oleh Amaliyah Krizna Waty
JURNALVIBES.COM – Setelah 20 tahun di bawah intervensi Amerika Serikat. Pertengahan Agustus lalu tepatnya 15 Agustus 2021 Taliban berhasil mengambil alih penguasaan negaranya dari cengkraman AS. Namun demikian tampaknya AS tidak melepaskan Afghanistan begitu saja. Mengingat telah disepakati perjanjian damai di Doha 2020 lalu mengakhiri invasi AS yang telah dimulai pada 11 September 2001 yang memakan korban puluhan ribu dan kerugian yang ditaksir mencapai 2 triliun dollar AS atau sekitar Rp28,6 kuadriliun (kompas.com, 01/03/2020).
Tidak hanya AS, Cina dan Rusia pun tampak sangat bernafsu ingin menduduki dan menguasai Afghanistan. Terlihat dengan keputusan Cina dan Rusia yang tetap membuka kedutaannya di sana (cnbcindonesia.com, 28/08/2021). Mereka sebagai negara eksploitatif saling berebut pengaruh di negeri kaya minyak tersebut.
Jika ditelisik lebih dalam, sumber daya alam Afghanistan memang sangat melimpah. Bukan hanya minyak, tetapi di sana juga ditemukan emas, perak, plutonium, sejumlah besar uranium, tantalum, bauksit, gas alam, garam, batu logam, tembaga, perak, kromium, timah, bedak, belerang, batu bara, barit, dan seng. Diperkirakan total nilai tambang dan SDA Afghanistan adalah US$ 1.000 miliar atau setara dengan Rp14.388 triliun (finance.detik.com, 16/08/2021). Menurut laporan British Petroleum, Afghanistan mampu menghasilkan minyak dengan kapasitas yang diperkirakan dari 250 hingga 300 barel per hari sehingga memungkinkan Afghanistan meraih US$ 9 miliar dan US$ 100 juta per tahun dari sumber daya tersebut (finance.detik.com, 16/08/2021).
Negara mana pun pasti tergiur dengan nilai fantantis SDA tersebut. Pantas negara-negara kapitalis berlomba-lomba menancapkan ‘kuku’ di Afghanistan. Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr. Dina Yulianti Sulaeman, mengatakan “Dalam setiap konflik, selalu ada aktor eksternal dan setiap negara akan berusaha meraih kepentingan nasional masing-masing. Ini teori dasar di studi Hubungan Internasional.
Tentu saja Cina atau Rusia dll akan mencari yang terbaik untuk negara mereka sendiri (untuk kepentingan mereka sendiri). Misalnya Cina, ketika melihat peluang ekonomi, apalagi ada rare earth di Afghanistan yang nilainya triliunan USD, pasti akan berupaya mengejar itu,” (gatra.com, 25/08/2021).
Negara-negara kapitalis Barat dan Timur memang telah berhenti atau berupaya berhenti melakukan penjajahan fisik terhadap sebuah wilayah untuk mengekploitasi SDA yang ada di dalamnya. Namun penjajahan SDA itu sendiri masih terus digencarkan. Seperti yang diungkapkan oleh asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, David Stilwell, bahwa aksi agresif dan ekspansi China di Laut China Selatan mirip dengan gaya perusahaan kolonial Inggris, East India Company (EIC), yang menjajah bangsa lain dan mengambil sumber daya alam wilayah yang dikuasai (cnnindonesia.com, 15/07/2020).
Ungkapan ini sebenarnya ibarat satu jari menunjuk orang lain, empat jari lainnya menunjuk diri sendiri, yakni negeri Stilwell itu sendiri, karena AS pun tak mau turun dari panggung perebutan Laut Cina Selatan. Kini Afghanistan berada pada posisi diperebutkan oleh para penjajah.
Keadaan Afghanistan yang notabenenya adalah negeri dengan mayoritas kaum muslimin, seperti yang pernah digambarkan Rasulullah dalam satu hadis yang artinya, “Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya’. Mereka berkata : Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah ? Beliau menjawab : ‘Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn’. Mereka berkata : Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rasulullah?. Beliau menjawab :’Cinta dunia dan takut akan mati” (HR. Abu Daud).
Nampaknya kaum Muslimin secara keseluruhan tengah berada di posisi apa yang Rasulullah sabdakan. Sebab bukan hanya Afghanistan, negeri-negeri kaum Muslim yang lain pun tidak jauh berbeda. Sama-sama sedang berada di bawah cengkeraman barat dengan penjajahan SDA. Memiliki SDA melimpah, namun di bawah kuasa penjajah.
Tak bisa dipungkiri kaum Muslimin saat ini memang berada pada kondisi lemah. Meski berjumlah besar, namun seperti buih di lautan yang begitu mudah dikacaukan oleh para penjajah. Hal ini tidak terlepas dari ketiadaan institusi Islam yang menyatukan kekuatan kaum Muslimin, yakni Khilafah. Sejak keruntuhan Khilafah 3 Maret 1924 lalu, kaum Muslimin terpecah-pecah menjadi puluhan negara dan di beberapa wilayah tertentu didalamnya sering terjadi konflik sehingga menjadi pintu masuknya pengaruh barat dengan dalih mengamankan, namun berujung pada penguasaan.
Di sisi lain pasca runtuhnya Khilafah dan eksisnya negara barat dengan ideologi kapitalisme sekuler yang terus diinvasi ke negeri kaum Muslimin, telah menjadikan negeri kaum Muslimin juga menganut ideologi yang sama. Hingga akhirnya pemahaman Islam kaum Muslimin yang ada di dalam negeri tersebut telah berhasil diporak-porandakan.
Kaum Muslimin terjerat paham sekularime, yang memisahkan agama dengan politik dan juga negara. Pemahaman inilah yang membuat kaum Muslimin jatuh pada jurang kemunduran dan terus menjadi bulan-bulanan para penjajah.
Oleh karena itu, jika kaum Muslimin ingin kembali berdaulat tanpa intervensi asing, bebas mengurusi negara dan SDA secara mandiri, bahkan menjadi adidaya maka kembali pada sistem Islam adalah solusinya. Kaum Muslimin harus berpegang teguh pada agamanya pada syariat yang telah begitu sempurna Allah turunkan untuk mengatur kehidupan Individu, masyarakat dan negara.
Sebagaimana hadis Rasulullah yang artinya, “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian yang selama kalian berpegung teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat, yaitu Kitabullah dan Sunnahku” (HR. Muslim).
Jika Barat berpegang teguh pada ideologi kapitalisme sekulernya, maka kaum Muslimin harus berpegang teguh kepada Islam. Sebab Islam bukan agama ritual, Islam merupakan ideologi yang memancarkan peraturan-peraturan hidup termasuk bernegara. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dahulu. Madinah, negara yang didirikan oleh Rasulullah saat itu, yang awalnya dipandang gurun pasir biasa oleh peradaban Persia dan Romawi berubah menjadi pemegang peradaban tertinggi dunia. Bahkan Persia pun akhirnya ditaklukkan.
Negara itulah yang kemudian diteruskan oleh para sahabat dan kaum Muslimin yang bertahan hingga belasan abad lamanya. Selama negara itu berdiri yakni khilafah, tidak pernah ada satu wilayah pun dari negeri kaum Muslimin yang bisa dijamah oleh Barat. Sebagaimana lekat diingatan kita, bagaimana Khalifah Abdul Hamid II yang menjaga Palestina dengan penjagaan yang membuat barat tak berani berkutik. Wallahu a’lam bisshawab.[]
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






