Opini

Islamofobia India dan Kebutuhan Terhadap Khilafah

Kondisi kaum muslim di India yang minoritas saat ini sangat berharap akan hadirnya kehidupan yang adil, tenang, dan sejahtera. Semua itu bisa terwujud dengan diterapkannya Islam kafah dalam naungan khilafah. Dengan adanya khilafah, kaum muslim akan terjaga dan dijauhkan dari islamofobia.


Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Beberapa sekolah di negara bagian Karnataka, India Selatan, melarang siswa Muslim yang berhijab untuk ke sekolah. Hal ini memicu adanya protes pelajar Muslim India selama berminggu-minggu, dengan melakukan aksi unjuk rasa. Setelah kejadian unjuk rasa pemerintah Karnataka mengeluarkan perintah untuk menutup sekolah dan perguruan tinggi selama tiga hari. Ini merupakan bentuk respon dari negara yang menanggapi beberapa sekolah yang menolak muridnya memakai hijab, agar tidak masuk sekolah. (suara.com, 10/2/2022)

Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI, Anwar Abbas menyesalkan larangan penggunaan hijab di beberapa lembaga pendidikan di India. Tindakan tersebut dinilai sebagai islamofobia bagi umat muslim di sana. (news.okezone.com, 9/2/2022)

Sejak dilarangnya penggunaan hijab ke sekolah, para siswa muslim di salah satu perguruan tinggi yang dikelola pemerintah di Distrik Udupi, di negara bagian Karnataka, India Selatan, tidak diijinkan untuk masuk kelas. Menurut aturan administrasi, siswa yang mengenakan hijab dianggap telah melanggar aturan dan hijab bukan merupakan seragam sekolah.

Siswa muslim yang dilarang menggunakan hijab langsung mengatakan kepada Al Jazeera, bahwa hijab adalah bagian dari iman mereka. Menggunakan hijab merupakan hak mereka dan salah satu bagian dari perintah agama. Mereka juga mengatakan bahwa, larangan pemerintah Karnataka pada siswa muslim untuk mengenakan hijab adalah sebagai bentuk tekanan dan paksaan bagi siswa muslim di India.

Protes para siswa muslim tersebut telah membuat marah administrasi perguruan tinggi dan pihak kampus. Para siswa dipaksa untuk membuat surat pernyataan, agar mereka tidak masuk kelas dan tinggal di rumah. Namun ada salah satu siswa yang ingin agar permasalahan ini diketahui oleh seluruh dunia, bahwa mereka telah menghadapi penghinaan dan diskriminasi karena dilarang menggunakan hijab di tempat sekolah mereka.

Larangan memakai hijab di sekolah kedinasan tersebut telah memicu kemarahan muslim di India. Aktivis mahasiswa dan kelompok hak asasi menuduh bahwa administrasi perguruan tinggi bias terhadap minoritas muslim. “Ini adalah islamofobia. Itu apartheid,” kata aktivis Afreen Fatima, sekretaris Gerakan Persaudaraan di New Delhi, kepada Al Jazeera.

Partai oposisi dan kritikus di India juga menuduh jika pemerintah di tingkat federal dan negara bagian telah melakukan diskriminasi terhadap agama minoritas, dan hal ini bisa berisiko memicu kekerasan.

Pengadilan Tinggi Karnataka juga sedang mempertimbangkan persoalan menentang larangan berhijab tersebut. Menteri pendidikan, Karnataka SM Nagesh, juga memerintahkan bahwa aturan berpakaian sekolah ditetapkan setelah meninjau keputusan pengadilan dari seluruh negeri. Aturan itu di antaranya melarang siswa untuk mengenakan hijab di lembaga pendidikan. Pemerintah Karnataka juga merespon bahwa populasi muslim yang hanya 12% di perguruan tinggi tersebut, harus mengikuti aturan berpakaian yang ditetapkan oleh manajemen.

Larangan hijab di sekolah India ini adalah bagian dari bukti kekejaman rezim islamofobia India terhadap muslim. Rezim penguasa dari partai radikal Hindu tersebut makin banyak mengeluarkan kebijakan anti Islam. Bagi siapa saja yang menentang larangan hijab tercatat telah merusak sekularisme. Dengan pelarangan ini menyoroti potensi isolasi dan marginalisasi umat muslim.

Perdana Menteri India, Narendra Damodardas Modi yang juga sebagai pemimpin Partai Bharatiya Janata (BJP) perlahan-lahan berusaha untuk memisahkan umat Islam dari agamanya. Hal ini semakin menambah kegelisahan umat Islam yang minoritas di India, karena menurut mereka India adalah sebuah negara multikultural yang memiliki jaminan kebebasan beragama dan tercantum dalam konstitusi.

Sejak peristiwa 9 September yang dimotori oleh Amerika, Islam terus menerus menjadi sasaran tuduhan dan diskriminasi. Media Barat terus menarasikan Islam secara negatif, dan membuat stigma yang buruk terhadap Islam. Seperti larangan mengenakan hijab bagi perempuan muslim, mengalami penyerangan, diskriminasi, dan pelecehan akibat islamofobia. Umat Islam yang menjalankan Islam kafah, dinilai menumbuhkan benih ekstremisme dan terorisme. Dianggap telah membuka peluang menjadi sosok radikal dan ekstrimis.

Ajaran Islam dipermasalahkan, seperti menggunakan hijab bagi perempuan. Apalagi perlakuan terhadap muslim minoritas sangat nampak sekali, seperti penindasan, penganiayaan, bahkan pengusiran terhadap muslim hanya karena identitas keislaman mereka.

Sementara itu umat muslim di India pada posisi membutuhkan perhatian dan bantuan dari dunia, juga sesama muslim. Berharap bantuan dari PBB, karena seolah memerangi islamofobia dan berpihak pada Islam. Juga menolak segala bentuk rasisme dan diskriminasi terhadap muslim. Namun pada kenyataanya para anggotanya adalah yang memproduksi islamofobia, yang tidak mungkin akan memerangi islamfobia. Negara penjaga perdamaian dunia tersebut justru melanggar hak asasi dan kebebasan berkeyakinan. Begitu juga tidak bisa berharap bantuan pada negara dan saudara sesama muslim, karena mereka berada di bawah cengkeraman dan tekanan para kapital.

Di negara demokrasi kapitalis sangat menentang keras kepada muslim yang menjalankan syariat Islam secara kafah. Apabila Islam hanya dijalankan dalam hal ibadah akan dibiarkan, tetapi apabila Islam berpolitik mereka akan melarang. Kebangkitan Islam sangat ditakutkan, karena akan mempengaruhi eksistensi dan hegemoni ideologi kapitalisme. PBB sendiri sebagai lembaga yang memelihara perdamaian dunia, realitasnya tidak mampu mengontrol negara anggotanya sendiri untuk tidak melakukan praktik islamofobia. Tidak bisa menjatuhkan sanksi bagi negara yang mendiskriminasi umat Muslim.

Sejauh ini PBB hanya sebatas mengecam dan menolak, tidak yang membawa pengaruh bagi kaum muslim yang tertindas dan tidak berpihak kepada Islam. Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an yang artinya, “Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat lagi” (TQS Ali-Imran [3]: 118).

Bahwasanya kebencian dan permusuhan yang tersimpan di dada mereka, membuat mereka bersikap nyinyir terhadap berbagai ajaran Islam seperti melarang berhijab bagi kaum perempuan muslim.

Kondisi kaum Muslim di India yang minoritas saat ini sangat berharap akan hadirnya kehidupan yang adil, tenang, dan sejahtera. Semua itu bisa terwujud dengan diterapkannya Islam kafah dalam naungan khilafah. Dengan adanya khilafah, kaum Muslim akan terjaga dan dijauhkan dari islamofobia.

Kebutuhan akan khilafah yang akan menjadi junnah/perisai bagi kaum muslimin dalam menghadapi teror, serangan musuh-musuh Islam dan islamofobia. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button