Gerakan Moderasi Dibalik Program Ngaji Kebangsaan

Program ngaji kebangsaan hanya akan menjauhkan umat dari Islam. Padahal keselamatan dan kedamaian hanya bisa didapatkan jika Islam diterapkan secara benar, tidak tercampur dengan ide kufur dan kesyirikan, tidak ada bias dalam memaknai ajaran Islam, dan hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem yang mengatur secara menyeluruh.
Oleh Lia Sholehah
(Aktivis Muslimah Muda)
JURNALVIBES.COM – Kementerian Agama RI meluncurkan program Ngaji Kebangsaan untuk mengisi peribadahan pada bulan Ramadan hingga Idul Fitri 1445 H. Program ini mengusung tema “Beda tapi bersaudara” yang dilaksanakan di berbagai kantor wilayah, Kalsel salah satunya.
Menurut penuturan Dr H Muhammad Tambrin, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, program ini akan mengundang tokoh lintas agama, ormas keagamaan, dan media-media lokal untuk mengadakan buka puasa bersama dalam rangka memperkuat hubungan silaturahmi dan rekonsiliasi pasca pemilu 2024. Beliau juga mengatakan bahwa di dalam program ini juga ada himbauan dalam menghadapi potensi perbedaan awal Ramadan dan Syawal. (Antarakalsel, 28/02/2024).
Program ini bukanlah kali pertama dilaksanakan. Beberapa tahun belakangan ini sudah banyak perguruan tinggi hingga pondok pesantren melaksanakan program tersebut. Program ini juga dibuka untuk umum. Seperti halnya pada 2018, saat Luqman Hakim masih menjabat sebagai menteri Agama, mengusung tema “Kita Berindonesia, Kita Berbudaya” di UIN Walisongo Muhibbin, Semarang. Dilaksanakan guna mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan. (Kemenag, 20/04/2018).
Sekilas program yang mereka buat tampak seperti kebaikan untuk bangsa ini, dengan dalih demi persatuan dan perdamaian. Namun jika ditelisik lebih dalam lagi, program yang diluncurkan tersebut guna untuk mensukseskan moderasi beragama, yang selama ini dianggap sebagai cara beragama sesuai tuntunan, padahal moderasi beragama adalah agenda yang menyesatkan, jauh dari kebenaran.
Terdapat empat pilar utama dalam moderasi beragama, yakni komitmen kepada nilai kebangsaan, menjaga toleransi terhadap perbedaan keyakinan, penolakan segala bentuk kekerasan baik fisik atau verbal yang mengatasnamakan agama, dan menjaga kearifan lokal.
Pilar tersebut sarat akan makna yang mengaburkan ajaran Islam. Komitmen kebangsaan yang mereka maksud, jika maknanya adalah umat harus memiliki sikap nasionalisme, maka ini bentuk kesalahan besar. Karena nasionalisme adalah ide yang berasal dari luar Islam, lahir dari peradaban sekuler. Sejarah mencatat bahwa ide tersebut mampu meruntuhkan negara pemersatu umat, yang akhirnya menjadi negara yang terpecah-pecah dan lemah.
Jika yang mereka maksud adalah bentuk cinta terhadap tanah air, maka cinta yang sebenar-benarnya adalah menyelamatkan negeri dari paham sekulerisme, menjauhkan diri dari penjajah neo-liberlisme, bukan malah sebaliknya.
Kemudian menjaga toleransi terhadap perbedaan keyakinan, ini juga paham yang menjerumuskan. Karena toleransi yang hari ini mereka rumuskan, adalah toleransi kebablasan, penuh dengan pluralisme. Sebagaimana adanya pembolehan pengucapan selamat natal, pernikahan beda agama, doa lintas agama, dan berbagai agenda lainnya yang mengingkari Q.S Al-Kafirun ayat ke-6. Tentu Islam juga mengajarkan toleransi, yakni membiarkan umat lain pada peribadahannya, dan tidak ikut dalam peribadahan mereka. Toleransi yang diajarkan di dalam Islam tidaklah sama dengan toleransi yang mereka maksud.
Penolakan terhadap kekerasan baik fisik ataupun verbal yang mengatasnamakan agama sekilas tampak baik, namun sebenarnya standarnya tidak jelas. Kekerasan yang mereka maksud apakah seperti penyerangan, penjajahan, penyalah gunaan wewenang, teror bom, perusakan tempat peribadahan umat agama lain, jika iya maka itu sesuai dengan Islam, karena Islam tidak mengajarkan demikian.
Namun jika kekerasan yang mereka maksud adalah jihad fi sabilillah, yakni medan perang yang dipimpin oleh pemimpin negara Muslim, dengan tujuan untuk membebaskan kezaliman yang membelenggu umat Muslim, atau kekerasan verbal yang dimaksud adalah dakwah untuk penerapan syariah Islam, seperti fitnah yang mereka tuduhkan selama ini kepada para pejuang Islam, maka ini adalah agenda yang menyesatkan. Hanya akan membuat kaum Muslim asing dengan ajarannya sendiri.
Selanjutnya menjaga kearifan lokal. Mereka menghimbau agar setiap budaya atau adat istiadat harus terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi-generasi baru. Padahal banyak sekali budaya atau adat istiadat yang sarat akan kesyirikan. Misalnya budaya di Kalsel, salah satunya yakni mengikatkan benang hitam di jari kaki bayi seperti cincin, dengan anggapan bahwa bayi akan jauh dari marabahaya jika benang tersebut dipakaikan. Ini adalah bentuk kesyirikan besar, selain tidak ada anjurannya di dalam Islam, budaya ini juga membuat umat merasa dilindungi oleh benda-benda tertentu, bukan lagi merasa dilindungi oleh Allah.
Demikian empat pilar utama moderasi beragama yang sudah diuraikan di atas, dari sini sudah jelas bahwasanya agenda moderasi beragama dengan program ngaji kebangsaan hanya akan menjauhkan umat dari Islam. Padahal keselamatan dan kedamaian hanya bisa didapatkan jika Islam diterapkan secara benar, tidak tercampur dengan ide kufur dan kesyirikan, tidak ada bias dalam memaknai ajaran Islam, dan hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem yang mengatur secara menyeluruh.
Tidak pantas seorang Muslim menjadikan Islam moderat sebagai sikap yang diambil, atau menjadikan ngaji kebangsaan sebagai program pemersatu bangsa. Justru hari ini umat hanya perlu penerapan Islam secara menyeluruh agar bisa bersatu dan kuat, mewujudkan kesejahteraan bangsa. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by bing.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






