Islamofobia Menjangkit Intelektual

Menganut sistem demokrasi tidak akan menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Sebab demokrasi lahir dari akal manusia yang terbatas, sehingga gagal menjamin perlindungan beragama bagi pemeluknya.
Oleh Desy Purwanti
(Aktivis Dakwah Kampus)
JURNALVIBES.COM – Intelektualitas ternyata tidak berbanding lurus dengan sikap yang baik. Seseorang yang bergelar profesor, menjabat sebagai rektor salah satu kampus di Kalimantan, membuat gaduh dengan tulisannya di media sosial.
Dikutip dari solopos.com, Rektor Institut Teknologi Kalimantan atau ITK, Budi Santosa Purwokartiko, sedang menjadi sorotan akibat menyebut mahasiswi berjilbab dengan istilah manusia gurun. Ucapannya itu pun dinilai rasis karena memuat unsur SARA.
Prof Budi Santosa adalah putra daerah Klaten, Jawa Tengah. Dia lahir di Klaten, 12 Mei 1969.
Dia merupakan alunmnus Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1992. Dia kemudian meraih gelar master dan doktor dari University of Oklahoma, Amerika Serikat.
Postingan tersebut tentu mengandung kontroversi yang ditunjukkan dengan melabeli mahasiswi yang berjilbab dengan sebutan manusia gurun. Padahal, Indonesia merupakan negeri dengan mayoritas Muslim terbesar. Namun, tidak membuat umat Islam mendapat ketenangan dan kenyamanan dalam menjalankan syari’atnya. Syari’at Islam senantiasa dilecehkan, bahkan oleh kalangan intelektual.
Serangan demi serangan ini merupakan hasil dari konsep kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi. Dengan berlindung dibalik kebebasan untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi, kaum sekuler liberal begitu berani dan terbuka menunjukkan ketidaksukaan terhadap Islam dan umat Islam.
Pelecehan terhadap syariat Islam semakin menjadi-jadi saat penguasa membiarkan tindakan tersebut. Banyak laporan penghinaan, pelecehan, dan pelabelan negatif dilaporkan ke aparat keamanan, tetapi tidak mendapat respon yang serius. Sekalipun ada RUU KUHP pasal 156 (a) tentang penistaan agama yang diklaim untuk menjaga toleransi antarumat beragama. Faktanya tidak cukup kuat dan tegas menindak pelaku penista agama. Alih-alih mencari dan menetapkan sanksi baru, para penista agama hanya diselesaikan dengan pernyataan klsrifikasi dan minta maaf.
Dengan demikian menunjukkan bahwa yang menganut sistem demokrasi tidak akan menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Sebab demokrasi lahir dari akal manusia yang terbatas, sehingga gagal menjami perlindungan beragama bagi pemeluknya.
Keangkuhan intelektual mendominasi karena menilai prestasi unggul dari prestasi akademik bahkan menganggap semestinya manusia cerdas adalah para penolak ketaatan pada agama.
Itulah hasil penerapan sekularisme yang merusak mentalitas kaum intelektual. Hanya terlahir intelektual pengidap islamofobia seperti ini dalam sistem demokrasi yg mengagungkan kebebasan.
Berkebalikan dengan sistem Islam yang melahirkan intelektual/ulama sebagai orang-orang yang paling besar ketundukan dan takut pada murka Rabb nya.
Hal ini terbukti selama 13 abad Islam berhasil memimpin dunia. Dalam kurun waktu itu, Islam dengan aturannya yang sempurna berhasil melahirkan intelektual berkualitas. Bukan hanya jago dalam masalah ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga jago dalam ilmu agama.
Sistem pendidikan Islam ini hanya akan berjalan dengan bantuan sistem lainnya. Seperti sistem pemerintahan Islam, ekonomi Islam, pergaulan hingga sistem sanksi. Semuanya itu diterapkan dalam satu naungan, yaitu negara Islam, khilafah islamiyyah. Jadi, kalau ingin memiliki intelektual yang tangguh, cerdas, tangkas, taat, dan cinta Islam hanya sistem Islam solusinya. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






