Opini

Islamofobia Jangkiti Intelektual

Pendidikan tinggi di dalam Islam mampu mencetak ilmuwan dan politikus yang mampu mempersembahkan penelitian dan proposal khusus untuk menjaga kepentingan vital umat, yang khusus menitikberatkan pada merancang rencana strategi yang dibutuhkan bagi daulah khilafah untuk melayani kepentingan-kepentingan umat.


Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Rektor Institut Teknologi Kalimantan atau ITK Balikpapan, Budi Santosa Purwokartiko telah menyebut mahasiswi berjilbab dengan istilah manusia gurun. Pernyataan ini dinilai rasis karena memuat unsur SARA. Budi Santosa menjabat sebagai Rektor ITK selama dua periode, 2014-2018 dan 2018-2022. Ia tidak hanya aktif sebagai akademisi, tetapi juga turut andil dalam program beasiswa LPDP sebagai pewawancara Departemen Keuangan dari 2013. (solopos.com, 1/5/2022).

Founder of Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi prihatin atas ungkapan Rektor ITK yang menyebut mahasiswi berjilbab dengan istilah manusia gurun. Menilai hal tersebut bisa masuk kategori rasis dan xenophobic. Rasis karena pembedaan berdasarkan ras (manusia gurun, Arab), dan xenophobic yaitu benci pada orang asing (manusia gurun). (fajar.co.id, 1/5/2022)

Hal tersebut berawal dari unggahan di facebooknya, bahwa ia bertugas mewawancarai beberapa mahasiswa beasiswa LPDP yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Dijelaskan bahwa yang ikut program LPDP adalah anak-anak pintar yang punya kemampuan luar biasa.

Jika diplot dalam distribusi normal, mahasiswa itu 2,5 persen adalah sisi kanan populasi mahasiswa. Dan tidak satupun dari mahasiswa itu hobi demo katanya. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP tinggi di atas 3.5 dan beberapa 3.8, 3.9. Bahasa Inggrisnya dengan nilai IELTS 8, 8.5, bahkan 9. Duolingo bisa mencapai 140, 145, bahkan ada yang 150 (padahal syarat minimum 100). Beliau menyebutkan bahwa itu adalah luar biasa, dan ada juga yang aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan, dan asisten lab atau asisten dosen.

Dari 16 yang diwawancarai, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek. Dari 14, ada dua tidak hadir dan 12 mahasiswi tidak satu pun menutup kepala ala “manusia gurun”. Otaknya benar-benar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi, begitu unggahan beliau.

Hal tersebut menuai kontroversi dan menunjukkan keangkuhan intelektual yang mendominasi, karena menilai bahwa prestasi unggul dinilai dari prestasi akademik. Menganggap manusia cerdas adalah para penolak ketaatan pada agama. Ini membuktikan bahwa sekularisme telah merusak mentalitas kaum intelektual. Yang harusnya dengan tanggung jawab ilmu dan intelektualitas yang ada pada dirinya, berada di garda depan dalam menyuarakan kebenaran. Bukan malah larut dalam kooptasi peradaban sekuler yang menjadikan potensi intelektualnya terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi umat.

Sistem demokrasi akan melahirkan intelektual yang mengidap islamofobic, karena sistem ini mengagungkan kebebasan. Kebebasan untuk menyuarakan pendapatnya, tidak perduli meskipun menyakiti umat islam. Para pembenci Islam tersebut justru berasal dari kalangan Muslim yang pemikirannya telah terdegradasi oleh ide kapitalis sekuler. Islamofobia telah menjangkiti masyarakat global, terutama dari kalangan intelektual yang ada di lembaga pendidikan perguruan tinggi.

Dibuat narasi radikalisme terhadap Islam dan terus digembar-gemborkan hingga institusi nyaris kehilangan daya kritis dan vitalitasnya sebagai motor perubahan. Ini adalah alat Barat dan para anteknya untuk melawan kebangkitan Islam. Agar umat dengan rela menjadi pagar betis rezim sekuler untuk menghadapi arus pergerakan dakwah yang kian tak bisa dihadang.

Berbeda dengan sistem Islam yang melahirkan banyak intelektual dan ulama, yang paling besar ketundukan dan ketakutannya pada murka Allah Swt. Perguruan tinggi dan pendidikan tinggi di dalam Islam akan mencetak SDM (sumber daya manusia) yang mampu memenuhi kebutuhan umat. Yang mencetak ilmuan dan penemu yang menghasilkan temuan dan karya yang mampu dinikmati secara luas oleh masyarakat.

Kampus dalam peradaban Islam akan membantu menyelesaikan problem masyarakat dan sebagai problem solver yang bisa dinikmati rakyat yang berada di luar negara khilafah Islam.

Kunci utamanya adalah Islam itu sendiri. Islam yang memiliki berbagai konsep pemecahan masalah manusia dijadikan sebagai referensi utama bagi intelektual. Diriwayatkan dari Abu Nu’aim ‘al Hulya’, Rasul Saw. bersabda, “Dua tipe manusia yang jika keduanya takwa maka rakyatnya akan bertakwa, dan jika mereka fasad maka rakyatnya akan fasad: adalah ilmuwan dan penguasa.” Rasul saw. bersabda, “Jangan tanyakan kepadaku tentang keburukan, tetapi tanyakan kepadaku tentang kebaikan.” (Diulang hingga tiga kali). Beliau bersabda, “Seburuk- buruknya keburukan adalah ilmuwan yang buruk, dan sebaik-baik kebaikan adalah ilmuwan yang baik.” (Diriwayatkan oleh ad Darimi dalam buku Al Muqoddimah).

Pendidikan tinggi di dalam Islam mampu mencetak ilmuwan dan politikus yang mampu mempersembahkan penelitian dan proposal khusus untuk menjaga kepentingan vital umat, yang khusus menitikberatkan pada merancang rencana strategi yang dibutuhkan bagi daulah khilafah untuk melayani kepentingan-kepentingan umat. Juga mencetak ilmuwan yang menjaga urusan umat, misalnya hakim, yurispruden (ahli hukum/ fukaha), doktor, insinyur, guru, penerjemah, manajer, akuntan, perawat, dsb.

Pendidikan tinggi dalam daulah khilafah Islam terdiri dari dua tipe utama, 1) Study by Teaching (mengajar lebih banyak dibanding penelitian). Pengajaran diorganisir oleh fakultas dan universitas lewat mata kuliah, dosen dan jadwal pendidikan. 2) Study by Research.

Pendidikan ini adalah pendidikan yang riset lebih banyak daripada mengajar. Murid belajar untuk berinovasi riset saintific, dan terspesialisasi sains yang spesifik. Menjalani penelitian yang seksama dan terspesialiasi dalam rangka untuk menemukan ide baru atau penemuan baru yang tidak ada sebelumnya.

Daulah akan menyelenggarakan beberapa institusi-institusi untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi yaitu,

1) Institut Teknik yang fungsinya untuk mempersiapkan gugus tugas teknis yang terspesialisasi dalam teknik modern seperti memperbaiki alat-alat elektronik, contohnya alat telekomunikasi dan komputer.

2) Institusi Layanan Sipil yang fungsi adalah untuk mempersiapkan gugus kerja yang mampu menjalankan beberapa pekerjaan yang tidak memerlukan murid untuk masuk universitas. Institusi ini mencetak perawat dan asisten medis seperti teknisi x-ray, teknisi laboratorium, dan teknisi gigi.

3) Universitas, dimana murid yang lulus ujian umum untuk tahap sekolah berhak untuk melamar masuk ke universitas daulah. Universitas menerima murid dua kali setahun. Khilafah akan membangun sistem pendidikan tinggi kelas dunia, menghidupkan kembali generasi besar intelektualitas dan kreativitas, serta membuat langkah besar dalam pengembangan dan penelitian.

Semuanya hanya bisa diwujudkan di dalam sistem pemerintahan Islam kafah, yang dipimpin oleh khalifah yang akan melahirkan intelektual-intelektual dan ulama-ulama besar. Wallahu a’lam bisshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz

Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button