Opini

Hanya Islam Kafah yang Bisa Menyelamatkan Palestina


Oleh. Ferischa Fadhila Salma
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM–Tragedi kemanusiaan di Gaza terus berulang, bahkan kini semakin brutal. Peringatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai kemungkinan terjadinya “Nakba Kedua” yang mengacu pada pengusiran massal rakyat Palestina seperti pada 1948 bukan sekadar retorika. Ini adalah isyarat kejahatan yang telah dirancang sistematis, disokong oleh kekuatan global yang selama ini berdiri di balik agresi Israel. Ditambah pengakuan dari kelompok Hamas yang merasa ditipu oleh utusan AS dari pemerintahan Trump, semakin menegaskan satu hal, bahwa solusi damai yang ditawarkan dunia Barat tidak lebih dari tipu daya berbalut diplomasi.

Israel Lanjutkan Genosida, Dunia Diam

Menurut laporan Republika (19-5- 2025), lebih dari 53 ribu warga Palestina telah meninggal dunia akibat serangan Israel, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Ini bukan konflik, tetapi genosida. Namun faktanya dunia bungkam, bahkan negara-negara Arab yang mengaku saudara malah membuka hubungan diplomatik dengan penjajah. Sementara rumah sakit di Gaza dilaporkan kolaps total akibat blokade bantuan dan intensitas serangan.

Penderitaan yang tak berujung ini tidak mungkin terjadi tanpa ada dukungan dari kekuatan besar. Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sekutu-sekutunya tidak hanya bersikap netral, mereka diduga kuat mendanai dan mempersenjatai Israel. Mereka berbicara tentang hak asasi manusia di forum-forum internasional, tapi menutup mata terhadap pembantaian yang dilakukan sekutu strategis mereka. PBB sendiri, meski memperingatkan Nakba kedua, tidak memiliki kekuatan nyata untuk menghentikan agresi, karena tubuhnya dikendalikan oleh veto negara-negara imperialis. (Republika, 17-5-2024)

Hamas Mengaku Ditipu, Bukti Gagalnya Jalur Diplomasi

Hamas baru-baru ini mengungkap bahwa mereka sempat dijanjikan pembukaan blokade dan bantuan kemanusiaan oleh utusan Presiden Trump jika membebaskan sandera asal AS. Namun, setelah sandera dilepas, janji itu tidak ditepati. Ini bukan pertama kalinya kelompok perlawanan Palestina dikhianati oleh Barat. Setiap kali mereka membuka ruang negosiasi, yang terjadi justru pelemahan perjuangan dan penguatan posisi Israel. Ini membuktikan satu hal, solusi diplomasi dalam bingkai sistem internasional hari ini hanyalah ilusi.

Realita ini harus menjadi tamparan keras bagi umat Islam di seluruh dunia. Berharap pada komunitas internasional yang dikendalikan oleh kepentingan kapitalis adalah kesia-siaan. Ketika diplomasi gagal, dan perlawanan bersenjata dibatasi, di mana letak harapan?

Hilangnya Kepemimpinan Islam Akar Semua Permasalahan

Perlu kita sadari bahwa penderitaan Palestina bukan sekadar konflik teritorial atau agama. Ini adalah buah dari hilangnya pelindung sejati umat, yaitu khilafah Islam. Sejak runtuhnya khilafah Utsmaniyah pada 1924, umat Islam terpecah-pecah menjadi lebih dari 50 negara bangsa yang tidak mampu, bahkan tidak mau membela saudaranya sendiri. Palestina dijual oleh para pemimpin boneka yang lebih takut kehilangan kekuasaan daripada murka Allah Swt.

Persatuan yang dibanggakan di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tidak lebih dari formalitas. Resolusi demi resolusi dilahirkan tanpa kekuatan implementasi. Di sisi lain, negara-negara besar seperti Turki, Arab Saudi, dan Mesir justru terlibat dalam normalisasi hubungan dengan Israel, alih-alih mengusirnya dari tanah yang dirampasnya.

Solusi Islam Kaffah, Kembalinya Khilafah dan Jihad yang Terorganisir

Dari semua kegagalan diplomasi dan kebuntuan perjuangan parsial, hanya satu jalan yang tersisa, yaitu penerapan Islam secara kafah di bawah institusi Khilafah. Dalam sistem Islam, penjajahan atas wilayah kaum Muslim adalah seruan jihad, bukan sekadar isu kemanusiaan. Dalam sistem Islam, penguasa bertanggung jawab langsung di hadapan Allah dan umat, bukan kepada Dewan Keamanan PBB.

Islam kafah bukan sekadar slogan. Ini adalah sistem yang mempersatukan umat dalam satu kepemimpinan global, satu visi, dan satu misi. Ketika kaum Muslim bersatu di bawah sebuah institusi, mereka memiliki kekuatan militer, politik, dan ekonomi yang mampu membebaskan Palestina, bukan hanya mengirim bantuan makanan.

Khilafah akan memutus hubungan diplomatik dan perdagangan dengan negara-negara yang mendukung penjajah. Ia akan menggerakkan pasukan dari negeri-negeri kaum Muslim, sebagaimana yang pernah dilakukan Khalifah Salahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Al-Quds dari tangan salibis.

Umat Harus Bangkit dan Sadar

Saatnya umat Islam berhenti berharap pada sistem kufur. Demokrasi, PBB, dan perundingan hanyalah alat untuk memperpanjang penderitaan Palestina. Sudah terlalu lama darah kaum Muslim ditumpahkan, sementara para pemimpinnya hanya mengutuk tanpa aksi.

Umat harus kembali pada Islam kafah bukan sebagai ibadah ritual, tapi sebagai sistem hidup yang mengatur pemerintahan, ekonomi, hukum, dan perlawanan. Hanya dengan jalan ini, tragedi Nakba kedua dapat dicegah dan Palestina benar-benar dibebaskan, bukan hanya di atas kertas, tapi secara nyata.

Wallahu a’lam bishawab.[]

Editor : Hafidzahlathifah, Ilustrator : Fahmzz


Photo source by Bing.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button