Maraknya Bunuh Diri Pada Anak Problem Generasi

Negara memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam membentuk generasi sebagai tombak peradaban.
Oleh Nur Samsi
(Aktivis Muslimah)
JURNALVIBES.COM – Kasus bunuh diri semakin banyak terjadi di Indonesia. Menurut data dari pusat informasi kriminal nasional bahwa kasus bunuh diri meningkat pada bulan Januari sampai 18 Oktober 2023. Kasus bunuh diri di tahun 2023 sebanyak 971 kasus meningkat dibandingkan pada tahun 2022 yaitu 900 kasus.
Tercatat 17 kasus anak yang bunuh diri dan diperkirakan belum menunjukkan jumlah kasus yang sebenarnya karena sebagian kasus belum dilaporkan. Kasus bunuh diri ini terjadi pada rentang usia SD, SMP dan SMA. Dalam jurnal peneltian yang berjudul “Analisis faktor penyebab utama kecendrungan di kalangan remaja yang berusia 15-17 tahun di Makassar” didapatkan kesimpulan bahwa depresi menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh remaja. Hal ini menegaskan rapuhnya mental generasi.
Baru-baru ini didapati anak usia SD melakukan bunuh diri. Menurut penjelasan pihak kepolisian, anak malang tersebut mengakhiri hidupkan karena ditegur ibunya saat bermain HP. Sangat miris bukan? Jika seperti ini mental generasi, akan menjadi apa negeri ini ke depannya?
Kerusakan Sistem
Problem tersebut menjadi PR kita bersama, mengingat usia anak-anak yang masih belia. Mereka seharusnya memanfaatkan waktu terbaiknya untuk menuntut ilmu agar menjadi generasi peradaban. Makin banyaknya kasus seperti ini menjadi sebuah perhatian untuk kita semua. Hal ini tentu menunjukkan adanya kesalahan dalam tatanan kehidupan sekarang baik dalam keluarga, masyarakat maupun negara.
Sistem saat ini menyebabkan keluarga kehilangan peran sebagai pembentuk pondasi awal pada anak. Sibuknya para orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal, ditambah sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan. Orang tua tidak lagi memberikan perhatian pada pembentukan karakter anak. Tidak sedikit menjadikan HP sebagai penenang untuk buah hatinya. Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan HP, tanpa pengawasan orang tua. Di usia yang masih belia mereka tidak mampu memilih mana yang baik dan buruk, mereka hanya meniru. HP bahkan dianggap sebagai orang tua anak, tidak heran mereka menjadi tantrum saat hp yang dianggap orang tua diambil dari genggamannya.
Lingkungan masyarakat seperti sekolah yang menerapkan sistem kapitalis semakin memperparah kerusakan generasi. Pendidikan digunakan tidak berbasis pada agama, tetapi dipisahkan dari kehidupan. Sekolah tidak memberikan pondasi akidah yang kuat pada anak. Fokus pada pembentukan kognitif saja tetapi tidak pada hati dan pemikiran Islamnya.
Islam Mengatur Kehidupan
Dalam pandangan Islam anak adalah generasi penerus sehingga wajib memperhatikan tumbuh kembang seorang anak. Islam menjamin terjaganya kondisi mental mereka dengan melalui sistem pendidikan yang berlandaskan pada syariat Islam.
Karena itu perlu penanaman akidah sejak awal sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Quran surah Luqman ayat 12-18. Sebagaimana pada dalil tersebut penanaman akidah itu sangat penting terutama dimulai pada lingkungan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan terkecil yang menjadi pondasi awal untuk penanaman karakter qurani pada anak sehingga mereka mampu terjun ke lingkungan yang lebih luas lagi.
Lingkungan masyarakat yang bertakwa dengan lingkungan pendidikan yang tidak memisahkan antara agama dan kehidupan. Sistem pendidikan Islam menekankan pada akidah terlebih dahulu barulah pendidikan umum. Lahirlah generasi yang hebat dalam berkarya kuat imannya dan mentalnya.
Negara memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam membentuk genarasi sebagai tombak peradaban. Kebijakan yang dibuat pemerintah tidak menyusahkan orang tua dan guru sehingga mereka mampu memberikan pondasi akidah pada anak. Pemerintah menerapkan syariat Islam dan menjadikan peraturan Allah Swt. sebagai asasnya. Dengan demikian sistem tersebut dapat melahirkan generasi seperti Muhammad Sultan Al Fatih yang di usianya yang masih muda namun mampu menaklukkan konstantinopel. Begitupun dengan para generasi yang lain pada masa daulah Islam diterapkan. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






