Opini

Rakyat Butuh Pelayanan, di Mana Peran Negara?

Para pemimpin dalam Islam benar-benar mencurahkan segenap jiwa dan raga demi mengurusi urusan rakyatnya. Sebab, mereka sadar bahwa mereka dalam pengurus urusan rakyat.


Oleh Siti Komariah
(Aktivis Muslimah Konsel)

JURNALVIBES.COM – “Bagai pungguk merindukan bulan” Mungkin inilah peribahasa yang cocok untuk rakyat saat ini. Dimana mereka seringkali menantikan kehadiran para penguasa untuk meringankan beban mereka, namun hal tersebut seakan sulit untuk didapatkan. Sebagaimana, yang dialami oleh warga Jalan Bunga Kana, Kelurahan Watu-watu, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari yang tergenang banjir selama bertahun-tahun saat musim penghujan tiba.

Berbagai cara telah diupayakan, baik melalui RT, RW maupun pemerintah kelurahan, agar Pemerintah Kota Kendari mau membantu menurunkan alat berat untuk membuat drainase, meskipun darurat. Namun menurut salah satu warga, Wali Kota tidak pernah merespon.

Warga akhirnya berinisiatif mengumpulkan uang secara swadaya untuk menyewa alat berat, guna membuat drainase darurat. Drainase dibuat sebagai jalur air yang selama ini tersumbat, hingga rumah warga sering tenggelam. Hal tersebut akhirnya membuahkan hasil, rumah warga tak lagi terendam banjir walaupun hujan turun seharian (telisik.id, 11/08/2022).

Swadaya masyarakat untuk menyewa alat berat dalam upaya mengatasi banjir, semakin membuktikan jika penguasa saat ini lalai dari tanggungjawabnya sebagai periayah urusan rakyatnya. Padahal, pembangunan drainase merupakan tanggung jawab penguasa dalam mengadakannya. Karena dia salah satu infrastruktur yang menunjang keamanan dan kesejahteraan rakyat yang harus dibangun oleh penguasa, baik daerah maupun pusat, apalagi dalam keadaan darurat. Namun, pembangunan insfratruktur saat ini sering kali dilimpahkan kepada pihak ketiga, yakni para pemborong atau para pemilik modal. Maka tak heran, jika waktu pengerjaan begitu lama dan lamban, sebab asas pengerjaannya bukanlah kesejahteraan rakyat, tetapi untung rugi semata.

Selain itu, hal ini juga semakin membuktikan jika hubungan rakyat dan penguasa, bak langit dan bumi. Penguasa seakan lupa akan tanggung jawabnya untuk melayani rakyat dengan segenap jiwa dan tenaga mereka saat ikrar janji kekuasaan. Penguasa seakan buta dengan berbagai penderitaan dan kesengsaraan rakyatnya.

Hal ini akan terus berlangsung seperti ini, penguasa hanya akan bertindak sebagai regulator semata. Menjadikan amanah kepemimpinan hanya untuk meraih keuntungan individu dan kelompok mereka saja, tanpa memikirkan penderitaan rakyatnya. Sebab, sistem kapitalisme yang masih bercokol di negeri ini menghendaki yang demikian.

Sistem kapitalisme yang berasas pada sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) membuat negara harus meninggalkan perannya sebagai periayah urusan rakyatnya. Alhasil rakyat harus terseok-seok sendiri guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Rakyat harus memecahkan segala problematika yang menimpa mereka.

Sistem kapitalisme juga melahirkan para pemimpin-pemimpin yang hanya berprofit pada materi semata, dimana semua hal yang harusnya menjadi tanggungjawabnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat secara murah dan gratis justru dikomersilkan. Seperti, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan lain sebagainya.

Hal ini berbeda jika Islam dijadikan sebagai pijakan dan aturan dalam mengatur segala sendi kehidupan umat manusia. Sistem Islam telah terbukti melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah terhadap kepemimpinannya. Mereka menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama dalam menjalankan sebuah kebijakan.

Para pemimpin dalam Islam benar-benar mencurahkan segenap jiwa dan raga demi mengurusi urusan rakyatnya. Sebab, mereka sadar bahwa mereka dalam pengurus urusan rakyat sebagaimana dalam hadis “Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Kemudian, pembangunan infrastruktur dalam Islam adalah murni sebagai bentuk pelayanan negara kepada masyarakat. Penerapannya sudah dicontohkan oleh para khalifah yang memimpin negara dengan sistem Khilafah. Sebagaimana jika terjadi penyumbatan air yang mengakibatkan banjir, maka negara akan segera turun tangan dengan segera, sebab hal itu berkaitan dengan kemaslahatan negara.

Sebagaimana tergambar pada masa kejayaan Islam silam, para khalifah membangun berbagai insfratruktur guna menunjang kemaslahatan rakyatnya, Dr. Jaribah Ahmad Al-Haritsi telah melakukan penelitian yang tertuang dalam disertasinya di Ummul Qura. Pada satu poin bahasannya mendetailkan bagaimana Khalifah Umar bin al-Khaththab membangun proyek-proyek infrastruktur dengan tujuan murni pelayanan publik. Saluran-saluran irigasi terbentang hingga ke daerah-daerah taklukan.

Sebuah departemen besar didirikan untuk membangun waduk-waduk, tangki-tangki, kanal-kanal dan pintu-pintu air serbaguna, menjaga kelancaran dan distribusi air, agar semua masyarakat bisa mengakses air. Yang paling terkenal adalah proyek penggalian teluk yang menghubungkan Madinah dan Mesir agar bantuan dari Mesir sampai ke Madinah dengan cepat dan mudah. Khalifah Umar ra. meminta ‘Amr bin ‘Ash ra. memperbaiki Laut Qalzum (Laut Merah) pada saat itu sehingga harga makanan di Madinah sama dengan harganya di Mesir.

Tak hanya itu, negara Islam juga mendorong seluruh rakyat agar tidak hidup konsumtif, tidak dibenarkan untuk membuang sampah sembarangan, menebang hutan secara liar dan mengajarkan kepada mereka untuk menjaga kelestarian lingkungan. Jika ada rakyat yang membangkang, maka negara akan memberikan sanksi yang tegas dan memberikan efek jera kepada mereka yang merusak lingkungan. Sehingga, dengan demikian maka rakyat akan bisa mendapatkan kesejahteraan.

Selain itu para pemimpin dalam Islam pun senantiasa memperhatikan keluh kesah rakyatnya, juga ada untuk rakyatnya, sebagaimana teladan para pemimpin terdahulu, salah satunya Khalifah Umar bi Al-khattab, satu waktu, ketika menjabat sebagai khalifah, Umar didatangi seorang Yahudi yang terkena penggusuran oleh seorang Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash, yang bermaksud memperluas bangunan sebuah masjid. Meski mendapatkan ganti rugi yang pantas, sang Yahudi menolak penggusuran tersebut. Ia datang ke Madinah untuk mengadukan permasalahan tersebut pada Khalifah Umar.

Seusai mendengar ceritanya, Umar mengambil sebuah tulang unta dan menorehkan dua garis yang berpotongan, satu garis horizontal dan satu garis lainnya vertikal. Umar lalu menyerahkan tulang itu pada sang Yahudi dan memintanya untuk memberikannya pada Amr bin ‘Ash. “Bawalah tulang ini dan berikan kepada gubernurmu. Katakan bahwa aku yang mengirimnya untuknya.”

Meski tidak memahami maksud Umar, sang Yahudi menyampaikan tulang tersebut kepada Amr sesuai pesan Umar. Wajah Amr pucat pasi saat menerima kiriman yang tak di duganya itu. Saat itu pula, ia mengembalikan rumah Yahudi yang digusurnya.

Ini membuktikan jika pemimpin Islam benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyat, apalagi jika hal itu menyangkut keselamatan dan kemaslahatan mereka. Sehingga sudah saatnya kita sadar jika hanya Islam lah satu-satunya solusi berbagai problematika umat manusia. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button