Petinggi Kampus Kena OTT, Character Building Antikorupsi Gagal Total

Character building antikorupsi yang berlandaskan sekularisme tidak akan pernah bisa menyelesaikan kasus korupsi, apalagi yang telah menggurita. Satu-satunya jalan yang wajib dilakukan yaitu kembali pada pangkuan Islam.
Oleh Khaulah
(Aktivis Back to Muslim Identity)
JURNALVIBES.COM – Sangat memalukan. Petinggi kampus, Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof Dr Karomani terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada operasi tersebut, KPK mengamankan tujuh orang di dua tempat, Bandung dan Lampung. Mereka ditangkap terkait korupsi dugaan suap penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri dengan hasil penyelidikan sementara, diduga telah menerima suap sebesar Rp 5 miliar.
Berdasarkan yang dilansir dalam laman news.detik.com (20/08/2022), sebelum kena OTT KPK, Karomani dan pihak tertangkap lainnya mengikuti acara pembentukan karakter (character building). Tentu saja kejadian ini bak mencoreng arang di wajah pendidikan dalam negeri. Begitu mencederai kedudukan para civitas akademika. Melecehkan kampus yang diposisikan sebagai pusat intelektual. Bagaimana potret pendidikan hari esok bila petinggi kampus berlaku seperti ini? Generasi berwatak seperti apa yang dihasilkan apabila para petingginya berwatak demikian?
Lebih lanjut, Kemendikbudristek menyatakan bahwa kejadian ini menjadi pelajaran untuk melakukan perbaikan (nasional.kompas.com, 21/8/2022). Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Diktiristek) Nizam pun amat menyayangkan kejadian tersebut. Terlebih saat ini Kemendikbudristek tengah mendorong perguruan tinggi menjadi zona berintegritas, bebas dari korupsi. Tetapi, bisakah perbaikan yang dicanangkan berjalan mulus jikalau tidak diiringi perubahan sistem?
Jawabannya, tentu saja tidak bisa. Apabila kita menyelisik, kita dapati beberapa alasan. Ideologi yang menjadi payung kehidupan hari ini menempatkan materi sebagai prioritas nomor satu. Generasi yang dihasilkan adalah yang bermental materialistik. Kuliah untuk bekerja, mencari bongkahan materi. Apapun dilakukan untuk mendapat materi, tak peduli halal atau haram.
Moral generasi mengalami kemerosotan. Selain ada kesempatan untuk korupsi, mental rakus yang merajai juga menjadi salah satu faktornya. Individu dalam kapitalisme menganggap kebahagiaan akan berada di genggaman apabila kian banyak materi yang digapai. Nyatanya, mereka tidak akan merasa cukup dan puas. Mereka bahkan tak tahu malu dengan sadar mengikuti character building antikorupsi di saat mereka termasuk pelaku korupsi.
Apabila kita berkaca pada perjalanan yang sudah-sudah, kita dapati bahwa kejadian ini sudah kesekian kalinya terjadi. Lembaga-lembaga penanggulangan korupsi yang dibentuk nyatanya minim dampaknya. Hukum yang ditegakkan cenderung longgar dan membebaskan pelaku korupsi, bahkan mirisnya ada yang diberi diskon potongan penjara. Maka tidak heran jika hari ini kita jumpai korupsi menggurita, di lingkungan kampus, anggota dewan dan lini kecil seperti sekolah dan RT sekalipun.
Dari sini penting ditegaskan, terkhusus terkait imbauan Nizam kepada semua rektor agar kejadian ini menjadi pelajaran untuk tidak sekali-kali dilakukan di lingkungan perguruan tinggi. Bahwasanya, imbauan ini harusnya ditujukan untuk setiap elemen di manapun dan kapanpun, tidak terbatas perguruan tinggi semata. Karena korupsi adalah masalah yang amat genting, yang telah menjamur dan butuh solusi penyelesaian yang tepat lagi sahih.
Selanjutnya terkait character building antikorupsi, sejatinya tidak bisa dibangun dari kegiatan pelatihan berbasis sekuler. Karena apabila kita telaah, semua problematika yang terjadi bermuara pada satu pangkal yakni diterapkannya sistem sekuler kapitalisme. Bagaimana mungkin masalah terpecahkan melalui sesuatu yang menjadi biang permasalahannya? Tentu tak akan pernah bisa.
Karena sekularisme adalah biang masalah khususnya korupsi, mska sudah menjadi suatu kewajiban untuk mengeliminasinya dari kehidupan dan menggantinya dengan sistem Islam.
Suatu sistem yang segala aturannya berlandas wahyu Sang Maha Kuasa. Dalam sistem ini, pendidikan membentuk generasi yang berkepribadian Islam, yakni pola pikir dan pola sikapnya berdasar Islam semata. Pendidikan ditempuh bukan bertujuan meraih materi, mencetak generasi materialistik tetapi generasi yang bahagianya tatkala meraih rida-Nya.
Individu-individunya memiliki keimanan yang murni lagi kokoh, menjadi penghalau segala kemaksiatan dan kerakusan. Mereka menjadi pribadi yang takut melanggar perintah-Nya dan takut melakukan yang Dia larang. Mereka menjadi pribadi yang bersyukur terhadap nikmat-Nya, tak terbersit keserakahan. Pun mereka terbentuk menjadi pribadi berintelektual, selayaknya posisi kampus.
Menjadi bagian terpenting adalah bahwa dalam sistem Islam ada baitul maal, badan keuangan yang mengatur pemasukan dan pengeluaran negara. Di sini, sudah ada pos-pos dengan tupoksinya masing-masing. Biaya pendidikan tak lagi buat pening, apalagi berbiaya mahal seperti hari ini. Bukankah dapat menutup salah satu pintu/peluang terjadinya korupsi?
Para pendidik juga petinggi universitas akan diberi gaji yang layak bahkan dapat memenuhi kebutuhan tersiernya. Tentu akan menutup pintu terjadinya korupsi. Ditambah, hukum/sanksi yang berlaku tidak ramah koruptor, yakni berupa stigmatisasi, peringatan, penyitaan harta, pengasingan, hukum cambuk, hingga hukuman mati. Sanksi tegas yang berefek jera dan pencegah terulangnya kejadian ini tentu menutup peluang terjadinya korupsi berulang.
Dengan demikian, jelas bahwa character building antikorupsi yang berlandaskan sekulerisme tidak akan pernah bisa menyelesaikan kasus korupsi, apalagi yang telah menggurita. Satu-satunya jalan yang wajib dilakukan yaitu kembali pada pangkuan Islam. Ya, mesti adanya perubahan sistemik atas problem yang dihasilkan sistem. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






