Wahai Pemuda, Bangkitlah, Ambil Peranmu!

Tidak seharusnya umat Islam apalagi kaum muda takut mempelajari serta mengamalkan ajaran agamanya sendiri dengan benar, karena memang tuntunan Islam memerintahkan umatnya untuk menjalankan aturan Islam secara kaffah.
Oleh: Yeni Ummu Athifa (Komunitas Muslimah Peduli Negeri)
JURNALVIBES.COM – “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ( Bung Karno)
Quotes oleh Bung Karno yang masyhur ini menggambarkan betapa dahsyatnya kualitas generasi muda dibandingkan orang tua. Pemuda identik dengan sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dan sebagainya.
Pemuda identik dengan sosok yang berani dan siap untuk berubah bahkan membawa perubahan (agent of change), baik berupa perubahan sosial maupun kultural. Tidak akan takut dengan segala rintangan dan hambatan sekalipun ancaman keselamatan diri. Bahkan tak gentar walaupun nyawa sebagai taruhan membela apa yang menjadi keyakinannya.
Sejarah membuktikan perjuangan menuju kemerdekaan negeri ini pun didominasi oleh kaum muda. Bahkan dengan ikrar para pemuda, lahirlah ‘sumpah pemuda’ 28 Oktober 1928 yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat dan menjadi landasan perjuangan dalam mewujudkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Islam mencatat, saat Rasulullah saw datang dengan membawa Islam, kaum muda termasuk ke dalam barisan pertama yang meyakini Islam dan menjadi ujung tombak gerakan dakwah di Makkah. Sebut saja Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash dan lain-lain. Mereka telah memilih Islam pada usia belia dan mampu menunjukkan dedikasi yang luar biasa terhadap Islam.
Dalam perjalanannya, Islam pun menoreh nama pemuda yang tertulis dengan tinta emas sebagai pelopor perubahan. Seperti Mush’ab bin Umair, disebabkan buah dakwahnya, menjadi titik awal hijrahnya Nabi saw dan para sahabat ke Kota Madinah, yang kemudian dikenal dengan nama Madinah an-Nabawiyah (Kota Nabi Muhammad saw). Muhammad Al Qasim berhasil Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya. Ataupun pemuda yang penuh inspirasi lainnya karena dengan cita-cita dan kesungguhannya berhasil menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium, sebagaimana Rasulullah kabarkan dalam sunahnya, selama berabad-abad tahun yang lalu belum ada yang mampu menaklukkannya.
Potensi inilah yang disadari penuh oleh musuh-musuh Islam yang berjiwa diktator dan penjajah. Mereka yakin jika ini dibiarkan, maka peradaban dunia segera akan kembali di tangan umat Islam. Tentunya ini akan membahayakan hegemoni mereka terhadap negara-negara mayoritas muslim yang selama ini mereka isap sumber daya alamnya.
Hingga tak heran, mereka berusaha menghalanginya dengan segenap kemampuan agar hal ini tidak terjadi. Oleh karena itu, mereka senantiasa berusaha secara masif dan terstruktur melemahkan generasi muda Islam.
Mengapa harus stigma negatif?
Melalui kroni-kroninya yang merupakan perpanjangan tangan mereka, Barat dan sekutunya di sejumlah negeri muslim mereka tidak tinggal diam. Musuh-musuh Islam ini berusaha mengarahkan dan memastikan agar kaum muslim terutama para pemuda ini senantiasa pada jalan yang mereka inginkan dan tak lepas dari pengawasan mereka walau sekejap pun.
Tidak cukup mereka berusaha menjauhkan kaum muda muslim ini dari ajaran Islam dengan menanamkan cinta akan kesenangan dunia. Mereka rusak pemikiran pemuda dengan bacaan dan tontonan yang merusak akal sehat mereka. Menyediakan fasilitas-fasilitas yang melalaikan dan permainan yang tidak bermanfaat.
Bahkan mereka berusaha agar pemuda-pemuda ini terjerumus ke dalam lingkaran setan yang tak ada ujungnya, narkoba, miras, fashion, musik, seks bebas seakan menjadi suatu kebutuhan. Ironisnya, tanpa disadari justru kecanduan kaum muda akan hal tersebut dimanfaatkan untuk mendatangkan fulus/keuntungan bagi mereka.
Wajar musuh-musuh Islam ini gerah melihat geliat kaum muda yang hijrah dan menyibukkan diri dengan mempelajari syariat. Dan tak heran juga jika mereka berusaha mencegah hal ini semakin meningkat dan menyebar. Maka syariat Islam pun jadi sasarannya stigma negatif.
Berita di media masa/media sosial yang memang mereka kuasai di-framing sesuai tujuan mereka, dengan liciknya mengopinikan seolah ajaran Islam itu keras dan menyebarkan kebencian. Jika salah memilih kelompok dan tidak kritis dengan ajaran yang disampaikan maka mereka akan terlibat dengan paham-paham yang berbahaya semacam radikalisme, ekstremisme dan terorisme, (Sindonews.com, 03/04/2021).
Pelabelan dan stigma negatif ajaran Islam ini terjadi karena didukung sistem Demokrasi. Sistem yang menjalankan ekonomi Kapitalisme yang menjadikan materi sebagai tujuan. Sejalan dengan asas Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Jadilah tiga serangkai yang klop/cocok, saling mendukung dan sulit terpisahkan satu sama lainnya.
Parahnya, pemahaman umat Islam terhadap ajarannya sendiri tidak utuh. Hingga semakin mudah termakan dengan issu-issu yang sengaja ditebar untuk merongrong Islam dan syariatnya. Padahal jelas terindera label-label yang mereka sematkan, seperti radikal, ekstremis ataupun teroris dan sebagainya, hanya dituju kepada individu/kelompok maupun terhadap ajarannya Islam saja. Terbukti mereka akan diam jika yang melakukan kejahatan tersebut selain muslim.
Sesungguhnya Islam adalah agama yang haq penuh dengan rahmah dan kasih sayang. Islam tidak pernah memerintah umatnya untuk berbuat kejahatan, membuat kerusakan di muka bumi apalagi kekerasan. Konon lagi berbuat layaknya teroris, bukan saja dirinya sendiri yang menjadi korban namun juga tega mengorbankan banyak nyawa lainnya. Firman Allah Ta’ala,
“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS Al-Maidah: 32)
Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman:
“Barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah Neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa’ Ayat 93)
Namun begitu, adanya upaya musuh-musuh Islam untuk mendiskreditkan dan mengkriminalisasi ajaran Islam, haruslah diwaspadai karena bertujuan untuk menimbulkan ketakutan/fobia kepada syariat Islam kaffah. Mirisnya umat Muslim pun fobia pada ajaran agamanya sendiri.
Penampakan Islam yang taat, dari segi pakaian yang mengikuti syariat, kaum lelaki yang mengikuti sunnah dengan memanjangkan jenggot dan celana cingkrang ataupun aksesoris lainnya yang mencirikan Islam, dicurigai. Bahkan remaja yang aktif di rohis dan masjid pun dipantau. Herannya lagi, orang tua pun terkesan takut jika anak-anaknya aktif di organisasi keislaman. Takut anaknya terpapar paham-paham yang dicapkan oleh musuh-musuh Islam tersebut.
Oleh karena itu, tidak seharusnya umat Islam apalagi kaum muda takut mempelajari serta mengamalkan ajaran agamanya sendiri dengan benar, karena memang tuntunan Islam memerintahkan umatnya untuk menjalankan aturan Islam secara kaffah. Kaffah dalam semua sisi kehidupan bukan hanya taat dalam sisi ibadah ritual saja. Untuk itu harus ada negara yang menjamin bisa terlaksananya Islam secara kaffah ini.
Maka wahai pemuda Islam kembalilah pada peranmu, bangkitlah! Begitu banyak kezaliman dan ketidakadilan sekarang terjadi di depan matamu. Janganlah engkau tergiur dengan indahnya dunia yang melenakan. Ingatlah keberadaanmu adalah harapan, karena di tanganmu nasib Islam dan umat ini bergantung. Wallahu alam Bi Shawwab. []
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






