Pembangunan dalam Sistem Kapitalis Penyebab Bencana Berulang?

Dalam Islam, pembangunan harus memperhatikan kemaslahatan masyarakat dan menjaga agar lingkungan tetap harmonis. Karena pembagunan tujuannya untuk kepentingan dan memudahkan urusan masyarakat.
Oleh Ummu Miqdad
JURNALVIBES.COM – Negeri ini adalah negeri yang sangat kaya. Negeri yang dijuluki zamrud katulistiwa. Warna hijau yang dulu bertebaran di buku atlas. Membuat segar mata yang melihatnya dengan begitu luar biasanya oksigen dihasilkan, itulah paru-paru dunia.
Keanekaragaman bentuk panorama alam kita bukan hanya menjadi pemandangan yang sangat indah, namun juga menjadi tatanan yang sudah diatur oleh Sang Pencipta menjadi penyangga keselamatan penghuninya. Namun di sisi lain menjadi sorotan bagi pegiat cuan untuk mengeksplorasinya.
Dari tahun ke tahun, perubahan fungsi lahan itu semakin nyata. Bentang alam di petak-petak, diubah bentuk aslinya. Dimodifikasi secantik mungkin agar menarik minat wisatawan untuk datang. Tak peduli apakah itu dengan menebang pohon, menguruk rawa atau bahkan pantai.
Perubahan ini pun dapat dirasakan dengan semakin liarnya pergantian musim di wilayah kita. Membuat sebagian masyarakat mengalami kesulitan, misalnya menentukan jenis sayuran yang akan di tanam, merencanakan suatu kegiatan, dan lainnya. Kerusakan semakin menjadi-jadi di berbagai tempat dan membuat banyak masalah timbul ketika pergantian musim.
Ketika musim kemarau terjadi kekeringan, kesulitan mencari sumber air terutama di bagian pegunungan yang kini banyak ditanami sawit, yang terkenal sangat banyak menghisap air. Di sisi lain, penambangan baik legal maupun ilegal banyak menghabiskan pepohonan juga turut memperdalam sumber air. Sebaliknya, ketika hujan datang air tak mampu meresap dengan baik ke dalam tanah. Akibatnya semakin tahun bencana banjir mulai meluas cakupannya dan semakin buruk. Korban pun semakin banyak, kerusakan bangunan dan berbagai insfrastruktur dimana-mana, hilangnya sebagian mata pencaharian masyarakat, semakin menambah penderitaan mereka.
Berubahnya fungsi lahan juga tak kalah parah mengacaukan alam, yang tadinya menjadi paku bumi (baca: gunung) berubah menjadi danau-danau dadakan yang sangat dalam. Bisa dibayangkan jika rumah dicabut paku-pakunya, mungkin itu juga yang akan terjadi pada bumi kita. Rawa-rawa yang tadinya menjadi penampungan air hujan disulap menjadi pemukiman, sehingga air hujan yang melimpah meluap ke rumah-rumah penduduk. Membuat banjir tak lagi dapat dielakkan.
Dilansir dari CNNIndonesia (13/1/ 2024), sebanyak 6.467 penduduk Riau mengungsi akibat banjir. Sekolah-sekolah juga turut terendam, akibatnya murid-murid diliburkan. Bahkan empat diantaranya meninggal dunia.
Dalam satu provinsi saja sudah sebanyak itu yang mengungsi, belum lagi di provinsi lain. Banyak kesulitan yang mereka alami dari dampak bencana banjir ini, misalnya masalah tempat tinggal, pakaian, makanan, kesehatan, keselamatan, dan lain-lain. Tidak ada satu pun orang yang menghendaki tertimpa bencana banjir ataupun yang lainnya. Namun, kebijakan yang mengikuti syahwat para pemegang modal, mengabaikan resiko ikutan yang timbul setelahnya.
Dalam sistem ekonomi kapitalis, keuntungan merupakan faktor utama dalam mengambil langkah apapun, termasuk pembangunan.
Perencanaan yang kurang matang, tidak diperhatikan faktor risiko ataupun akibat dari pembangunan itu, alih fungsi lahan, bukanlah hal yang penting untuk di amati dalam sistem ini. Pembangunan seharusnya membawa ke arah perubahan yang lebih baik, dan bukannya berakibat penderitaan bagi banyak orang.
Pemerintah seharusnya memberi perhatian khusus terhadap pembangunan ini, agar bencana yang terjadi tidak menjadi rutinitas yang menjadi horor bagi masyarakat. Pencegahan haruslah diutamakan, sehingga dampak bencana dapat di minimalisir untuk menjamin keselamatan dan keberlangsungan kehidupan.
Dalam Islam, pembangunan harus memperhatikan kemaslahatan masyarakat dan menjaga agar lingkungan tetap harmonis. Karena pembagunan tujuannya untuk kepentingan dan memudahkan urusan masyarakat.
Hal ini hanya akan terwujud dengan penerapan aturan Allah Yang Maha Sempurna, sebagai pengatur dari segala yang ada di alam semesta ini, yang paling tahu kebaikan dan keburukan dari suatu tatanan. Semoga dengan penerapan ini, maka keselamatan dan ketenangan masyarakat dapat kembali terwujud. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






