
Dalam Islam pemuda adalah aset bangsa. Karenanya stigma tentang mereka dalam sistem kapitalis harus dikembalikan sebagaimana fungsi pemuda yang sebenarnya yaitu menjadi agen perubahan penggerak perjuangan di masyarakat. Pemuda yang memiliki mental baja bukan mental pembebek, dan mampu memberikan warna kebangkitan di tengah-tengah umat.
Oleh Dewi Sartika
(Pegiat Opini)
JURNALVIBES.COM – Gema ikrar sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 seolah menjadi cambuk bagi pemuda masa kini untuk menjadi yang terbaik. Sukses dalam karir, menjadi kebanggaan, bergelimang materi, dan memiliki masa depan gemilang.
Pemuda masa kini, berkarya dalam perannya untuk berpacu menuju masa depan gemilang. Pada 28 Oktober 22 lalu ikrar sumpah pemuda kembali menggema sejak pertama digaungkan 94 tahun silam. Kini ikrar sumpah pemuda diikrarkan Pemuda Sultra dalam karya dan profesi masing-masing. Hal ini terangkum dalam Sumpah Pemuda Award yang digelar oleh harian Kendari Pos.
Wakil direktur Kendari Pos Awal Nurjadin mengatakan, sumpah Pemuda digelar dalam rangka memperibgati hari Sumpah Pemuda, (Kendaripos.co.id, 28/10/ 2022).
Standar Pemuda dalam Sistem Kapitalis
Sesuai dengan karakternya, sistem kapitalis yang menjadikan materi sebagai patokan dalam mengukur sebuah perbuatan, maka standar pemuda inspiratif dalam perspektif sistem kapitalis pun tidak lepas dari orientasi materi. Di mana pemuda yang memiliki inspirasi adalah pemuda yang produktif, memiliki penghasilan sendiri, mampu membiayai hidup dirinya, dan mapan secara finansial. Sehingga, menjadikan para pemuda memiliki stigma bahwa pemuda yang berdaya adalah pemuda yang berkarya. Stigma ini pula yang menjadikan para pemuda lebih mengejar dunia dan melupakan akhirat sehingga mereka terjun dalam kubangan kapitalis.
Setidaknya ada tiga hal yang dapat menjerat pemuda dan menjadi pribadi hedonis. Pertama, serangan lifestyle (gaya hidup) dan sifat konsumtif yang dibangun oleh para korporasi bagi pemuda adalah bagian dari skenario mereka. Hal ini tentunya tidak sekadar menyediakan produk demi memenuhi kebutuhan mereka melainkan bagian dari pemanfaatan atas kerakusan mereka dalam meraup keuntungan. Maka wajar jika para pemuda dapat memilih jalan hidupnya sendiri meski menabrak kodrat dan norma.
Kedua, pemuda sebagai tenaga kerja. Tidak dipungkiri bahwa pemuda dalam usia produktif sangat besar sumbangsihnya terhadap ketenagakerjaan. Karenanya, mereka menjadi bidikan kaum kapitalis untuk dimanfaatkan jasanya. Sedangkan di sisi lain para pemuda juga membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi gaya hidupnya yang ala kapitalis.
Ketiga, pemuda sebagai penguat sabuk industri. Sejatinya, pemberdayaan pemuda dalam bidang ekonomi bukanlah untuk para pemuda itu sendiri. Melainkan untuk para korporasi yang memanfaatkan skill pemuda. Alih-alih memberdayakan mereka, pada akhirnya yang terjadi adalah pembajakan pemuda untuk menjadi sapi perah industri kapitalis.
Dalam hal ini sosok pemuda dalam sistem hari ini adalah benda yang diberikan beban hidup. Bukan pemuda yang menjadi agen perubahan bagi peradaban bangsa.
Pemberian label pemuda inspiratif yang menempel pada pemuda saat ini hanya menjadi simbolis semata tanpa adanya aksi nyata yang mampu menjadi penggerak perubahan di masyarakat. Mereka hanya sekadar mengajar karir semata yang dianggap dapat menaikkan status sosial mereka di tengah-tengah masyarakat.
Padahal sejatinya, pemuda adalah generasi yang nantinya menjadi pengganti untuk mengisi tatanan kehidupan negara selanjutnya. Nasib bangsa sedang dipertaruhkan, ketika tongkat estafet perubahan diberikan kepada generasi yang bermental lemah, membebek, sekadar terkenal, dan tidak ada perjuangan yang mereka lakukan.
Standar pemuda inspiratif akan berbeda jika dipandang dengan kacamata Islam. Pemuda inspiratif bukan hanya sukses dari segi finansial semata. Namun juga sukses dari segi pemikiran yang membawa pada perubahan, bukan hanya sekadar menjadi budak kapitalis. Di pundak mereka perubahan peradaban bangsa dibebankan.
Sejatinya, dalam Islam pemuda adalah aset bangsa. Karenanya stigma tentang mereka dalam sistem kapitalis harus dikembalikan sebagaimana fungsi pemuda yang sebenarnya yaitu menjadi agen perubahan penggerak perjuangan di masyarakat. Pemuda yang memiliki mental baja bukan mental pembebek, dan mampu memberikan warna kebangkitan di tengah-tengah umat.
Pemuda sebagai tonggak peradaban, harus dicetak dengan keimanan yang kuat. Sehingga menjadi generasi islami, berakhlak mulia, berwawasan luas, dan bertakwa. Sebagaimana kisah para pemuda Muslim yang tercatat dalam sejarah tinta emas kegemilangan Islam.
Kisah Sa’ad bin Abi waqqash seharusnya menjadi inspirasi pemuda saat ini. Sa’ad bin Abi waqqash yang masuk Islam ketika berumur 17 tahun, ia memiliki keahlian dalam bidang kemiliteran. Dalam biografi 60 sahabat tertulis Sa’ad bin Abi waqqash adalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Ia juga ditunjuk menjadi Panglima kaum Muslim di Irak dalam perang melawan Persia pada masa Amirul Mukminin umar bin Khattab.
Selanjutnya pemuda inspiratif pada masa Islam adalah Usama bin Zaid. Pemuda yang di percaya oleh Rasulullah untuk menjadi pemimpin pasukan di usia 18 tahun padahal dalam pasukan tersebut terhadap para sahabat ternama seperti Abu Bakar dan Umar. Pasukan yang dipimpinnya dapat meraih keberhasilan yang gemilang mengalahkan pasukan tentara Romawi. Pun juga dengan Atab bin Usaid pada usia yang baru 18 tahun diangkat jadi gubernur Mekkah.
Dalam bidang keilmuan ada Zaid bin Tsabit. Pemuda Anshar yang masuk Islam pada usia 11 tahun. Karena kecerdasannya Zaid dipercaya menjadi penulis Wahyu oleh Rasulullah. Ada pula Abdullah Bin Masud yang dikaruniai kepandaian dalam membaca Al-Qur’an, dan keberaniannya membaca ayat Al-Qur’an di hadapan pemuka kaum Quraisy yang tengah berkumpul di Ka’bah. Kaum Quraisy pun langsung menghajarnya, namun demikian tidak membuatnya nyali Masud menjadi surut. Masih banyak kisah para sahabat yang heroik dan inspiratif sehingga layak dijadikan role model bagi generasi muda saat ini.
Dengan semangat sumpah pemuda yang selalu diikrarkan setiap tahunnya, sudah selayaknya pemuda saat ini berubah. Tidak lagi terbuai dengan kesenangan dunia. Serta mengubah pola berpikirnya, dari pemuda pembebek menjadi pemuda yang berkualitas. Menjadi ujung tombak perubahan bangsa yang saat ini dalam kondisi terpuruk.
Untuk mewujudkan pemuda yang seperti itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan peran negara yang menerapakan sistem yang dapat menjaga keimanan dan ketakwaan pemuda dan masyarakat seluruhnya. Waullahu a’lam bisshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






