
Kesejahteraan milik umat itu hanya akan dirasakan dengan merapikan Islam secara keseluruhan (kafah) dalam bingkai negara Khilafah sesuai yang disabdakan Rasulullah Saw.
Oleh Ulinnuha
JURNALVIBES.COM – Sekalipun masih dua tahun lagi menuju kontestasi politik 2024, namun sejumlah paslon melakukan serangkaian langkah branding untuk mempersiapkannya.
Sebagaimana Dilansir dari kompas.com (26/11/2022), relawan Jokowi berkumpul dalam rangka temu kangen dengan Presiden Jokowi dalam acara Gerakan Nusantara Bersatu di Stadion Utama GBK Jakarta Pusat.
Sebanyak 150.000 orang memadati GBK. Hanya saja, jumlah relawan Jokowi yang tergabung tidaklah semuanya sebanyak itu. Informasi di lapangan menyatakan, tak sedikit masyarakat, pemuda dan ibu-ibu yang tidak tahu menahu alasan mengikuti acara Nusantara Bersatu ini. Sekalipun ada miskomunikasi, bahkan ada yang kecewa karena diundang dengan ajakan istighasah dan temu para Ulama Nusantara, namun kenyataannya tidak ada.
Banyak sorotan muncul di media sosial dalam acara relawan kali ini. Bahkan menempati posisi tagar trending di Twitter. Diantaranya sampah yang berserakan pasca acara, sehingga Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta perlu mengerahkan 500 personil orange (pasukan kebersihan) untuk mengangkut hasil sampah-sampah berserakan sebanyak 31 ton sampah.
Selain itu, diadakannya acara ini tampak sebagai wujud minim empati pada bagian wilayah negeri ini yang belum tuntas berduka akan bencana alam. Pada saat Cianjur berusaha bangkit setelah terjadinya gempa, rakyat menanti keamanan dan membutuhkan banyak pertolongan serta bantuan dari pemerintah, justru acara yang pasti menyita banyak biaya ini tetap kukuh diadakan. Info pada saat yang bersamaan korban jiwa bertambah menjadi 318 korban meninggal dan 14 jiwa belum ditemukan (BBCNewsIndonesia.com).
Amat disayangkan, demokrasi dengan jargon ‘oleh rakyat, dari rakyat, untuk rakyat’ nyatanya tidak demikian. Rakyat setiap empat tahun sekali memilih, tetapi hasilnya pun untuk kepentingan penguasa dan pengusaha sendiri. Suara rakyat dielu-elukan untuk mandat kepemimpinan. Namun lagi-lagi kesejahteraan rakyat justru semakin dipertanyakan.
Inilah yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Sistem yang menjadikan orientasi kemanfaatan dan keuntungan diatas segalanya tanpa pandang aturan Tuhan (Allah). Dalam sistem kapitalisme, selagi ada peluang keuntungan, maka akan digunakan sebagai ajang mengambil suara rakyat. Tidak heran, pencitraan seperti mengunjungi korban bencana sebagai formalitas, dan mengumpulkan massa dengan klaim relawan lebih menjanjikan daripada turun langsung menangani korban bencana secara mutlak nyata.
Hal ini sangat berbeda dengan potret penguasa dalam sistem Islam. Dahulu Khalifah Umar Bin Khattab pernah terjadi paceklik, bulan Dzulhijah pada akhir abad ke 18 H. Selama 9 bulan, masyarakat Hijaz kekeringan, kelaparan. Banyak dari mereka yang pergi ke Madinah untuk meminta pertolongan pada Khalifah Umar. Beliau pun memberikan bantuan tenda, makanan, dsb yang diambil dari Baitul Maal hingga bantuan itu mencukupi 6000 warganya yang terdampak.
Sementara, sejarah mencatat pribadi Khalifah Umar sebagai penguasa yang sederhana. Pakaiannya bertambal, padahal ialah pemimpin negara. Pada saat itu pula, beliau rela kelaparan bahkan hanya makan roti dan minyak, daripada rakyatnya ada yang tidak merasakan makanan.
Rasulullah Saw pernah bersabda: Dari Ibnu Umar RA, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya.” (HR Muslim).
Demikianlah potret penguasa hasil dari sistem Islam dan sistem kapitalisme. Inilah buah dari penerapan Islam tidak hanya skala individu dan keluarga, melainkan juga masyarakat dan sistem negara. Jika hari ini kita menyaksikan dikotomi aturan Islam dan penerapannya secara parsial (Islam diterapkan hanya dalam beberapa lingkup saja) tidak jua menurunkan kesejahteraan bagi umat dan perlindungan terhadap kehormatan jiwa dan nyawa umat.
Allah telah berfirman dalam QS Al- Baqarah ayat 208:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu.”
Kesejahteraan milik umat itu hanya akan dirasakan dengan merapikan Islam secara keseluruhan (kafah) dalam bingkai negara Khilafah sesuai yang disabdakan Rasulullah Saw. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






