CerpenSastra

Desa Tenjolaya

Desa Gambong merupakan desa yang menyebabkan Desa Tenjolaya habis terbakar, perebutan lahan, kerakusan kepala desa membuat warga Desa Gembong menginginkan lahan yang lebih besar dan mulai membakar rumah warga Desa Tenjolaya, agar kekayaan desa seutuhnya milik Desa Gembong.


Oleh Rifda Khayrani

JURNALVIBES.COM – Sejauh mata memandang, Abisatya hanya bisa melihat api yang berkobar di atas rumah-rumah dan juga pepohonan. Tahun 1946 tanah kelahiran Abisatya habis oleh kobaran api. Kini desa Tenjolaya Bandung yang indah, memiliki lahan pertanian yang subur dan hutan yang lebat kini sudah menjadi kelabu. Tak ada satupun tanah yang tak terjamah oleh si jago merah, menghabisi seluruh hutan dan lahan pertanian yang ada di desa tersebut. Hasil pertanian yang dimiliki oleh Abisatya hangus terbakar tak meninggalkan sisa satupun.

Related Articles

25 Mei 1946, Abisatya terbangun dari tidurnya dan mendapati hawa panas dari sekitar rumahnya. Ia berlari keluar rumah dan langsung menghampiri Pak Yoedi selaku kepala desa yang sedang mengajak warga untuk evakuasi ke atas gunung. Abisatya bertanya kepada Pak Yoedi mengenai keadaan yang dialami oleh desa tercintanya.

“Kita harus pergi, bawa hartamu Abisatya,” ucap Pak Yoedi pada Abisatya. Abisatya segera berlari dan mengambil beberapa hasil panen yang dimilikinya.

Sampailah warga Desa Tenjolaya di sebuah gunung yang pohonya sangat rindang dan angin yang sejuk. Pak Yoedi mulai menjelaskan apa yang terjadi di desa mereka. Desa Gambong merupakan desa yang menyebabkan Desa Tenjolaya habis terbakar, perebutan lahan, kerakusan kepala desa membuat warga Desa Gembong menginginkan lahan yang lebih besar dan mulai membakar rumah warga Desa Tenjolaya, agar kekayaan desa seutuhnya milik Desa Gembong.

Geram Abisatya mendengar cerita tersebut dan bergegas mengambil kujang yang sempat ia bawa dan berlari menuju desanya, namun Pak Yoedi menghentikan pergerakan Abisatya.

“Jangan gegabah Abisatya! Kita bersabar dan memikirkan solusi disini dan berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk.” Mendengar itu Abisatya kembali duduk.

Matahari mulai terbenam, seluruh warga desa beristirahat kecuali Abisatya yang sedang memikirkan bagaimana cara agar bisa merebut desanya kembali. Abisatya bangun dari duduknya dan mulai berjalan kembali menuju desanya, sesampainya di sisi hutan yang sudah terbakar ia hanya melihat abu rumah yang sudah habis terbakar. Di lain sisi warga Desa Gembong melihat Abisatya dan mulai menghampirinya, Abisatya terlonjak kaget dan mengeluarkan kujang yang ia miliki, namun warga Desa Gembong yang menghampirinya hanya mengulurkan tangan sebagai tanda permohonan maaf, Abisatya pun menerima uluran tangan tersebut.

Abisatya kembali ke gunung setelah bertemu dengan warga Desa Gembong. Berjalan menuju sungai yang mengalir dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud dan subuh. Tak lupa ia selalu berdoa untuk warga desa dan berdoa agar desanya kembali. Ia berdoa cukup lama dan sabar hingga matahari terbit dan masuk waktu syuruk, kepala desa menghampirinya dan menepuk pundak Abisatya, lalu duduk di sebelahnya untuk ikut berdoa kepada Allah.

Tiga minggu berlalu Abisatya dan seluruh desa masih tetap berdoa agar desanya kembali. Tak lama abisatya mendengar langkah kaki yang amat banyak, warga segera mengambil barang bawaanya dan bersiap untuk melarikan diri, namun Abisatya tidak, ia mengeluarkan kujang yang ia miliki, Tak lama keluarlah kepala Desa Gembong dan berlutut di hadapan Abisatya dan kepala desa.

“Apa yang kalian lakukan disini? Belum cukup mengambil desa kami?” ucap Abisatya.

Namun kepala Desa Gembong meminta maaf dan menangis karena tanaman mereka tidak dapat tumbuh dengan baik dan memohon bantuan desa Tenjolaya untuk bekerja sama. Abisatya dan kepala desa sempat ragu, namun melihat keseriusan kepala Desa Gembong ia akhirnya menerima tawaran tersebut dengan beberapa syarat, kepala Desa Gembong menerima sayarat tersebut dan akhirnya Desa Tenjolaya kembali.

Para warga Desa Tenjolaya dan Desa Gembong bekerjasama dalam membangun perairan lahan dan membangun rumah yang sudah terbakar. Akhirnya usaha Abisatya dan para warga tidak habis terbuang, setelah berdoa setiap malam dan berusaha memikirkan cara mengembalikan desanya. End. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button