Opini

Mitigasi Bencana Minimalkan Korban Jiwa

Kebijakan penanggulangan bencana seharusnya juga meliputi upaya pencegahan, tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana. Semuanya harus diperhatikan sama pentingnya, tidak boleh lebih fokus pada satu atau dua hal.


Oleh Ummu Abid

JURNALVIBES.COM – Sekitar pukul 15.00 sore Sabtu 4/12/21 Gunung Semeru erupsi mengeluarkan semburan awan panas, yang mengakibatkan warga sekitar panik berlarian menghindari awan panas tersebut. Tampak terlihat anak kecil yang berlarian dalam suasana sekitar yang sudah cukup gelap tertutupi oleh awan panas dari erupsi gunung tersebut. Hal ini menimbulkan tanda tanya, apa tidak ada peringatan sebelumnya? Apa tidak diberlakukan early warning system

Dalam kondisi darurat seperti ini early warning system sangat penting dan diperlukan untuk menunjang mitigasi bencana demi keselamatan warga sekitar. Erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur.

Fatmata Juliasyah, atau biasa disapa Fati, Manager Advokasi dan Kampanye DPN KAWALI menyapaikan tidak adanya peringatan/early warning system pada bencana alam ini menandakan kegagalan sistem mitigasi bencana. “Dalam hal ini BMKG yang memiliki peranan untuk menyampaikan informasi dan peringatan dini kepada instansi, pihak terkait, dan masyarakat berkenaan dengan bencana akibat faktor geofisika pun dapat dikatakan gagal menjalani perananannya. Kegagalan sistem mitigasi bencana ini harus mendapat perhatian dari pemerintah pusat karena ini menyangkut nyawa dan keselamatan masyarakat,” ungkap Fati. (porosnews.com)

Mengapa mitigasi bencana selama ini buruk dalam setiap penanganan bencana, padahal keselamatan jiwa adalah hal utama? Faktor terbesarnya adalah kelalaian penguasa. Pasalnya, mitigasi yang buruk bukan terjadi kali ini saja. Hampir setiap bencana selalu menelan banyak korban jiwa dan pemerintah terlihat kewalahan dalam penanganannya.

Manusia memang tidak berdaya menolak ketetapan Allah, karena bencana itu bisa datang kapan saja. Namun demikian, syariat Islam telah mengatur bagaimana manusia berupaya mencegah malapetaka besar akibat dari kelalaiannya dalam menanggulangi bencana. Allah pun menjelaskan bahwa kerusakan alam di daratan dan lautan akibat ulah manusia saat mereka memanfaatkan bumi ini tidak sejalan dengan ketentuan Allah Swt.

Dalam Islam, negara adalah pihak sentral yang berkewajiban mengurusi umat. Termasuk melakukan mitigasi bencana. Negara tidak boleh abai, apalagi menyerahkannya pada swasta. Dengan demikian, bantuan masyarakat akan sesuai dengan arahan pemerintah dan semua pihak dapat bersinergi menyelesaikan permasalahan bencana.

Dari perspektif negara Islam, mitigasi bencana bukan hanya berbicara upaya mengurangi risiko bencana. Lebih dari itu, mitigasi adalah salah satu mekanisme negara dalam menyelamatkan jiwa dari bencana alam. Hal ini karena syariat Islam akan senantiasa menjaga agama, akal, harta, termasuk jiwa.

Oleh karena itu, negara akan memperhatikan pengurusan terhadapnya, termasuk teknologi dan pendanaan untuk keberhasilan mitigasi bencana. Bencana alam memang ketetapan Allah Swt., tetapi mitigasi bencana tetap harus berjalan untuk menghindarkan manusia dari kerusakan parah, baik harta maupun jiwa.

Semestinya dampak seperti ini bisa diantisipasi manakala kebijakan politik tanggap bencana berjalan sebagaimana mestinya. Namun lagi-lagi ada persoalan mendasar yakni kesalahan paradigmatis pada pemerintahan hari ini terhadap pengaturan urusan masyarakat, ini karena pandangan sekuler, syariat Islam tidak boleh diterapkan dalam pengaturan berbagai urusan.

Kebijakan penanggulangan bencana seharusnya juga meliputi upaya pencegahan, tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana. Semuanya harus diperhatikan sama pentingnya, tidak boleh lebih fokus pada satu atau dua hal. Namun seluruhnya mesti dilakukan. Siapa pun yang memimpin Indonesia hari ini, baik di level pusat dan daerah, harus mempunyai kesadaran politik penanggulangan bencana.

Ketika kejadian bencana tidak diposisikan sebagaimana pandangan Islam, sehingga berpengaruh terhadap langkah tindak. Sementara Rasulullah Saw. teladan kita telah menjelaskan perihal peristiwa bencana ini. Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah Saw. lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, “Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi saw. menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian… Maka jawablah (buatlah Allah rida kepada kalian)!”

Selain itu pendanaan yang baik di suatu negeri juga akan menunjang kemampuan mitigasi yang baik pula. Jika berkaca pada sistem demokrasi kapitalistik yang selalu saja defisit anggaran, memiliki mitigasi yang baik hanyalah ilusi. Oleh karena itu, pengaturan mitigasi bencana tidak bisa berdiri sendiri. Harus mendapat tunjangan penerapan sistem lainnya. Kesengsaraan yang menimpa korban bencana hari ini bukan berbicara sebatas bahwa ini adalah ketetapan-Nya, tetapi juga ada andil abainya penguasa terhadap keselamatan jiwa.

Maka dari itu, wajib ada koreksi total terhadap seluruh sistem dan mekanisme penanggulangan bencana. Meliputi koreksi atas paradigma dan tanggung jawab layanan terhadap masyarakat. Jika masih berkawan dengan ideologi kapitalis-sekuler. Maka bencana tetap disikapi sebagai fenomena alam yang menggugah kesadaran umat manusia sebagai hamba Allah untuk melakukan kesalehan atas berbagai karunia hidup yang dilimpahkan Allah pada bumi ini.

Kebanyakan umat hari ini hanya pandai menikmati karunia berupa potensi alam dan keindahannya. Namun tidak mensyukurinya, melainkan kufur terhadapnya. Semoga umat kembali mendapatkan pemimpin yang sanggup menghadirkan mitigasi yang paripurna. Sudah semestinya setiap bencana yang terjadi menjadi tadzkirah bagi umat untuk berbenah dan berjuang agar hukum-hukum Allah tegak dan kehidupan dunia sejahtera. Wallahu a’lam bishawwab.[]

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button