
Niat akan menemukan nilai sebuah amal. Oleh karena itu kita harus berhati-hati supaya niat selalu terjaga, sehingga amal yang dilakukan bisa bernilai pahala.
Oleh Atika Shafwa
JURNALVIBES.COM – Tahun-tahun di masa sekolah, menurut kebanyakan pelajar mungkin memang menyenangkan.
Meraih berbagai penghargaan, dipuji banyak orang, menjadi pusat perhatian, bahkan kebanyakan guru pun terus mendorong semua murid agar bisa sehebat para bintang sekolah sehingga banyak yang berkawan dengan mereka.
Namun, apa yang bisa seorang Aizha Elizha kata? Justru itulah yang membuatnya ingin pergi sejauh mungkin. Gadis yang teguh pendirian dan berbakat, tapi sayang, lingkungan sekolah malah mengurung langkahnya laksana di penjara.
“Tugas kalian selama liburan ini adalah membuat konten ceramah. Lakukan dengan sekreatif mungkin.” ucap seorang Guru Bahasa Indonesia dengan logat daerah kampungnya yang jauh di timur sana seminggu sebelum liburan datang. Aizha yang sudah siap dengan materi serta isinya, kemudian menanyakan tiap siswi untuk menjadi rekannya. Pesan yang sama ia sebar berkali-kali, namun tak sedikit dari mereka yang menjawab, “Maaf, Zha. Kami sudah berdua. Kami sudah bertiga. Coba kau tanya yang lain.”
“Baiklah..”
Ia kemudian mengerjakan segalanya sendiri. Mencari waktu yang pas, dan memikirkan apa yang akan seseorang dapatkan jika mengikuti pertemuan itu beserta hadiah yang akan diterima. Semuanya dirancang dalam bentuk poster. Setelah seharian penuh, ia kirimkan poster beserta pesan yang telah ia rancang kepada teman-teman angkatannya.
“Oh, sudah waktunya!” Aizha secepat kilat membuat ruang pertemuan lewat aplikasi zoom.
“Ayo, jangan lupa ikut, ya! Ada kartu lukis gratis untuk peserta!” begitulah isi pesannya.
Ia tunggu sekejap. Kemudian satu, lima, sepuluh, bahkan lima belas menit. Tiba-tiba seseorang memasuki ruang itu. Ia tunggu sebentar, tapi belum ada lagi yang masuk.
“Ada apa ini? Bukannya kemarin sudah dilihat setengah dari grup angkatan?” batinnya janggal sembari menatap jumlah peserta. “Hanya satu?”
Awalnya dia masih menghiraukan itu. Tapi lama-kelamaan, Aizha merasakan sedikit demi sedikit ketakutan, perasaan kecewa mulai muncul. Matanya memanas, tanda-tanda air mata akan berjatuhan.
“Aduh, bagaimana ini? Ah sudahlah! Langsung mulai saja.”
Akhirnya, ia menahan rasa sakit itu sedalam-dalamnya, kembali melukiskan senyuman, kemudian langsung memulai tugasnya, berdua dengan seorang peserta yang berada di room zoom.
“Assalamu’alaikum, Meia. Bagaimana liburanmu di Negara Timur? Pasti seru, ya.” Aizha menyapa Meia, satu-satunya siswi dari luar negeri di angkatannya.
“Waalaikumsalam. Pastinya!” Meia menjawab dengan antusias, disusul senyuman khasnya yang tak pernah berubah. “Sepertinya, hanya kita berdua di sini. Tidak apa-apa, kan?”
Aizha terkekeh, “Tidak apa-apa. Justru aku berterima kasih karena kamu telah meluangkan waktu. Semoga ini bisa menjadi pahala untukmu, dan untukku yang menyampaikan.”
“Hehehe.. aamiin..”
“Baiklah, kita mulai saja.” Aizha menarik nafas dalam-dalam, kemudian mulai menyampaikan materi.
“Ya, aku hanya ingin menyampaikan tentang niat. Mungkin terlihat sepele, tapi kenyataannya, niat sangat lah penting ketika memulai suatu kegiatan. Di satu sisi, niat merupakan suatu keharusan. Namun di sisi lain, kita harus berhati-hati dengannya. Salah sedikit atau berbelok dari niat, akan berakibat fatal, karena pada hakikatnya, niat merupakan salah satu jembatan agar suatu perbuatan yang baik dapat bernilai pahala. Sayangnya, Meia, kebanyakan orang malah terpaku pada keinginan duniawinya, sehingga mereka hanya mendapat rasa puas saja, atau bahkan merasa jenuh jika keinginan itu tidak terwujud. Itu semua terjadi karena mereka salah niat.”
Aizha kemudian tersenyum. Dia perlahan mulai mengikhlaskan segalanya. “Ini sekaligus menjadi pengingat untuk diriku sendiri sebagai yang menyampaikan. Aku harap, kau bisa mengambil hikmah dari materi ini. Sekali lagi, terima kasih atas waktunya. Semoga tugas yang tidak seberapa ini dapat meninggalkan jejak yang baik.”
“Terima kasih kembali, Aizha! Aku tunggu kartu lukisnya! he he he..”
Aizha mengarahkan kursor menuju icon end meeting, kemudian mengakhiri pertemuan dengan hembusan nafas panjang. Ia secepat kilat mengirim hasil tugasnya. Perasaannya masih belum terlalu lega, namun pada akhirnya, beban-beban itu seketika hilang, berkat salah satu pesan dari guru favoritnya.
“Tersenyum lah, Aizha. Kamu telah melakukan yang terbaik. Mungkin di awal memang sedikit menyedihkan. Padahal sebenarnya, hal-hal kecil seperti ini patut kamu syukuri. Daripada tidak ada sama sekali, kan?”
Senyum manis Aizha perlahan kembali terlukis. Sempat sedikit terkekeh, tapi setidaknya, hati rapuhnya terhibur. Ia mengambil nafas, lalu ia hembuskan seraya berlirih, “Ya sudahlah..”
Bogor, 12 Juni 2023
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






