Opini

Subsidi MBG Turun, Perbaikan Gizi Sekadar Ilusi?

Hanya dengan Islam dan menerapkan seluruh hukum Allah dalam seluruh tatanan kehidupan, yang akan melahirkan generasi yang kuat dan sehat. Dengan diterapkannya kepemimpinan Islam rakyat akan menjalani kehidupan dengan tenang, tanpa stres dan sehat fisiknya. Karena semua kebutuhan dasar hidupnya baik sandang, pangan dan papan akan dijamin pemenuhannya oleh negara.


Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Pada Pilpres 2024 Prabowo-Gibran telah mengampanyekan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka ingin memberi makan anak-anak dan ibu hamil demi memperbaiki kualitas sumber daya manusia.

Seperti yang dirilis cnnindonesia (29-11-2024), Presiden Prabowo Subianto menetapkan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp10.000 ribu per anak per hari. Hal ini diputuskan setelah rapat terbatas di istana negara. Di mana beliau yang awalnya menaksir porsi per anak Rp15.000, tetapi kemudian dilakukan penyesuaian, dikarenakan setelah melihat anggaran. Dalam jumpa pers presiden menyatakan bahwa program makan bergizi ini nanti rata-rata minimumnya pemerintah ingin memberi indeks per anak, per ibu hamil, itu Rp10.000 Rupiah per hari,”

Pada awalnya Prabowo mengalokasikan anggaran makan bergizi gratis sebesar Rp15.000 per anak/ibu hamil per hari. Namun dikarenakan kondisi anggaran, yang memungkinkan saat ini adalah Rp10.000 ribu per porsi.

Seperti yang dilansir ekonomi.republika (30-11-2024), bahwa pemerintah akan mengalokasikan Rp.71 triliun pada tahun depan untuk melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG) untuk anak-anak dan ibu hamil. Anggaran sebesar ini untuk penyediaan makanan per porsi Rp10.000 untuk anak/ibu hamil per hari.

Turunnya anggaran MBG menjadikan pemberian makanan bergizi jauh dari harapan. Target perbaikan gizi tentu makin tidak realistis di tengah tingginya inflasi dan naiknya harga-harga bahan makanan. Alasan ini diungkapkan oleh Prabowo dengan alasan karena terbatasnya anggaran. Yang dimana awalnya Badan Gizi Nasional telah mematok makanan yang memenuhi gizi dianggarkan Rp15.000 per anak di APBN. Dengan turunnya anggaran MBG menjadi Rp10.000 per porsi Prabowo berdalih telah cukup memenuhi gizi.

Alasan karena keterbatasan anggaran makin menunjukkan bahwa negara tidak benar-benar memberikan solusi perbaikan gizi generasi. Apalagi ada banyak proyek yang sebenarnya tidak membawa manfaaat untuk rakyat. Kekayaaan SDA Indonesia yang seharusnya bisa menjadi sumber pemasukan negara yang dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat, realitanya upah masih sangat rendah. Ini merupakan satu kondisi umum yang tergambar dari standar UMR yang ditetapkan di setiap daerah.

Dalam sistem ekonomi kapitalis negara tidak memiliki mekanisme untuk mensejahterakan rakyat. Ditambah dengan sempitnya lapangan pekerjaan dengan upah yang minim menjadi fenomena di tengah masyarakat. Di mana masyarakat harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga menciptakan kesenjangan kesejahteraan.

Sumber daya alam dikuasai oleh asing akibat dari penerapan sistem ekonomi neoliberalisme. Kelaparan di mana-mana merupakan keniscayaan dan ini menjadikan problem sistemis akibat dari krisis parah yang berkepanjangan. Padahal makanan bergizi merupakan salah satu kebutuhan pokok rakyat, terlebih untuk kebutuhan generasi agar tumbuh menjadi generasi yang kuat fisiknya.

Islam membutuhkan SDM yang kuat, karena merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting untuk mewujudkan negara yang kuat dan mandiri. Dengan generasi yang sehat dan kuat fisiknya akan mampu untuk memperjuangkan kebangkitan Islam. Berjuang untuk mengembalikan tatanan kehidupan Islam agar bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt. daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, janganlah kamu mengatakan, ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya.’ Ini karena sesungguhnya ungkapan kata ‘law’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan setan.” (HR Bukhari).

Islam menjadikan negara sebagai raa’in yang akan menjamin kebutuhan hidup rakyat semuanya, tidak hanya pada generasi apalagi hanya siswa sekolah dan ibu hamil. Tanggung jawab negara adalah menjamin kesejahteraan rakyatnya, dan memenuhi kebutuhan rakyatnya, karena akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah Swt. Oleh karenanya, pemimpin dalam Islam harus memperhatikan kehidupan dan kebutuhan rakyatnya, termasuk jaminan atas kesehatan dan kebutuhan gizi generasi mudanya.

Hanya dengan Islam dan menerapkan seluruh hukum Allah dalam seluruh tatanan kehidupan, yang akan melahirkan generasi yang kuat dan sehat. Dengan diterapkannya kepemimpinan Islam rakyat akan menjalani kehidupan dengan tenang, tanpa stres dan sehat fisiknya. Karena semua kebutuhan dasar hidupnya baik sandang, pangan dan papan akan dijamin pemenuhannya oleh negara, juga mencakup kebutuhan pokok akan makanan yang bergizi.

Islam juga menetapkan standar hidup yang tinggi yang harus diwujudkan oleh negara. Negara dalam Islam yang mampu mewujudkannya, karena memiliki sumber pemasukan yang beragam dan banyak yang akan mampu mewujudkannya, yaitu dengan mengelola SDA secara adil, baik itu kepemilikan umum, kepemilikan individu dan kepemilikan negara. Hal ini akan menjadikan sumber pemasukan untuk memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan bahkan gratis. Dengan pengelolaan SDA oleh negara akan bisa membuka lapangan pekerjaan yang sangat luas dan dengan gaji yang besar, untuk itu bisa terpenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan masyarakat.

Dalam Islam pemimpin memiliki sifat empati dan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Seperti Khalifah Umar bin Khaththab ra., yang senantiasa memberi masyarakatnya makanan, harta, dan sebagainya. Dananya bersumber dari baitul maal. Saat rakyatnya ditimpa kelaparan, beliau bahkan memutuskan tidak akan makan mentega dan daging sampai musibah berakhir. Ketika perutnya terasa lapar, Khalifah Umar memegang perutnya sambil berkata, “Wahai perut, terbiasalah engkau makan minyak wijen. Ingat, minyak samin sedang mahal.” Beliau memiliki prinsip yang teguh dan pernah mengatakan, “Biarlah aku yang pertama kali merasakan lapar dan menjadi orang terakhir merasakan kenyang.”

Beginilah sikap seorang pemimpin sejati dalam Islam, tidak hanya memberikan janji -janji manis yang tidak sesuai dengan kenyataan. Pada kondisi rakyat mengalami kesulitan ekonomi dan kelaparan, pemimpin Islam akan berupaya memenuhi kepentingan rakyat terlebih dahulu. Semua itu hanya bisa direalisasikan dengan diterapkannya syariat Islam secara kafah dan keseluruhan dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button