Opini

Bunuh Diri Pelajar, Kegagalan Sistem Mengayomi Negeri

Sistem Islam yang menjadikan tujuan pembangunan kepribadian Islam sebagai inti sistem pendidikan, menjamin akses pendidikan pada semua warga negara dan menghasilkan masyarakat yang kokoh sejahtera.


Oleh Zia Sholihah
(Pemerhati Remaja)

JURNALVIBES.COM – Miris ketika melihat banyak fenomena di luar sana. Bagaimana kehidupan anak muda yang didominasi dengan kebebasan dan hura -hura, dengan dalih mengekspresikan diri. Sesuatu yang sebenarnya membawa dampak buruk di segala lini, karena mereka hidup berdampingan dengan masyarakat luas. Generasi muda para pelajar ini diakui atau tidak, hidupnya pun masih bergantung pada orang-orang di sekitar. Maka sungguh disayangkan jika fakta memperlihatkan mereka terkesan ingin jadi ekslusif tanpa mau mendengar nasihat dari masyarakat.

Tak bisa dipungkiri, bahwa rata-rata dari kaum pelajar adalah remaja. Mereka yang memiliki jiwa masih labil dan perlu diarahkan tanpa perlu mengekang secara berlebihan.

Namun yang menjadi PR besar adalah faktor yang menghambat keberhasilan mereka di masa depan salah satunya kenakalan remaja. Suatu kondisi dimana remaja melanggar nilai dan norma-norma sosial.

Perbuatan tersebut tidak hanya merugikan sendiri tetapi akan merugikan masyarakat dan orang-orang terdekat. Kenakalan remaja bukan hanya meliputi penggunaan narkoba, minuman keras, merokok, tawuran, balapan liar, bolos sekolah, dan melakukan seks bebas.

Tidak taat pada orang tua dan guru, serta sering kali tidak belajar dengan benar juga termasuk kenakalan remaja yang tak boleh diabaikan. Apalagi jika sudah jauh dari nilai agama itu sendiri.

Keadaan keluarga sangat mempengaruhi kenakalan remaja yang saat ini semakin mengkhawatirkan. Misalkan diakibatkan oleh efek broken home yang dapat mempengaruhi perkembangan anak, komunikasi dalam keluarga yang kurang lancar, peran orang tua yang tergantikan oleh gadget.

Apabila anak mengalami kurang kasih sayang orangtua, maka anak tersebut akan mencari kasih sayang di luar rumah dengan cara yang salah. Contoh nyata adalah kasus viral seorang pelajar yang bunuh diri karena tidak lulus ujian PTN.

Miris sekali, ketika dia tidak lagi memiliki orang tua, dan harus jauh dari sang kakak sebab kesibukannya dengan si pacar dan teman-teman. Aktivitas dunia membentuk karakter gadis itu, hingga ia menjadi lemah dalam berpikir. Gadis tersebut nekat mengakhiri hidup lantaran pesan toxic dari pacar korban dan tanpa dukungan keluarga dalam hidupnya.

Kasus lain menyebutkan seorang gadis berinisial BH di Samarinda gantung diri, lantaran tak juga lulus kuliah. Miris memang. Bagaimana bisa hidup yang masih panjang tetapi putus asa di tengah jalan. Lihatlah kepada perempuan -perempua seusianya yang mereka tetap bahagia, bahkan 1000 kali lebih bahagia ketika dia bukan seorang mahasiswi atau pun siapa-siapa.

Betapa banyak orang sukses bahkan tanpa menyandang gelar sarjana. Meski belajar itu wajib, dalam Islam sendiri berhasil dan pintar dalam belajar itu bukanlah kewajiban. Karena Tuhan menilai dari upaya dan proses yang kita lalui.

Ini hanya satu dua fenomena. Bagaimana dengan fenomena lain? Betapa banyak remaja terpuruk karena tak memahami arti hidup sesungguhnya.

Banyaknya kasus bunuh diri pada pelajar adalah bukti nyata pendidikan sekuler gagal membangun kepribadian kuat pada pelajar. Di saat sama sistem sekuler membangun masyarakat yang penuh tekanan hidup, sulit mendapat kebutuhan (termasuk sulit sekolah) dan seterusnya.

Dimana pendidikan sangat berpengaruh dalam pekembangan remaja saat ini. Pendidikan sangat berguna untuk membentuk kepribadian bagi peserta didik, akan tetapi peran sekolah relatif kecil untuk membentuk kepribadian peserta didiknya. Faktor tersebut dapat dipengaruh dari cara bertemannya.

Lingkungan masyarakat pun dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya kenakalan remaja. Lingkungan atau tempat tinggal yang ditempati itu adalah lingkungan keras atau kurang peduli antar sesama maka yang terjadi anak akan meniru komunitas tersebut.

Ienakalan remaja yang terjadi dipengaruhi oleh kurangnya pendidikan, krisisnya ekonomi, kurangnya motivasi dari keluarga, dan cara berteman yang salah. Di Daerah Sumatera sudah tak asing lagi dengan kejadian pembunuhan, seks bebas dimana-mana, begal dan lain-lain.

Bagaimana cara menghadapi semua masalah ini? Pertama kuatkan pendidikan agama. Dengan mendapat bekal ajaran agama yang cukup, seorang anak dapat memilih hal-hal yang baik dan hal-hal buruk.

Menjalin hubungan baik antara orang tua dan anak. Karena sejatinya hanya Islam yang menjaga fitrah manusia, terutama kaum pelajar, generasi penerus bangsa. Hal tersebut dapat membuat seorang anak merasa sangat diperhatikan. Dalam keluarga, seharusnya ada keterbukaan agar orang tahu keluh-keluhan masalah yang dihadapi anak tersebut. Orang tua juga harus mengawasi kegiatan anak, baik dirumah maupun pergaulan anak.
Mendukung kegemaran anak
Seharusnya orang tua mendukung hobi yang anak inginkan selama itu masih positif.

Bimbingan kepribadian. Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.

Sistem yang berjalan sudah gagal mengayomi para pelajar. Bukan hanya gagal mencapai target tapi juga karakter mereka hancur karena sistem yang terkesan menekan berbagai pihak, sehingga tidak mampu menyelematkan posisi para pelajar itu.

Berkebalikan dengan sistem Islam yang menjadikan tujuan pembangunan kepribadian Islam sebagai inti sistem pendidikan, menjamin akses pendidikan pada semua warga negara dan menghasilkan masyarakat yang kokoh sejahtera.

Maka haruskah kita duduk diam melihat semua fenomena yang ada? Ataukah ikut bergerak melakukan perubahan demi mewujudkan generasi penerus yang kokoh? Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button