Kehidupan Sekuler Kapitalis Melahirkan Individu Sadis

Islam telah menetapkan seperangkat aturan yang begitu agung dan sempurna, baik yang menyangkut masalah perkawinan, waris, nasab, perwalian, talak, rujuk, dan lain-lainnya.
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Sampai hari ini kekerasan suami terhadap istri belum berhenti, seperti memukul, mencaci bahkan sampai tega melakukan tindak kekerasan fisik pada istri. Yang katanya teman sehidup semati malah disakiti bahkan sampai dihilamgkan nyawanya.
Seperti yang dirilis news.republika (12/9/2023), seorang suami tega membunuh istrinya di rumah kontrakannya di Kampung Cikedokan, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (7/9/2023) sekitar pukul 22.00 WIB. Motif pembunuhan dikarenakan kesal saat ditanya masalah uang belanja oleh sang istri.
Mengutip kompas (16/9/2023), seorang suami di Kota Singkawang, Kalimantan Barat juga tega menusuk istrinya hingga meninggal karena tidak terima digugat cerai. Peristiwa tersebut terjadi di rumah mereka di Jalan Gunung Besi Lirang, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat pada Kamis 7 September 2023.
Sementara itu seorang juru parkir di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat telah diamankan polisi atas kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menewaskan istri sirinya. Peristiwa tragis itu terjadi di kediaman pelaku di Dusun Warung Wetan, RT 06/03, Desa Imbanagara, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis pada Minggu (10/9/2023).
Memang sangat miris sekali akan banyaknya kasus KDRT dengan berbagai penyebab hingga mengakibatkan tindak pembunuhan. Ini menunjukkan karena lemahnya pengelolaan emosi dan daya tahan dalam menghadapi beratnya kehidupan. Inilah potret buram kehidupan sekuler kapitalistik yang jauh dari keimanan. Akibat semakin sulitnya memenuhi kebutuhan hidup, karena tidak adanya pendapatan keluarga dan kebutuhan semakin mahal. Maka semakin sulitlah kehidupan masyarakat yang berakibat pada depresi, stress hingga melakukan perbuatan sadis dalam menjalani kehidupan.
Sistem kapitalis membuat rakyat banyak yang mengalami disharmoni bahkan disfungsi akut akibat himpitan ekonomi dan krisis. Keluarga tidak bisa lagi diharapkan menjadi benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan. Masyarakat semakin kehilangan fungsi kontrol akibat sekularisme yang melahirkan masyarakat individualis yang menjadikan semakin sadis dan kejam.
Akibat kebutuhan hidup yang semakin mahal, hidup semakin susah dan semakin menderita karena beban hidup yang bertambah sengsara. Hidup semakin sempit, masyarakat stress karena tidak terpenuhi kebutuhan ekonominya.
Sekularisme, liberalisme dan kapitalisme meniscayakan kehidupan yang serba sempit yang jauh dari berkah. Terbukti hingga saat ini dunia terus dilanda krisis dan kehidupan semakin serba sulit, sedangkan pemimpin masa bodoh dengan kondisi rakyatnya. Negara yang harusnya menjadi pengurus dan penjaga umat sibuk pada kepentingan asing dan pengusaha. Akibatnya kondisi ekonomi rakyat semakin susah, kehidupan semakin sulit sehingga memunculkan masalah di dalam keluarga, salah satu di antaranya adalah kekerasan dalam rumah tangga. Para suami yang kesulitan mencari kerja, hingga tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Akibatnya timbul stress pada keluarga yang memunculkan riak-riak dalam rumah tangga. Yang selanjutnya berdampak pada ketidakharmonisan keluarga hingga berujung pada kekerasan dalam rumah tangga.
Sistem sekularisme kapitalisme menjadikan hidup bebas berperilaku dan menjauhkan agama dari kehidupan. Membuat pasangan suami istri yang seharusnya sebagai relasi, akibat tidak adanya keimanan didalam rumah tangga, menjadikan suami yang lebih kuat dan berkuasa bisa bertindak keras terhadap istinya. Mereka menganggap bahwa hidup hanya di dunia saja, dan semakin bebas berbuat sekehendaknya. Mereka tidak yakin akan kehidupan akhirat, oleh karenanya bebas melakukan dan memenuhi apa yang diinginkan. Maka karenanya banyak perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Apalagi kapitalisme mengusung jargon siapa yang kuat dia yang menang.
Berbeda dengan akidah Islam yang memberikan kekuatan dan kesabaran pada seorang hamba dalam menghadapi kesulitan dan beratnya kehidupan. Keimanannya menjadi perisai untuk sabar dan tetap dalam kewarasan, ketika bertemu masalah tidak melakukan kemaksiatan. Laki-laki dan perempuan didalam Islam memiliki hak dan kewajiban yang sama. Baik sebagai sesama manusia maupun sesuai dengan kodratnya, yang dimana semuanya nanti akan dimintai pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Islam mengharuskan setiap manusia terikat kepada hukum syara’ di sepanjang hidupnya di dunia.
Dalam Islam negara akan memberlakukan politik ekonomi Islam yang menjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan rakyatnya. Misalnya dengan menyediakan fasilitas gratis, seperti pendidikan gratis, layanan Kesehatan gratis, maupun keamanan. Juga pada birokrasi, jalan, pasar, dan beberapa fasilitas umum lainnya. Untuk sandang, pangan, dan papan (perumahan), akan tersedia dengan harga murah dan mudah dijangkau.
Kebijakan ini diberlakukan bagi seluruh rakyat, muslim maupun nonmuslim. Oleh karenanya, pelaksanaan politik ekonomi ini akan menyejahterakan semua rakyat tanpa diskriminasi. Negara di dalam Islam juga membantu rakyatnya agar hidup tenang aman dan damai dalam suasana keimanan, dengan memenuhi kebutuhan manusia dan mensejahterakannya melalui penerapan Islam kafah. Karena Islam telah menetapkan seperangkat aturan yang begitu agung dan sempurna, baik yang menyangkut masalah perkawinan, waris, nasab, perwalian, talak, rujuk, dan lain-lainnya.
Semua aturan yang sejalan dengan pandangan Islam yang sangat concern terhadap masalah keluarga dan menempatkannya sebagai bagian penting dalam masyarakat. Dan negara akan mewujudkan kesejahteraan rakyat dan ketenteraman hidup setiap warganya serta memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik.
Dengan Islam akan terwujud kondisi sakinah, kebahagiaan, dan kesejahteraan dalam keluarga yang menerapkan aturan Islam. Pasangan suami istri akan melaksanakan hak dan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Islam dan tidak ada tindakan sadis yang saling merugikan. Keluarga akan terikat syariat dalam menjalani biduk rumah tangga dan akan menjadi keluarga muslim pembangun peradaban.
Inilah gambaran betapa indahnya apabila hukum Islam diterapkan. Kebutuhan masyarakat akan terpenuhi, keadilan dan kesejahteraan akan merata, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin akan terwujud sempurna. Semua itu hanya bisa terwujud dengan diterapkannya Islam secara kafah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






