Matinya Naluri Ibu Akibat Sekulerisme

Pendidikan dalam Islam difokuskan untuk memiliki akidah Islam, mempelajari syariat, akhlak dan sejarah islam sejak dini, melalui pendidikan di sekolah. Pendidikan dasar keimanan disampaikan sesuai dengan metode berfikir yang benar. Sehingga arah pendidikan Islam adalah menjadikan masyarakat memiliki kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam) serta mahir dalam bidang sainsĀ danĀ teknologi.
Oleh Najwa Ummu Irsyad
JURNALVIBES.COM – Akhir-akhir ini kita selalu disodori dengan peristiwa yang mengusik nurani. Mulai dari kasus penjualan bayi, sampai kasus seorang ibu yang tega menyerahkan anak gadisnya untuk dijadikan sebagai pemuas syahwat demi imbalan materi.
Seperti kasus seorang ibu di Kabupaten Sumenep rela bahkan mengantarkan sendiri anak gadisnya untuk dicabuli oleh orang lain. Tak hanya sekali, kejadian serupa dilakukan hingga 5 kali, pencabulan tersebut dilakukan dengan orang yang sama di tempat yang berbeda. Hal itu dilakukan secara sadar dengan alasan sebagai ritual pensucian. (Kumparan, 1-9-2024)
Demi alasan apapun, seorang ibu yang seharusnya menjadi pendidik utama dan pertama seharusnya tidak melakukan kekejian luar biasa seperti itu. Fenomena tersebut menunjukkan matinya naluri keibuan itu nyata adanya. Kejadian ini semakin menambah panjang deretan potret buram rusaknya pribadi ibu dan rusaknya masyarakat.
Kerusakan ini bisa disebabkan karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari seorang ibu yang tega mengantarkan anaknya untuk dinodai, apapun alasannya, baik secara hukum maupun agama, ini adalah kesalahan. Melanggar hukum negara dan agama.
Sekularisme menjadikan pemikiran seseorang rusak, menjadikan hubungan keluarga kalah dengan materi. Orientasi kehidupan bertumpu pada materi. Agama dikesampingkan, bahkan siapapun yang hidup dalam sistem sekuler ini tidak lagi memperhatikan perilakunya apakah sesuai dengan syariah atau tidak. Bahkan perilakunya tidak lagi sesuai dengan norma umum ditengah masyarakat. Hanya karena materi ataupun alasan kediuniawian, seseorang tega melakukan segala hal, termasuk menumbalkan anak kandungnya sendiri demi kepuasan duniawi.
Dilihat dari latar belakang pendidikan ibu korban, maupun pelaku, keduanya tercatat sebagai PNS. Jadi, tingginya intelektualitas seseorang tidak menjamin mereka memiliki prilaku dan akhlak yang baik. Fenomena ini menunjukkan adanya persoalan sistemis dan bukti kegagalan sistem pendidikan yang diterapkan oleh negara.
Inilah faktor kedua yang pengaruhnya lebih besar, yaitu faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut adalah peran negara. Negara berperan merusak tatanan keluarga, sebab kebijakan dan sistem kehidupan yang diterapkan. Negara bertanggung jawab atas sistem pendidikan yang berlangsung. Sistem pendidikan sekuler yang berkiblat ke barat menjadikan agama dikesampingkan, agama yang berperan membentuk generasi tangguh tidak menjadi point of view. Sistem pendidikan mengabaikan bagaimana seharusnya masyarakat membangun keluarga yang sesuai dengan syariat Islam.
Sistem politik neoliberal menjadikan kebijakan-kebijakan yang diterapkan semakin mempersulit hidup, bahkan menjauhkan dari nilai-nilai agama. Masyarakat dipersulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini diperparah oleh sistem ekonomi kapitalisme. Dimana semua pelayanan bagi masyarakat diperjualbelikan, semuanya pelayanan menjadi mahal, baik pendidikan, kesehatan maupun kebutuhan pokok lainnya.
Berbeda dengan Islam, yang menetapkan peran dan fungsi ibu sebagai pendidik yang pertama dan utama. Orang tua yang senantiasa berpegang pada akidah Islam bisa dipastikan akan melindungi keluarga dari kejahatan dan kemaksiatan. Fungsi ibu mendidik anak-anak agar memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Hal ini ditopang oleh kebijakan negara yang juga sesuai dengan Islam.
Islam mewajibkan penguasa bertanggung jawab mengurus semua permasalahan rakyatnya. Negara berkewajiban menghadirkan suasana tenang, aman, damai serta senantiasa dalam suasana keimanan. Negara juga berperan menjaga akidah umat.
Kesempurnaan sistem Islam tampak dari sistem pendidikan yang membentuk kepribadian Islam. Negara memastikan sistem pendidikan yang diterapkan didasarkan pada akidah Islam. Pendidikan dalam Islam difokuskan untuk memiliki akidah Islam, mempelajari syariat, akhlak dan sejarah islam sejak dini, melalui pendidikan di sekolah. Pendidikan dasar keimanan disampaikan sesuai dengan metode berfikir yang benar. Sehingga arah pendidikan Islam adalah menjadikan masyarakat memiliki kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam) serta mahir dalam bidang sains dan teknologi.
Dengan modal keimanan yang kuat dalam setiap individu masyarakat, maka hal itu mampu memberikan kekuatan serta kesabaran dalam menghadapi permasalahan kehidupan. Apapun permasalahan kehidupan yang dihadapi, seorang Muslim tidak akan menyimpang dari akidahnya. Apapun permasalahan yang dihadapi keluarga, seorang ibu dengan akidah yang kuat bisa dipastikan tidak akan pernah mengantarkan anaknya kepada kemaksiatan. Sebab tertanam dalam dirinya firman Allah Swt. yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari siksa api neraka” (TQS. at-Tahrim Ayat 6).
Di sisi lain untuk menjaga akidah umat agar senantiasa kuat, pemerintah juga menegakkan aturan yang sesuai dengan syariah. Hal itu diterapkan melalui UU yang wajib ditaati oleh masyarakat. Sistem sanksi yang diterapkan oleh pemerintah akan menjaga masyarakat dari ketidakadilan.
Keterikatan kepada hukum syara di seluruh sistem kehidupan inilah yang mampu menjaga setiap individu dalam kebaikan, ketaatan dan keberkahan Allah. Sehingga masing-masing individu akan memahami peran dan fungsinya dengan benar. Dengan ini negara mampu menjaga fitrah ibu, dan anak sebagai manusia seutuhnya. Wallahu aālam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






