Opini

Mie Instan dan Standar Kemiskinan

Islam menawarkan solusi atas problematika umat saat ini dalam setiap aspek kehidupan. Termasuk aspek pertanian. Untuk mencapai swasembada pangan dan ketahanan pangan saat ini benar-benar dibutukan solusi yang tuntas.


Oleh Desi Melza

JURNALVIBES.COM – Berbicara tentang mie instan siapa yang tidak kenal. Makanan yang disukai oleh semua kalangan baik muda maupun tua, kalangan menengah ataupun orang kaya. Itulah mie instan makanan dengan penyajian yang mudah dan memiliki masa ketahanan yang cukup untuk dijadikan stok pangan.

Berdasarkan data Instantnoodles , jumlah konsumsi masyarakat Indonesia terhadap mie instan 13.27 miliar bungkus selama tahun 2021. Jumlah ini meningkat 4,98% dari tahun sebelumnya. Kondisi pandemi menunjukkan bahwa tingkat konsumsi terhadap mie instan semakin meningkat karena makanan ini dapat disimpan dalam waktu lama. Begitu pula bentuk bantuan sosial yang dibagikan ke masyarakat pada umumnya selain berupa makanan pokok seperti beras, minyak goreng, telur dan salah satunya adalah mie instan.

Alih-alih melihat proyeksi Menteri Pertanian tentang mie instan. Syahrul Yasin Limpo menyatakan kenaikan mie instan bisa jadi tiga kali lipat. Maka dengan keadaan ini garis kemiskinan beresiko naik. Karena mie instan merupakan urutan kelima yang memberikan sumbangan terbesar dalam kategori garis kemiskinan. Hal ini dikatakan oleh Bhima Direktur Economic and Law Studies (Celios) kepada tempo, Ahad (14/8/ 2022).

Seandainya kenaikan harga mie instan ini terealisasi, maka terjadi pengaruh terhadap inflasi dan bertambahnya orang miskin baru. Jika melihat solusi yang akan dilakukan oleh pemerintah yang berencana mencari barang substitusi pangan untuk mie instan. Sebagaimana diketahui bahwa bahan pangan mie instan ini terbuat dari gandum, namun dengan adanya krisis pangan global saat ini maka akan terjadi perebutan terhadap komoditas tersebut.

Indonesia sendiri memiliki beberapa negara pemasok gandum. Negara pemasok utama gandum bagi Indonesia adalah Australia. Termasuk di dalamnya adalah Ukraina. Walaupun negara tersebut saat ini dalam keadaan krisis namun hal itu tidak terlalu berdampak terhadap pasokan gandum.

Pemerintah memiliki setidaknya tiga cara dalam mengatasi hal ini. Pertama, mengamankan stok gandum dengan melakukan diplomasi dagang dengan negara pemasok utama gandum ke Indonesia agar mendapat prioritas.

Kedua dengan mendorong substitusi bahan pangan. Sementara solusi yang ketiga dengan perluasan lahan serta mencari petani serius.

Kebutuhan terhadap gandum di Indonesia memang dipenuhi dari luar negeri. Di Indonesia sendiri gandum belum dijadikan prioritas untuk dikembangkan walaupun dalam sektor industri makanan yang berbahan dasar gandum yang turunannya berupa tepung terigu, masih diharapkan melalui impor. Melihat kondisi ini sebaiknya pemerintah melakukan usaha yang akan memajukan pertanian di bidang pangan yang akan memenuhi pasokan pangan negeri ini. Adanya harapan jika pemerintah tidak hanya fokus pada pangan tertentu saja supaya komoditas pangan yang lain juga diperhatikan.

Di samping itu jika pemerintah yang ingin melakukan solusi lain seperti mendorong bahan substitusi pangan, apakah solusi ini langsung bisa tercapai dalam jangka waktu singkat? Tentu tidak, karena jika ingin mendorong substitusi pangan pemerintah mesti menyediakan perluasan lahan dan juga petani yang serius untuk melaksanakan program ini. Di sisi lain untuk meningkatkan produksi bahan substitusi pangan nantinya, maka dibutuhkan insentif pupuk yang saat ini hanya diberikan untuk komoditas tertentu saja.

Mendorong substitusi pangan ini adalah suatu upaya pemerintah dalam melakukan ketahanan pangan. Indonesia dengan sumber daya alam yang tersedia, seharusnya lebih baik dalam menyediakan barang substitusi tersebut.

Sudah banyak geliat potensi sumber daya pangan Indonesia untuk bisa dijadikan bahan pembuat mie instan. Seperti contoh umbi-umbian. Salah satu yang populer adalah tepung yang terbuat dari singkong. Tepung singkong ini juga banyak bentuknya. Bisa sebagai bahan utama dalam membuat mie atau bersamaan dengan tepung terigu.

Dengan perbandingan yang sudah disesuaikan. Hal ini bisa membantu mengurangi ketergantungan terhadap gandum. Bahkan Indonesia akan mengimpor gandum tidak dalam jumlah besar jika substitusi tepung ini gencar dilakukan.

Upaya ketiga yang ingin dilakukan pemerintah adalah dengan perluasan lahan dan mencari petani yang serius. Aspek pertanian yang memang tidak terurus dan tidak adanya keseriusan pemerintah untuk mengembangkannya. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi hal seperti usia para petani yang tidak muda lagi, tidak tersedianya alat yang canggih, irigasi, pupuk, benih bahkan luas lahan pertanian itu sendiri yang sudah makin menyempit.

Indonesia memiliki petani dengan rata- rata usia 50 tahun. Melihat kondisi ini bahwa pemuda yang memang lebih dibutuhkan dalam sektor ini ternyata memilih sektor yang lain, seperti industri. Keadaan para petani yang sudah tidak muda lagi akan berpengaruh pada etos kerja petani itu sendiri.
Di samping ketersediaan alat pertanian yang canggih masih minim jika dibandingkan dengan negara lain.

Namun hal yang sangat berpengaruh adalah luas lahan pertanian yang semakin sedikit. Menurut data BPS tahun 2018 dengan analisinya bahwa alih fungsi lahan sawah capai 200.000 ha per tahun. Data juga menunjukkan bahwa alih fungsi lahan pertanian pada tahun 2018 berkisar 7.1 juta hektare.

Masifnya pembangunan di sektor industri membuat alih fungsi lahan pertanian semakin bertambah. Alih-alih ingin swasembada pangan bahkan untuk meningkatkan sektor di bidang pertanian maka yang dibutuhkan adalah keseriusan dari pemerintah untuk melakukan mitigasi krisis pangan global yang terjadi. Apakah dengan tiga poin solusi dari pemerintah tersebut dapat terealisasi dengan baik dan tepat jika masih menggantungkan nasib ketahanan pangan dari impor.

Inilah dampak dari sistem kapitalistik saat ini. Karena berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat dia berkuasa dan siapa yang memiliki modal dia dapat melakukan sesuai kehendaknya tanpa memikirkan kebutuhan hidup orang lain. Yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin maka semakin terpuruk.

Segala aspek kehidupan yang tidak bersandar kepada aturan Islam. Dapat dipastikan bahwa tidak hanya harga mie instan saja yang akan meroket bahkan komoditas lain juga bisa berdampak. Maka , semakin jelas standar kemiskinan seiring bertambahnya orang miskin baru.

Islam menawarkan solusi atas problematika umat saat ini dalam setiap aspek kehidupan. Termasuk aspek pertanian. Untuk mencapai swasembada pangan dan ketahanan pangan saat ini benar-benar dibutukan solusi yang tuntas. Dalam Islam ada dua strategi penting untuk meningkatkan pertanian yaitu strategi intensifikasi dan ekstensifikasi.

Strategi intensifikasi adalah strategi untuk meningkatkan produktivitas pertanian, seperti pengadaan pupuk, inovasi di bidang pertanian, adanya penyuluh pertanian, ketersediaan alat yang canggih, benih unggul dan dukungan sarana dan prasarana yang mendukung pertanian.

Strategi ekstensifikasi adalah strategi untuk meningkatkan perluasan lahan atau area pertanian. Dalam Islam, negara berhak mengambil lahan kosong yang tidak dipergunakan selama tiga tahun berturut turut. Kalau dilihat fakta saat ini banyak lahan kosong yang tidak difungsikan. Oleh negara lahan tersebut akan diambil alih untuk dijadikan lahan pertanian dan diberikan kepada orang yang mampu mengelolanya.

Dengan menjalankan dua strategi ini, suasana yang kondusif untuk mengembangkan sektor di bidang pertanian akan terwujud. Dengan melakukan pengawasan terhadap lahan yang memang tidak difungsikan untuk nantinya dikelola. Negara yang akan memastikan strategi intensifikasi bersamaan dengan strategi ekstensifikasi demi meningkatkan swasembada pangan dan ketahanan pangan.

Di sisi lain, pemerintah dapat menetapkan kebijakan dalam sektor pertanian yang akan mendukung suksesnya pengelolaan sektor ini.

Namun hal ini dapat terwujud jika negara yang menerapkan hukum syariat Islam yang memang mengatur dan menyelesaikan problematika umat saat ini.

Dengan terwujudnya hal tersebut maka akan berdampak kepada hasil pengelolaan pertanian. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan sebuah negara dan akan menghambat pertumbuhan kenaikan orang miskin dikarenakan sektor ini selain memenuhi kebutuhan pangan, dampak lainnya adalah tersedianya sektor lapangan pekerjaan bagi rakyat. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: ULinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button