
Perubahan akhlak yang menjadi simpul ketaatan dan keimanan itu tidak akan terjadi tanpa menerapkan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.
Oleh Ummu Hanif
(Pemerhati Sosial dan Keluarga)
JURNALVIBES.COM – Gegap gempita perayaan maulid Nabi saw. menggema se-antero negeri. Berbagai macam bentuk peringatan menunjukkan betapa cintanya kaum muslimin pada sosok Baginda yang Mulia. Sejarah Maulid Nabi Muhammad saw. adalah bertepatan pada sejarah hari kelahiran Nabi Muhammad saw. pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, seperti dari buku ‘Sirah Nabawiyah’ karya Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji.
Mengapa Maulid Nabi diperingati pada hari kelahirannya? Dilansir laman NU Online, Nabi saw. berbeda dengan para ulama, apalagi orang lain, jika ulama atau pahlawan dikenang pada hari wafatnya setelah terlihat jasa dan perjuangannya semasa hidupnya. Sementara Nabi Muhammad saw. sebelum kelahirannya pun, sudah membawa banyak keberkahan bagi seluruh alam.
Adapun sejarah peringatan Maulid Nabi menurut buku ‘Sejarah Maulid Nabi’ oleh Ahmad Sauri, dijelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi sudah dilakukan oleh masyarakat Muslim bangsa Arab sejak tahun kedua hijriah. Catatan tersebut merujuk pada Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa.
Lantas, Apa makna peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.? Makna peringatan Maulid Nabi adalah mengingatkan manusia tentang risalah dan sirah dari Nabi saw. Dengan begitu, umat Islam akan memahami bahwa satu-satunya tauladan adalah Nabi Muhammad saw., seperti dikutip dari buku ’37 Masalah Populer: Untuk Ukhuwah Islamiyah’ karya H Abdul Somad.
Maulid Nabi Muhammad saw. juga diperingati untuk memupuk cinta dan meneladan beliau. Salawat atas kanjeng Nabi saw. tidak cukup menjadi bukti kecintaan kepada beliau, tetapi harus disertai bukti berupa ketaatan dan turut memperjuangkan kembali tegaknya syariat dan peradaban Islam di muka bumi. Ini karena aturan Yang Maha Pencipta sajalah yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan dunia sekaligus merahmati seluruh alam semesta seisinya.
Memaknai maulid Nabi Muhammad saw. memberi keteladanan bagi kita untuk menjalankan agama Islam secara kafah di era digital. Peringatan yang dilakukan oleh masyarakat Muslim ini diharapkan bisa menjadi penyemangat bagi perjuangan masyarakat Islam.
Nabi Muhammad adalah sosok yang memiliki akhlak terpuji, bahkan merupakan suri teladan yang sempurna bagi umat Islam, tetapi ironisnya keteladanan beliau tidak bisa menjadi contoh bagi sebagian umat. Bahkan malah mengotorinya dengan perilaku yang sangat tidak terpuji. Korupsi merajalela tanpa adanya hukuman yg sepadan, kezaliman terjadi di mana-mana serta pelaksanaan penegakan hukum hanya tajam ke bawah tetapi tumpul keatas. Hukuman tidak membuat jera para koruptor, bahkan para penegak hukum bisa di negosiasi, contohnya Hakim Agung terkena OTT.
Pelecehan dan kekerasan terhadap wanita dan anak terjadi di mana-mana walaupun pihak kepolisian sudah membentuk unit perlindungan perempuan dan anak.
Narkoba merajalela di mana-mana walaupun sudah terbentuk Badan Narkotika Nasional (BNN). Seperti yg dikatakan, “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanyalah untuk menyempurnakan (memperbaiki) akhlak manusia.” ( HR Al-Baihaqi)
Akhlak atau moral inilah yang sangat diperlukan pada kehidupan menjelang kematian. Inilah fakta yang terjadi sekarang ini, suara keburukan jauh lebih banyak ketimbang kebaikan.
Melalui peringatan inilah diharapkan perilaku akhlak menjadi simpul ketaatan dan keimanan yang diharapkan bisa memperbaiki dan mengubah moralitas masyarakat di era digital yang membuat manusia makin berperilaku sebebas-bebasnya.
Perubahan akhlak yang menjadi simpul ketaatan dan keimanan itu tidak akan terjadi tanpa menerapkan Islam secara kafah. Islam kafah hanya bisa terjadi dalam naungan sistem Islam warisan Rasulullah saw., yaitu khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Wallahu a’lam bishawwab []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






