Teenager

Glow Up dan Cantik ala Islam

Hidup adalah pilihan yang kita ambil, saat pilihan kita terdorong karena hawa nafsu, bisa jadi hawa nafsu itu menjauhkan kita dari kebenaran.


Oleh Suci

JURNALVIBES.COM – Saat ini ramai di media sosial dengan tren reels glow up. Ini istilah yang sering digunakan kaum hawa, dan sudah tak asing lagi di kalangan remaja baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Glow Up

Glow Up berasal dari bahasa Inggris yang artinya bersinar atau bercahaya, kata ini identik dengan perubahan penampilan terutama pada area wajah dan tubuh yang ditujukan seseorang, khususnya kaum hawa (wanita).

Dalam bahasa gaul, Glow Up mempunyai arti perubahan, baik yang signifikan maupun bertahap dari waktu ke waktu. Seperti seseorang yang dahulunya tidak memperhatikan penampilan, berubah drastis menjadi seseorang yang sangat modis.

Tidak sedikit remaja layaknya kompetisi, membuat reels seperti itu, yang memperlihatkan wajah asli kemudian dipoles menjadi glow up versi mereka, dan hasilnya cukup membuat orang berdecak kagum. Sobat, ngomongin soal penampilan itu enggak ada habisnya, belum lagi standar yang berubah-ubah, beda jaman dan beda tempat, pasti berbeda standarnya.

Misalnya zaman Cina kuno, memiliki bentuk ukuran kaki yang kecil menunjukkan status kecantikan seorang wanita. Sedangkan para wanita Cina abad pertengahan, demi penampilan mengikuti standar cantik kala itu membuat alis berwarna. Bahkan, seorang Kaisar memerintahkan istrinya untuk mencukur habis alis mereka dan menggantinya dengan gambar alis memakai tinta mahal.

Pada akhir abad ke-14, menurut para sejarawan, Ratu Isabeau dari Bavaria menetapkan tren dengan dahi tinggi serta leher panjang sebagai standar kecantikan, dan masih banyak standar lainnya. Begitulah manusia terus bereksplorasi demi kepuasan yang tak ada ujungnya.

Setiap perempuan pasti dalam dirinya ingin mempunyai wajah yang mulus dan badan bagus supaya enak dipandang dan lebih percaya diri. Namun, itu semua tidak didapat dengan mudah, pastinya ada usaha untuk terlihat sempurna, touch up ini itu, gonta-ganti skin care, sampai diet ekstrim pun dilakukan.

Larangan Tabarruj

Perlu diperhatikan, jika terlalu berlebihan memoles diri, nanti jatuhnya tabarruj. Di awal hadirnya Islam, Allah Yang Maha Tahu menyampaikan pesan dalam Al-Qur’an, kepada perempuan mana saja yang mengaku dirinya beriman, untuk menyikapi kebiasaan perempuan-perempuan di masa jahiliah, yaitu larangan untuk tabarruj.

Allah Swt. berfirman yang artinya, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (TQS. Al-Ahzab [33]: 33)

Kalimat وَلَا تَبَرَّجْنَ dalam ayat di atas adalah kalimat larangan langsung, yang artinya jika kita melanggar larangan itu, hukumnya dosa. Pesan Allah di ayat ini sangat tegas, saat kita tak menghiraukan titah-Nya, berarti kita termasuk orang-orang yang membangkang.

Tabarruj adalah berhiasnya yang ditujukan untuk sengaja ditampakkan/diperlihatkan yang indah, yang istimewa yang ada pada diri seseorang, kepada yang bukan berhak melihatnya. Contoh-contoh tabarruj di antaranya membuka bagian kepala supaya terlihat rambutnya, paras wajahnya bersolek sedemikian rupa, pakaian yang ketat agar tampak lekukan tubuh, juga memakai aksesoris yang berlebihan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya, “Di antara yang termasuk ahli neraka ialah wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Yang berjalan dengan lenggak-lenggok untuk merayu dan untuk dikagumi. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.”

Islam Menjaga Keindahan

Islam itu syariatnya menjaga keindahan dan kehormatan perempuan. Sesuatu yang istimewa itu tidak dikonsumsi oleh bukan haknya, tampil cantik memang dambaan kaum hawa, hanya saja ada batasannya tidak tabarruj, tidak membuka aurat di depan nonmahrom, menjauhi hal-hal yang dilarang seperti, menyambung rambut, mentato tubuh, mencukur alis, mengikir gigi, dll.

Memang fitrah perempuan itu tertarik pada sesuatu yang indah, yang keren, yang lucu-lucu, dan Allah pun menyukai hal-hal yang indah. Islam tidak melarang berhias, yang ada Islam mengajarkan bagaimana cara berhias tanpa harus merendahkan wanita. Perlu digarisbawahi, apakah yang kita lihat indah sama tidak dengan apa yang ditetapkan indah oleh Allah?

Jangan-jangan selama ini yg kita anggap indah tidak disukai Allah. Lalu bagaimana supaya standar cantik kita berubah ke arah yang Allah Ridhoi? Dalam Islam cantik itu seperti apa sih? Kita bisa mencari tahu hal ini dari generasi terbaik.

Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya, “Sebaik-baik manusia ialah pada Generasiku (Sahabat), kemudian Generasi berikutnya (Tabi’in), kemudian Generasi berikutnya ( Tabi’ut Tabi’in),” (HR. Bukhari No. 3651 dan Muslim No.2533)

Jika sudah ada jaminan dari Rasulullah, harusnya kita tidak meragukan generasi terbaik ini, banyak shahabiyah yang glow up tidak hanya di dunia, di akhirat pun membuat bidadari surga iri padanya, masyaallah.

Salah satunya, kita bisa meneladani Sayyidah Aisyah Radhiyallaha anha, Rasulullah memberikan beberapa panggilan seperti Humaira, pipi yang kemerahan; Muwaffaqah, artinya semoga diberi petunjuk Allah; dan as-Shiddiqah, artinya perempuan yang jujur.

Masih banyak sosok para shahabiyah yang bisa kita teladani, dari Sayyidah Aisyah kita bisa menyimpulkan, ternyata cantik yang bersinar itu bukan hanya dari parasnya, tetapi juga dinilai dari kesalehan, kecerdasan, kejujuran, serta ketawadhuannya menjalankan perintah Allah azza wa jalla.

Cantik Hakiki

Perlu diingat, yang namanya dunia itu pasti ada akhirnya, pun demikian dengan kecantikan. Jangan sampai kita terlalaikan olehnya, karena secantik apapun tanpa kesalehan, hanyalah kesia-siaan. Hanya sekadar cantik di dunia saja bukan jaminan mudahnya masuk ke dalam surga. sebagai muslimah, kita bisa berupaya untuk terlihat glowing sampai akhirat, dengan menjaga wudu, mendirikan shalat malam, menjaga badan dengan pola hidup sehat, dan amal saleh lainnya.

Hidup adalah pilihan yang kita ambil, saat pilihan kita terdorong karena hawa nafsu, bisa jadi hawa nafsu itu menjauhkan kita dari kebenaran. Fokus pada penilaian manusia hanya membuang-buang waktu, ingin diakui manusia adalah hal yang sia-sia, fokuslah membangun visi akhirat yang bersinar sampai membuat iri bidadari surga, bekali diri dengan ilmu syar’i, karena tanpa ilmu, kita akan tersesat. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button