Konversi Gas ke Listrik, Solusi Kesejahteraan?

Dalam sistem Islam, negara wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Mulai dari sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lain sebagainya. Termasuk kebutuhan akan sumber daya alam untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Oleh Ana Dia Friska
JURNALVIBES.COM – Adakah disini yang tak kenal dengan kompor, sebuah alat yang bisa menghasilkan panas tinggi? Tentu saja tidak ada. Kompor adalah alat yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terlebih ibu-ibu dari kalangan atas hingga kalangan bawah pasti menggunakan alat ini.
Dahulu, kita menggunakan kompor dengan bahan bakar cair yakni minyak tanah, lalu berkembang menggunakan gas (alam bentuk padatan cair LPG lewat pipa saluran). Konon katanya gas LPG ini lebih bagus, lebih hemat, lebih sederhana, dan lain – lain, hingga akhirnya dikeluarkanlah si gas melon (LPG 3kg) dan gas naga (LPG 5kg) hingga sekarang.
Namun nyatanya saat ini gas melon dan gas naga semakin mahal, terlebih gas melon yang merupakan gas bersubsidi semakin langka. Saat ini pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN) sedang gencarkan program konversi kompor gas melon ke kompor listrik. Konversi dari kompor gas ke kompor listrik menjadi salah satu upaya mengurangi bahkan menghilangkan subsidi LPG 3kg.
Dalam menggencarkan konversi kompor gas ke kompor listrik, pemerintah akan membagikan paket kompor listrik kepada 300.000 penerima yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) secara gratis dalam satu paket berisi, kompor listrik dua tungku, satu alat masak, dan satu miniature circuit breaker atau MCB. Satu paket kompor listrik siap pakai itu nilainya seharga Rp 1,8 juta (Kompas.com, 21/09/2022).
Masakan Indonesia yang kaya rempah-rempah, ketika memasak membutuhkan panas api yang besar dan stabil. Jika menggunakan kompor listrik diperlukan alat khusus yang bisa cepat menghantarkan panas, tidak bisa dengan alat masak murahan yang biasa digunakan oleh rakyat biasa. Kalaupun bisa butuh waktu lama hingga akhirnya token listrik jebol ini lah yang menyebabkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Program pemerintah yang beralih dari kompor gas ke kompor listrik dengan tujuan irit impor dan irit biaya rumah tangga bukanlah solusi yang efektif. Jika ditelaah lebih dalam lagi, hal ini bukan membuat irit melainkan sebaliknya. Penggunaan kompor listrik ini membutuhkan daya yang cukup tinggi belum lagi tagihan listrik nantinya akan membengkak. Ditambah pemadaman listrik yang tiba-tiba.
Konversi kompor gas ke kompor listrik haruslah dilihat dari banyak aspek. Alasan “hemat” di sistem kapitalisme saat ini hanyalah ucapan semata yang ujung-ujungnya tetap liberalisasi lagi dan lagi. Sistem kapitalisme terbukti gagal dalam mengelola SDA. Melihat hal ini sangatlah menguntungkan bagi orang-orang kapitalis tapi secara tidak langsung menyakiti rakyat.
Indonesia negara yang kaya akan sumber daya alam, yang jika dikelola dengan benar pastinya akan mampu menyejahterakan rakyat dari semua kalangan. Namun sistem saat ini membuat rakyat semakin sengsara, karena sumber daya alam kita telah dikuasai oleh para kapitalis, ketika rakyat ingin mendapatkannya harus membayar dengan harga yang tinggi. Sehingga solusi yang efektif hanyalah dengan mengganti sistem dengan sistem yang benar yang mampu menyelesaikan segala problematika kehidupan, yakni sistem Islam.
Dalam sistem Islam, negara wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Mulai dari sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lain sebagainya. Termasuk kebutuhan akan sumber daya alam untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Karena tugas pemimpin atau negara adalah melayani rakyatnya, maka negara wajib memenuhi segala kebutuhan masyarakat dengan sempurna.
Rasulullah saw bersabda :
“Kaum Muslim bersekutu dalam tiga hal: air, padang dan api” (HR Abu Dawud).
Sehingga negara tidak boleh memprivatisasi atau swastanisasi sumber daya alam. Begitu pula dengan gas maupun listrik sebab itu merupakan hak rakyat, apalagi jika rakyat harus membelinya dengan harga mahal demi keuntungan negara maka suatu keharaman.
Sejatinya permasalahan utama bukanlah konversi gas ke listrik. Sebab masyarakat mau pakai gas atau listrik tidak masalah selama dipermudah perolehannya.
Yang menjadi masalah adalah SDA itu merupakan hak rakyat yang harus dipermudah dalam mendapatkannya, tapi dikarenakan salah kelola. Di mana penguasa bukan berfikir untuk kesejahteraan rakyat, namun bertindak sebagai pengusaha memakai hitung-hitungan untung rugi.
Namun inilah watak sistem kapitalisme yang berasaskan manfaat, sehingga penguasa dan rakyat layaknya penjual dan pembeli. Para penguasa lupa akan tugasnya yang harus mengayomi rakyat. Semua permasalahan ini akan berakhir rakyat mulai berfikir kritis dan berupaya mengembalikan kehidupan Islam dengan menerapkan syariat Islam secara kafah. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by google.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






