Opini

Ketika Rumah Tak Lagi Ramah, Apa yang Salah?

Dalam sistem Islam kurikulum pendidikan yang diterapkan berlandaskan pada akidah Islam. Sehingga akan melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi di dunia akan tetapi juga taat terhadap Allah. Salah satu wujud ketaatannya terhadap Allah adalah dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.


Oleh Astuti Rahayu Putri
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Semestinya rumah adalah tempat yang ramah bagi tiap anggota keluarga di dalamnya. Ketika rumah menjadi tempat yang ramah tentu saja ketenangan dan kenyamanan yang akan tercipta. Akan tetapi, ketika rumah tak lagi menjadi tempat yang ramah tentu ketidak nyamanan yang akan dirasakan. Sayangnya banyak keluarga yang kini merasakan hal tersebut. Perselisihan diantara keluarga yang terkadang berujung pada pembunuhan mulai banyak terjadi di sekeliling kita.

Seperti yang terjadi di Desa Kasugengan Kidul Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon, seorang warga berinisial K berusia 22 tahun tega menghabisi nyawa ayah kandungnya, yaitu Jana (52 tahun). Bukan hanya itu, K juga tega melukai adik perempuannya ( metrotvnews, 24-08-2024 )

Sungguh tak habis pikir, bagaimana hubungan keluarga bisa menjadi sedramatis itu. Bukankah tiap anggota keluarga seharusnya bisa saling menyayangi? Tapi, mengapa tangki kasih sayang itu seakan kering tak bersisa? Sehingga gampang saja saling membenci hingga tega saling menyakiti. Apakah penyebabnya?

Penyebab Rusaknya Bangunan Keluarga

Tentu, banyak faktor yang menyebabkan rusaknya bangunan keluarga saat ini sehingga rumah tak lagi menjadi tempat yang ramah. Namun, faktor penyebab yang paling mendasar adalah akibat dari penerapan sistem sekularisme dan kapitalisme dalam kehidupan saat ini. Sehingga memberikan dampak buruk pada banyak aspek kehidupan, termasuk dalam hubungan keluarga.

Mengapa bisa demikian? Karena sistem tersebut ketika diterapkan ia akan menentukan arah dan tujuan manusia dalam menjalankan kehidupan. Ketika sistem tersebut rusak, maka otomatis dia turut memberikan kerusakan dalam kehidupan.

Melalui penerapan sekularisme kehidupan akan dipisahkan dari unsur agama. Walhasil, manusia menjadi semakin jauh dari agama. Imbasnya, manusia gagal dalam menentukan arah dan tujuan hidupnya dengan benar. Tentunya, hal ini semakin membuka celah kerusakan terjadi. Karena ketika benteng keimanan dan ketakwaan pada diri manusia lemah, maka syahwat yang akan menguasai diri manusia. Tak heran jika hubungan antar manusia pun mudah tersulut emosi, termasuk hubungan antar keluarga. Masalah sepele bisa menjadi besar karena diselesaikan dengan hati yang penuh emosi bukan dengan hati yang tenang dan lapang.

Sedangkan melalui sistem kapitalisme, manusia menjadikan hidup ini hanya berlandaskan materi. Akhirnya semua diukur berdasarkan konsep untung dan rugi. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya ketika konsep ini diterapkan dalam hubungan keluarga? Tentu, sangat kacau hubungan yang tercipta. Akhirnya ketulusan rasa kasih sayang dalam ikatan keluarga kalah oleh kesenangan materi. Maka, akumulasi dari penerapan sistem yang merusak ini lah yang membuat bangunan keluarga pun menjadi rusak kian parah.

Selain itu, negara juga turut andil dalam menentukan keutuhan bangunan keluarga. Karena negara mempunyai kuasa dalam membuat kebijakan-kebijakan bagi rakyatnya. Namun sayangnya, negara belum berhasil memberikan kesejahteraan dalam berbagai aspek kehidupan sehingga berdampak pada rapuhnya bangunan keluarga saat ini.

Seperti dalam sistem pendidikan masih gagal dalam membentuk generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Hal ini tercermin dari anak-anak saat ini yang sulit sekali untuk berbakti kepada orang tua. Malah orang tua dianggap sebagai musuh yang mengekang kebebasan mereka. Bagaimana tidak, pendidikan agama sangat minim sekali diajarkan di sekolah.

Kemudian sistem ekonomi pun telah gagal memberikan kesejahteraan pada rakyat. Kemiskinan pun kian merajalela. Bagaimana keluarga bisa harmonis jika kebutuhan ekonomi saja tidak terpenuhi. Maka dari itu, masalah ini merupakan masalah sistemik yang butuh dituntaskan dengan sistem yang baik bukan yang malah merusak seperti saat ini.

Islam Mewujudkan ‘Baiti Jannati

Berbicara mengenai sistem yang dapat menuntaskan segala problematika kehidupan dengan baik, maka jawabannya ada pada sistem Islam. Karena melalui sistem Islam manusia dapat menjalankan kehidupan ini sesuai dengan tujuan untuk apa ia diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada Allah.

Hal tersebut pun dijelaskan dalam Al-Qur’an,
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” ( TQS. AZ Zariyat : 56).

Ketika manusia telah mengaitkan segala tujuan hidupnya untuk beribadah kepada Allah, maka rasanya tidak mungkin kerusakan dalam hubungan keluarga terjadi. Orang tua akan mengasuh dan mendidik anaknya dengan tulus karena Allah, begitu pula anak akan berbakti dan menyayangi orang tua juga dengan tulus karena Allah. Maka terwujud lah rumah yang ramah layaknya perumpamaan dalam Islam ‘baiti jannati’ (rumahku surgaku).
Hal ini dapat terwujud jika negara juga mendukung untuk menerapkan sistem Islam dalam segala aspek kehidupan, baik dalam aspek pendidikan, ekonomi, sosial, hukum, kesehatan maupun politik.

Dalam sistem Islam kurikulum pendidikan yang diterapkan berlandaskan pada akidah Islam. Sehingga akan melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi di dunia akan tetapi juga taat terhadap Allah. Salah satu wujud ketaatannya terhadap Allah adalah dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Selain itu, negara yang menerapkan sistem Islam secara kafah (menyeluruh) akan memberlakukan kebijakan yang sejalan dengan syariat. Misalnya, negara akan menjaga ketakwaan individu dengan melaksanakan kebijakan yang melarang tayangan-tayangan di media yang dapat memicu individu berbuat maksiat, seperti kekerasan maupun kriminalitas. Oleh karena itu akan terbentuk masyarakat yang penuh keimanan dan terjaga ketakwaannya. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button