Gelombang Ketiga Pandemi Datang, Apa yang Kita Siapkan?

Pandemi belum berakhir, dunia kapitalis gagal mengatasi pandemi dengan kacamata komersialisasinya. Akankah kita terus berharap penyelesaian pandemi padanya? Sudah saatnya kita kembali pada Islam sebagai solusi, termasuk solusi bagi penanganan pandemi.
Oleh Fatimah Azzahra, S.Pd.
JURNALVIBES.COM – Gelombang air laut di pinggir pantai sungguh pemandangan yang indah dan memanjakan. Namun beda cerita kalau gelombang yang dimaksud adalah gelombang pandemi. Tentu gelombang ini dikhawatirkan bahkan ditakuti oleh manusia.
Kasus Covid-19 di Indonesia sudah mulai melandai beberapa waktu ini. Sebagian besar rakyat pun sudah mulai beraktivitas kembali di luar rumah. Sekolah juga perkantoran mulai kembali mengadakan aktivitas tatap muka. Walau belum normal seperti sebelum pandemi dan masih beraktivitas menggunakan masker.
Sementara itu, dilansir dari CNBC Indonesia (19/10/2021), Singapura, Turki, Inggris, Rusia, hingga Selandia Baru kembali mengalami lonjakan kasus Covid-19. Lonjakan ini terjadi di tengah angka vaksinasi warga yang lebih tinggi daripada Indonesia. Diperkirakan lonjakan kasus Covid-19 kembali datang karena adanya varian Delta sementara pembatasan aktivitas sudah dicabut oleh pemerintah.
Dengan hadirnya gelombang ketiga pandemi, beberapa negara kembali menerapkan pembatasan aktivitas.
Misi Penyelamatan Ekonomi
Sebetulnya sejak bulan Juli lalu, WHO melalui komite daruratnya sudah mengingatkan bahwa varian baru Covid-19. Varian yang lebih berbahaya diperkirakan akan menyebar ke seluruh dunia, sehingga lebih sulit untuk menghentikan pandemi. (Kompas.com, 18/7/2021)
Pernyataan WHO ini menjadi dilema bagi negara-negara kapitalis. Di satu sisi mereka mengakui bahwa pandemi belum usai bahkan bisa terjadi situasi yang lebih parah. Di sisi lain, perekonomian negara tak bisa didiamkan begitu saja. Jadilah walau sudah diperingatkan oleh WHO, pemerintah tetap melanjutkan kebijakan pencabutan pembatasan aktivitas demi misi menyelamatkan roda perekonomian negara.
Inilah cara pandang ala kapitalis yang bertumpu pada materi. Nyawa rakyat pun jadi tumbal. Bahkan di tengah pandemi yang belum usai ini, mereka tega menjalankan bisnis dengan rakyat sendiri juga lintas negeri. Mengambil keuntungan yang banyak dari vaksinasi atau alat tes kesehatannya. Wajar jika sebagian orang menjadi bergelimang harta di tengah himpitan ini.
Framework Negara dalam Islam
Butuh solusi hakiki dengan framework tugas negara bukan korporasi dalam mengatasi pandemi ini. Evaluasi harus dilakukan pemerintah jika betul-betul ingin mengakhiri pandemi. Kebijakan vaksinasi, tes dan tracing, dan pembatasan aktivitas harus dilakukan dengan kacamata pe-riayah-an terhadap rakyat. Sebagai suatu kewajiban yang dilakukan oleh negara pada rakyat, tanpa embel-embel bisnis atau meminta bayaran.
Konsistensi aturan pun harus dilakukan, tidak tebang pilih. Yang ini tidak boleh berkerumun, yang itu boleh. Yang ini harus karantina, yang itu tak apa tidak dikarantina. Hal ini demi menumbuhkan kepercayaan rakyat terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam mengatasi pandemi.
Tak hanya itu, perlu solusi yang sinergis dari semua pihak hingga dunia internasional dalam menangani pandemi. Termasuk informasi atau pengetahuan tentang virus ini. Penelitian dilakukan oleh semua ilmuwan berbagai negara dengan tujuan yang sama, mengatasi pandemi. Tanpa ada tujuan komersialisasi.
Kalaupun harus berbayar, maka akan ditopang oleh sistem ekonomi yang kokoh. Sehingga uang yang keluar bukan berasal dari rakyat yang sedang kepayahan, tetapi dari pos pemasukan lainnya. Apalagi dalam Islam, ada banyak pos pemasukan bagi negara.
Pandemi belum berakhir, dunia kapitalis gagal mengatasi pandemi dengan kacamata komersialisasinya. Akankah kita terus berharap penyelesaian pandemi padanya? Sudah saatnya kita kembali pada Islam sebagai solusi, termasuk solusi bagi penanganan pandemi.
Sebagaimana Islam contohkan, penanganan pandemi yang dilakukan Umar bin Khattab jauh dari komersialisasi. Nyawa umat dijaga tanpa dihantamkan dengan penyelamatan ekonomi negara. Kebijakan lockdown diterapkan dengan pemenuhan kebutuhan warganya tanpa merasa negara rugi karenanya. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






