Opini

Kemiskinan Memicu Tumbuhnya Kejahatan

Dengan pengelolaan SDA dan kekayaan negara secara mandiri dan sesuai syara, tentu akan menghasilkan ketahanan ekonomi negara yang akan berimbas pada kemampuan negara dalam mencukupi kebutuhan rakyat. Negara akan mampu memberi harga pangan yang murah, memberi kemudahan dalam lapangan pekerjaan serta memberikan kemudahan bagi rakyat untuk mengakses berbagai kebutuhan.


Oleh Irohima

JURNALVIBES.COM – Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat dinantikan oleh seluruh umat Islam, karena bulan ini merupakan bulan yang penuh rahmat, kebahagiaan dan pengampunan. Bulan ini merupakan bulan suci yang setiap harinya layak di isi dengan aktivitas kebaikan dan meningkatkan keimanan, namun apa jadinya jika kesucian bulan Ramadan justru ternoda oleh kejahatan yang makin meningkat terlebih lagi menjelang lebaran?.

Baru-baru ini Polresta Bogor berhasil mengungkap tiga kasus pencurian kendaraan bermotor yang masing-masing terjadi di Jalan Warung Bandrek, kelurahan Bondongan, Kecamatan Bogor Selatan, Jalan Malabar Ujung, Bogor Tengah, dan di Jalan Cibadak, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor. Motif pelaku adalah menjual hasil curian untuk memenuhi kebutuhan (Radarbogor, 14/03/2024).

Sementara itu di Semarang, Jawa Tengah aksi pencurian terjadi kala korban MA (51) sedang melaksanakan shalat Tarawih di masjid. Sebuah laptop, satu ponsel, termasuk emas Antam 40 gram milik korban berhasil dibawa pelaku.

Maraknya kejahatan saat Ramadan kali seperti yang terjadi di Semarang dan Bogor bukanlah hal yang baru. Tren kenaikan kejahatan saat bulan suci hampir terjadi di setiap tahunnya. Sayangnya tindakan antisipasi dari pihak terkait kurang optimal. Bahkan pengamat kepolisian dari ISESS ( Insitute for Security and Strategic Studies) Bambang Rukminto menyayangkan upaya antisipasi kejahatan dari kepolisian seperti Operasi Kamtibmas yang hanya sebatas seremonial dan rutinitas tahunan tanpa ada evaluasi secara substantif (MediaIndonesia, 27/03/2024).

Motif para pelaku yang melakukan aksi kejahatan di bulan Ramadan hampir sama, yaitu karena untuk memenuhi kebutuhan. Tingginya harga kebutuhan hidup di tengah kondisi serba kekurangan membuat sebagian besar orang gelap mata dan rela melakukan apa saja. Apalagi menjelang hari raya, di mana harga kebutuhan pokok semakin berlipat ganda. Kejahatan yang marak terjadi di bulan Ramadhan ataupun di bulan yang biasa sejatinya disebabkan oleh kemiskinan yang mendera masyarakat dan lemahnya iman.

Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk menyejahterakan rakyatnya, kemiskinan adalah persoalan yang besar yang sepertinya sangat sulit diatasi. Sebaran pembangunan yang tidak merata, harga kebutuhan pokok yang naik tiap tahunnya, pajak yang semakin tinggi, dan kebutuhan lain seperti pendidikan juga kesehatan yang semakin menukik di tengah sempitnya lahan pekerjaan adalah hal yang meniscayakan kemiskinan.

Meskipun data menyebutkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2023 menurun 0,21 % poin terhadap September 2022 menjadi 9,36%, tetap saja fakta di lapangan tak bisa kita abaikan. Semakin hari kita saksikan betapa membludaknya pengangguran, kita juga kerap menemukan tuna wisma, anak yang putus sekolah, gelandangan bahkan yang kelaparan. Banyak keluarga yang tidak memiliki pendapatan tetap, jangankan membeli pernak-pernik lebaran, untuk memenuhi kebutuhan dasar pun mereka kesulitan. Urusan perut memang tak bisa digantung, ketika lapar telah mendera orang terkadang bisa buta dan tak lagi berpikir logika, dan mengesampingkan ajaran agama untuk menjauhi larangan-Nya.

Kejahatan yang timbul akibat meningkatnya kemiskinan sejatinya adalah buah dari penerapan sistem kapitalisme sekuler. Sistem kapitalis telah membuat jurang lebar antara si kaya dan si miskin. Sistem ekonomi ala kapitalis yang bebas dalam hal kepemilikan membuat para pemilik modal besar bebas menguasai hajat hidup orang banyak seperti tambang dan sumber daya alam negara hingga masyarakat sulit memenuhi dan mengakses kebutuhan pokok secara gratis atau murah.

Padahal SDA dan kekayaan negara bisa digunakan sebagai alat memenuhi kebutuhan rakyat. Seberapa keras pun rakyat berusaha, rakyat tetap tak bisa lepas dari kemiskinan karena adanya dominasi para kapitalis.
Sistem ekonomi kapitalis telah gagal dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan rakyat, sistem ini juga sistem yang jahat karena tak hanya membolehkan penguasaan pada SDA dan kekayaan negara lainnya, tapi juga bebas mengkapitalisasi hampir seluruh aspek kehidupan. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan rakyat dalam sistem ini, seperti terjajah di negeri sendiri. Pemahaman sekuler yang meniadakan agama dalam kehidupan yang turut mengiringi kapitalis juga membuat orang beriman lemah, bersedia melakukan kejahatan tanpa pikir panjang.

Kegagalan kapitalis sekuler harusnya sudah cukup menjadi bukti bahwa kita harus segera membuangnya dan menggantinya dengan sistem yang jauh lebih baik dan bisa menjamin kesejahteraan yaitu sistem Islam. Karena Islam tak hanya mengatur ritual ibadah saja, namun juga mengatur seluruh urusan yang berkaitan dengan rakyat termasuk hal kesejahteraan.
Negara dalam Islam akan memberlakukan sistem perekonomian Islam, di mana negara akan memegang kendali atas jalannya roda perekonomian. Islam juga mengatur hak kepemilikan yang melarang pihak asing/individu/swasta menguasai hajat hidup orang banyak. Semua akan sepenuhnya dikelola oleh negara yang hasilnya akan dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat.

Dengan pengelolaan SDA dan kekayaan negara secara mandiri dan sesuai syara, tentu akan menghasilkan ketahanan ekonomi negara yang akan berimbas pada kemampuan negara dalam mencukupi kebutuhan rakyat. Negara akan mampu memberi harga pangan yang murah, memberi kemudahan dalam lapangan pekerjaan serta memberikan kemudahan bagi rakyat untuk mengakses berbagai kebutuhan.

Negara akan membangun perekonomian secara adil dan merata ke seluruh wilayah, hingga jurang dalam antara si miskin dan si kaya tak akan tercipta, masyarakat pun tak akan dipusingkan dengan kenaikan harga tiap tahunnya. Negara juga akan membangun kehidupan yang aman dengan memberlakukan sanksi tegas pada para pelaku kejahatan. Terakhir, negara juga akan menerapkan pendidikan agama dalam membina dan menciptakan rakyat yang bertakwa hingga tak mudah putus asa dan lemah imannya. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button