Membebaskan Keluarga dari Islamofobia

Keberadaan para pembenci Islam benar adanya, seperti yang telah Allah peringatkan dalam ayat-Nya. Penyelesaian islamofobia akan tuntas ketika syariat kafah sudah diterapkan oleh negara. Saat itulah seluruh manusia akan menyaksikan keadilan dan kesejahteraan yang nyata di hadapan mereka.
Oleh Tita Rahayu Sulaeman
JURNALVIBES.COM – Kebencian kaum kafir pada ajaran Islam, telah nampak sejak Rasulullah Saw. mendakwahkan Islam. Orang kafir saat itu melakukan berbagai propaganda, karena mereka tidak menyukai risalah yang Rasulullah Saw. ajarkan.
Fitnah hingga rencana pembunuhan dilakukan orang kafir saat itu sebagai bentuk kebencian mereka terhadap Rasulullah. Mereka tidak ingin keyakinan mereka terganggu oleh ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw.
Dalam sebuah ayat Allah berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidak seorang Rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (Q.S. Adz dzariat: 52-53).
Berbagai Tindakan Sebagai Bentuk Islamofobia
Kebencian dan ketakutan orang kafir terhadap Islam terus ada hingga masa kini. Tepatnya setelah peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat, kebencian terhadap umat Islam semakin nyata ditunjukan. Serangan fisik terhadap umat Islam yang menyebabkan kematian, hingga penyerangan rumah ibadah umat Islam terjadi di berbagai penjuru dunia. Kita masih ingat tentunya kejadian penembakan membabi buta di sebuah masjid di Selandia baru pada tahun lalu. Pada peristiwa itu, 51 orang tewas. Sementara di Afganistan, 40 orang tewas saat sebuah bom meledak di sebuah masjid ketika jemaah sedang melaksanakan salat jum’at (CNNindonesia, 16/10). Itulah Sebagian teror yang terjadi pada umat Islam di beberapa negara.
Penolakan terhadap syariat, juga merupakan salah bentuk islamofobia. Ada yang berpendapat penerapan syariat Islam di Indonesia hanya akan menimbulkan masalah karena Indonesia bangsa yang beragam. Padahal selama 13 abad kekhilafahan Islam berdiri, berhasil mengelola manusia dari beragam suku bangsa, baik yang Islam maupun yang non- Islam namun bersedia hidup dalam naungan khilafah.
Justru segala permasalahan hari ini di negeri kita adalah banyaknya syariat Islam yang belum mampu untuk ditegakkan karena kita hidup tanpa aturan dari Allah Swt., karena sesungguhnya, setiap aturan dari Allah Swt. adalah pemecahan bagi setiap permasalahan manusia. Contohnya, Allah tetapkan aturan bagaimana wanita harus berpakaian yang menutup aurat, Allah juga tetapkan bagi laki-laki, harus menundukkan pandangan. Allah juga mengatur bagaimana laki-laki dan perempuan bergaul. Tidak boleh berdua-duaan, tidak boleh bercampur baur.
Itu semua aturan yang Allah tetapkan untuk mencegah terjadinya zina. Selain itu, Allah juga tetapkan sanksi yang berat bagi pelaku zina. Seperangkat aturan ini yang tidak diterapkan dalam hidup kita saat ini. Maka kita bisa lihat bagaimana permasalahan yang timbul karena hidup tanpa aturan Allah. Maksiat kian merajalela.
Kebencian Juga Ditunjukan Para Pemimpin Negara
Kebencian terhadap Islam tak hanya ditunjukan individu atau kelompok tertentu saja. Bahkan hingga level pemimpin negara, kebencian itu nyata ditunjukan. Seperti misalnya di Prancis. Negara menetapkan pelarangan penggunaan jilbab bagi umat Islam disana. Negara juga bisa memutuskan penutupan masjid dengan alasan radikal. Diskriminasi terhadap umat Islam mereka lakukan secara legal melalui hukum-hukum dan aturan yang dibuat pemimpin negara. Lalu pembantaian terhadap umat muslim di India, Myanmar, hingga Uighyur Cina, juga adalah bentuk kebencian para pemimpin negara tersebut terhadap umat Islam. Sayangnya, umat Islam di seluruh dunia tak mampu berbuat banyak atas kezaliman ini.
Umat Muslim saat ini tersekat nasionalisme, sehingga tak mampu membela saudara sesama muslimnya. Tidak ada pemimpin saat ini yang mampu memimpin seluruh umat Islam di dunia untuk melawan kezaliman terhadap umat muslim di beberapa wilayah.
Umat Islam lah yang menerima perlakukan terror hingga menyebabkan kehilangan nyawa. Namun, narasi-narasi yang dihembuskan justru sebaliknya. Bahwa ajaran Islamlah yang menakutkan. Tidak ada sebutan teroris atau radikalis pada mereka para pelaku kejahatan terhadap umat Islam. Namun sebaliknya, jika ada pelaku kejahatan dengan atribut Islam, maka dengan mudahnya, label teroris atau radikal disematkan.
Islam Moderat Bukan Solusi
Meningkatnya islamofobia di kalangan masyarakat, bahkan di kalangan umat muslim sendiri, beriringan dengan derasnya arus moderasi Islam yang dilakukan beberapa pihak. Mereka menganggap, bahwa solusi dari islamofobia adalah dengan menjalankan Islam moderat, atau Islam wasathiyah atau Islam pertengahan. Islam Moderat dikenal sebagai upaya menjadikan Islam “yang pertengahan”, yaitu Islam yang lebih toleran, Islam yang tidak “kaku”. Istilah Islam moderat sendiri selalu diversuskan dengan Islam radikal, Islam fundamental, atau ekstremis, yaitu Islam yang “kaku” yang cenderung tak mau menerima perbedaan alias intoleran.
Istilah moderat banyak dipopulerkan oleh pemimpin-pemimpin dunia, termasuk para pemimpin negeri-negeri Muslim. Para politisi itu mengambil nilai-nilai Islam namun tidak menghendaki tegaknya syariat Islam. Jika syariat Islam tegak, keburukan-keburukan akan tersingkap. Ini juga lah yang membuat kafir Barat khawatir. Sebab mereka mengetahui bahwa ketika kaum muslim kembali kepada Islam dan berpegang teguh dengannya, niscaya Barat akan kehilangan pengaruh dan dominasinya atas dunia ini. Maka dari itu, Islam moderat bukanlah solusi. Moderasi Islam hanyalah sebuah upaya agar umat Islam dijauhkan dari ajaran agama Islam yang sesungguhnya.
Sikap Keluarga Muslim Terhadap Islamofobia
Jika ada gejala islamophobia dari diri seorang muslim, maka jadikanlah itu sebuah alarm bahwa saatnya kita mengenal Islam lebih dekat. Pahami bahwa islamophobia ini adalah rasa ketakutan yang sengaja dimunculkan orang kafir dan para pendukungnya untuk mencegah kebangkitan umat Islam. Segala kesulitan hidup kita saat ini adalah sebuah kesalahan sistemik, yang sebetulnya bisa dihindari. Namun, segolongan orang mendapatkan keuntungan ketika sistem ini mengatur manusia. Maka mereka akan terus berupaya untuk mempertahankan kekuasaan mereka dan mencegah umat Islam bangkit. Umat Islam jangan sampai terpengaruh dan terbawa arus opini yang dibuat para pembenci Islam untuk takut atau membenci agama kita sendiri. Umat Islam harus ber-Islam secara kafah, memahami Islam dan syariat-syariatnya yang sempurna. Serta berupaya menaati syariat dalam setiap aspek kehidupannya.
Sebagai orang tua tentunya kita berharap keluarga dan anak-anak kita tidak terpapar islamofobia. maka sebagai orang tua kewajiban kita adalah menanamkan akidah sejak dini pada anak-anak sehingga timbul kecintaannya pada Allah, Rasulullah Saw. dan Islam agamanya. anak-anak juga dikenalkan pada syariat sejak usia dini, sehingga ketika beranjak dewasa, segala perintah Allah ia sambut dengan suka cita.
Perlu diingat juga, bahwa orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya. maka orang tua yang pertama kali menunjukan suka cita ketika menyambut segala syariat Allah. syariat dalam berpakaian, syariat dalam memilih makanan, juga syariat-syariat ibadah wajib maupun sunah lainnya. Anak-anak akan melakukan apa yang ia lihat dan ia dengar dari orang tuanya. Tidak akan ada ketakutan terhadap syariat dari anak, karena ia melihat bagaimana orang tuanya bahagia di atas jalan ketaatan.
Hanya Khilafah yang Mampu Menghilangkan Islamofobia
Isu islamofobia ini semestinya mengantarkan umat Islam pada sebuah kesadaran. Betapa dibutuhkannya pemimpin yang mampu menyatukan seluruh umat Islam di bumi ini serta mampu menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Sehingga tidak ada lagi pihak-pihak yang semena-mena terhadap Islam.
“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS Ash Shaff [61]: 8)
Keberadaan para pembenci Islam benar adanya, seperti yang telah Allah peringatkan dalam ayat-Nya. Penyelesaian islamofobia akan tuntas ketika syariat kafah sudah diterapkan oleh negara. Saat itulah seluruh manusia akan menyaksikan keadilan dan kesejahteraan yang nyata di hadapan mereka. Fitnah dan tuduhan keji terkait Islam dengan sendirinya akan terbantahkan kenyataan yang disuguhkan Daulah Islam. Rahmat dan kebaikan yang dijanjikan Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia, bahkan bisa menarik kerinduan siapa pun untuk hidup dalam naungan khilafah. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






