Motivasi

Buah Manis Kesempurnaan Cinta Nabi Ibrahim

Tatkala seorang mukmin juga ingin menjadikan diri dan keturunannya menjadi pemimpin haruslah berkaca pada jejak cinta yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim


Oleh: Novida Sari, S.Kom.

JURNALVIBES.COM – Dalam menunjukkan rasa cinta kepada Allah Swt. Nabi Ibrahim telah mewujudkan seluruh perintah yang dibebankan kepadanya dengan sempurna. Sebagaiman firman Allah Swt.

وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya dengan sempurna. Allah berfirman ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata (dan saya juga memohon) dari keturunanku? Allah berfirman, ‘Benar, tetapi janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim’” (TQS Al Baqarah: 124)

Dari Thowus dari Ibnu Abbas, Kata بِكَلِمٰتٍ  pada kalimat وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ  memiliki makna bahwa Allah Swt. memberikan ujian kepada Nabi Ibrahim dengan bersuci. Ada 10 bagian-bagian yang diperintahkan, lima di antaranya terletak pada jasad: memotong kuku; mencukur rambut di bawah perut hingga ke kemaluan; berkhitan; mencabut bulu ketiak; serta beristinjak dengan air. Sedangkan lima yang lainnya berada di bagian kepala: mencu­kur kumis; berkumur; membersihkan lubang hidung dengan air (istinsyaq); bersiwak; dan membersihkan belahan rambut kepala (farkurosi).

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa perintah ini diturunkan kepada Nabi Ibrahim pada saat berumur 80 tahun. Meski demikian, ini bukanlah menjadi penghalang bagi beliau untuk bersegera menjalankan kalimat ataupun perintah dari Rabb-Nya. Nabi Ibrahim bersegera sebagaimana perintah-perintah yang telah diturunkan kepadanya sebelumnya, termasuk syiar kepada umatnya meski berhadapan dengan api besar; membawa hijrah istri dan anaknya yang baru lahir ke tempat asing yang kelak dibangun kiblat yakni ka’bah; menyembelih anak tercinta, Nabi Ismail; dan ketaatan akan perintah yang lain dilakukan oleh Nabi Ibrahim dengan فَاَتَمَّهُنَّ (sempurna)

Sehingga tidak heran jika Allah Swt. mengatakan قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا (Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia). Lalu Nabi Ibrahim pun menginginkan agar anak keturunannya mendapat hal yang sama. Dan Allah Swt. mengabulkannya, tapi janji Allah Swt. ini tidak berlaku bagi orang yang zalim.

Nabi Ibrahim memiliki dua orang anak, Nabi Ismail yang dari garis keturunannya akan lahir kelak manusia mulia penutup para Nabi yakni Muhammad saw. Juga Nabi Ishak yang memiliki anak bernama Nabi Ya’qub, anak-anak Nabi Ya’qub inilah yang menjadi Bani Israil yang kehidupan mereka dipimpin oleh para nabi. Setiap nabi yang diutus oleh Allah Swt. dan setiap kitab yang diturunkan sesudah Nabi Ibrahim, maka semuanya itu adalah anak keturunan Nabi Ibrahim.

Kemudian لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ (janjiku tidak berlaku bagi orang zalim), ayat ini merupakan pemberitahuan bahwa di antara keturunan Nabi Ibrahim kelak akan ada orang yang zalim. Mereka yang zalim ini tidak akan memper­oleh janji ini, dan tidaklah layak bagi Allah menguasakan sesuatu pun dari perintah-Nya kepada orang yang zalim itu, sekalipun orang yang zalim itu berasal dari keturunannya. Hanya orang baik dari kalangan keturunannyalah yang akan memperoleh doa ini dan sampai kepada­nya apa yang dimaksud dari doa Nabi Ibrahim tersebut. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq bahwa tidak ada janji bagi orang-orang yang zalim. Jika engkau me­ngadakan perjanjian dengannya, maka batal (rusaklah) perjanjian itu.

Nabi Ibrahim telah menjaga kesucian jiwanya dengan bersegera melaksanakan segala perintah yang berasal dari Allah Swt. Tidak pernah ada bantahan apalagi kelalaian yang diberikan Nabi Ibrahim pada saat memberikan buah cintanya pada Allah Swt. Hingga pada akhirnya Allah Swt. menjadikan anak dan keturunannya sebagai pemimpin (imam).

Oleh karena itu, tatkala seorang mukmin juga ingin menjadikan diri dan keturunannya menjadi pemimpin haruslah berkaca pada jejak cinta yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim. Senantiasa melaksanakan perintah Allah tanpa ada bantahan dan sanggahan. Tetap istiqamah menjalankannya sampai akhir hayat. Wallahu a’lam bishshawab []


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

 

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button