Opini

Gagal Ginjal Marak, Bagaimana Negara Bertindak?

Sistem Islam, menganggap anak sebagai bagian dari masyarakat yang wajib dipenuhi kebutuhannya dari sisi pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lain sebagainya.


Oleh Triasih

JURNALVIBES.COM – Fenomena gagal ginjal akut yang terjadi pada usia anak-anak, masih menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, menurut data dari Menkes sebanyak 241 anak Indonesia meninggal dunia akibat gagal ginjal akut (www.cnbc Indonesia.com).

Menurut perkiraan Kemenkes, 75% penyebab kasus gagal ginjal akut yang meningkat ini disebabkan oleh senyawa kimia kandungan polietelin glikol. Kandungan itu menimbulkan senyawa kimia yang berbahaya seperti Etilen glikol (EG) dan Dietlien glikol (DEG). Senyawa ini diduga dapat masuk ke tubuh anak melalui berbagai obat sirup (tempo.co)

Menkes bersama BPOM, ahli epidemiologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), farmakolog, dan Pusat Laboratorium Forensik (Puslatfor) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengamati pemeriksaan laboratorium dengan tujuan agar mengetahui penyebab dan faktor risiko dari kasus gangguan ginjal akut. Kemudian pada Minggu (23/10), BPOM mengumumkan bahwa 30 obat dari 102 produk obat cair atau sirup, yang dikonsumsi oleh pasien-pasien gangguan ginjal akut, diklaim “aman digunakan”, namun ada tiga produk yang disebut “mengandung cemaran” dengan syarat “aman digunakan sepanjang sesuai aturan pakai” adalah Ambroxol HCl, Anakonidin OBH, Cetirizin, empat merek Paracetamol dari beragam produsen (bcc.com)

Namun mirisnya, sikap pemerintah dalam menghadapi kasus ini terlihat tidak sungguh-sungguh. Bagaimana tidak? Saat ini kehidupan hanya bisa dikuasai bagi si pemilik modal. Dalam artian hanya anak-anak yang terlahir dari orang tua kaya lah yang bisa mendapatkan fasilitas kesehatan yang baik. Berbeda dengan anak-anak yang terlahir dari orangtua dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Mereka sering mendapatkan kualitas kesehatan yang seadanya.

Terlebih lagi, saat ini bidang apapun itu termasuk kesehatan adalah bidang yang dikomersilkan. Sehingga dapat menjadi lahan mengeruk keuntungan bagi pihak-pihak yang memiliki modal. Negara hanya sebagai sarana memperkaya pribadi bagi para pemilik uang. Maka dapat dikatakan pemerintah negeri ini kurang fokus dalam melindungi kesehatan masyarakatnya.

Maraknya kasus gagal ginjal akut pada anak ini menjadi salah satu bukti bahwa kesehatan masyarakat tidak akan tewuujud secara sempurna jika pemerintah masih memakai sistem demokrasi yang diadopsi negeri ini. Sebab demokrasi menjadikan negara sebagai sarana yang hanya dapat di lewati atau dikuasai oleh para pemilik uang.

Berbeda dengan sistem Islam, yang menganggap anak sebagai bagian dari masyarakat yang wajib dipenuhi kebutuhannya dari sisi pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lain sebagainya.

Sistem Islam yang diterapkan oleh sebuah institusi (daulah khilafah) memiliki kas yang bernama baitul maal. Khalifah sebagai pemimpin negara menjadikan dana dari baitul maal untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan rakyatnya.

Dana yang disimpan dalam baitul maal adalah kekayaan yang diperoleh dari jizyah, kharaj, ghanimah, fa’i, harta tak bertuan, pengelolaan SDA, dan lain-lain, sehingga kebutuhan masyarakat akan diperoleh secara gratis dan merata di penjuru wilayah.

Semua upaya yang dilakukan negara bukan lagi untuk mencari keuntungan, tetapi hal itu karena dalam Islam seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakayatnya. Tugasnya mengurusi kebutuhan masyarakatnya di segala lini kehidupan seperti bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan khalifah sadar bahwa kelak akan dimintai pertanggung jawaban di hadapanAllah Swt. Hal inilah yang mendorong lahirnya pemimpin yang amanah dan adil. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button