Stigmatisasi Ajaran Islam Terus Terjadi

Seorang Muslim harus meyakini bahwa berbagai problem tersebut terjadi karena syariat Islam tidak diterapkan secara kafah sebagaimana secara historis dan empiris pernah diterapkan oleh institusi khilafah.
Oleh Desy Purwanti
(Aktivis Dakwah Kampus)
JURNALVIBES.COM – Jagat maya dihebohkan dengan kabar seorang wanita membawa senjata api hendak menerobos istana negara. Informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Wanita yang berkerudung dan mengenakan cadar itu membawa senjata api diduga jenis FN.
Wanita tersebut ditemukan anggota Polantas yang sedang melakukan tugas rutin di sekitar istana presiden. Wanita itu berjalan kaki dari Harmoni mengarah ke depan Istana Merdeka. Dia kemudian menghampiri anggota Paspampres yang sedang siaga dengan menodongkan senpi jenis FN.
Dengan sigap anggota Sat Gatur Aiptu Hermawan, Briptu Krismanto dan Bripda Yuda yang berada tak jauh dari lokasi mengamankan perempuan tersebut dan merebut senpi. Saat ini wanita itu diserahkan kepada Polres Jakarta Pusat beserta senjata apinya. (Kumparannews, 2/11/2022)
Dari hasil penelusuran sementara BNPT, wanita itu memiliki pemahaman radikal serta diketahui merupakan pendukung salah satu ormas radikal yang telah dibubarkan pemerintah. Nurwakhid mengatakan wanita tersebut juga kerap memposting propaganda khilafah melalui akun media sosialnya. Pihaknya kini masih melakukan pendalaman terkait dugaan keterkaitan dengan aktor-aktor lain. (Detiknews, 2/11/20200)
Pemerintah tidak pernah berhenti memberikan stigmatisasi negatif terhadap Islam dan khilafah sebagai ajaran radikal dan penyebab terorisme. Siapa saja dapat disasar dengan tuduhan keji ini, meski tak pernah jelas latar belakangnya. Demikian juga penanganan kasusnya.
Sedangkan, yang terang-terangan melakukan tindak kekerasan tidak disebut terorisme dan masih dibiarkan berkeliaran. Misalnya saja Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua, mereka jelas-jelas membakar masjid-masjid ataupun membunuhi banyak warga sipil.
Stigmatisasi terhadap Islam bukan sekadar meresahkan umat, tetapi yang lebih parah adalah memunculkan adanya islamofobia. Bukan hanya dari umat lain, melainkan kaum Muslim sendiri menjadi takut menunjukkan jati dirinya sebagai Muslim.
Meski ini negeri berpenduduk mayoritas Muslim, stigmatisasi dan kriminalisasi terhadap ajaran Islam dan kaum Muslim terus terjadi. Sedangkan di negeri yang kaum muslimin menjadi minoritas, mereka menjadi sasaran genosida. Mereka terusir dari negerinya dan seolah setiap jengkal bumi Allah tidak boleh mereka tapaki. Negeri-negeri kaum muslim di wilayah lain pun tidak tersentuh untuk membantu. Sungguh miris.
Oleh karena itu, umat Islam hanya akan aman dan nyaman dalam naungan khilafah, termasuk saat melakukan aktivitas dakwah. Khilafah adalah sistem politik agung warisan Rasulullah saw. Khilafah dipraktikkan oleh para sahabat mulia dan para khalifah setelahnya. Khilafah, tak dimungkiri, telah berhasil mewujudkan peradaban agung selama lebih dari 13 abad.
Sebaliknya, pasca Khilafah runtuh tanggal 3 Maret 1924, berbagai persoalan di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan lain-lain muncul menyeruak di seluruh negeri kaum Muslim.
Seorang Muslim harus meyakini bahwa berbagai problem tersebut terjadi karena syariah Islam tidak diterapkan secara kafah sebagaimana secara historis dan empiris pernah diterapkan oleh institusi khilafah.
Maka, berbagai upaya untuk mewujudkan kembali peradaban agung dalam bingkai khilafah, disuarakan dan diperjuangkan para tokoh dan berbagai kelompok dakwah. Sehingga umat kembali pada pangkuan Islam dan terwujudlah rahmatan lil ‘aalamiin. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






