Bullying, Potret Kegagalan Pendidikan Sekuler

Teman merupakan pengaruh terkuat yang mempengaruhi pemikiran dan kepribadian seseorang. Apalagi seorang generasi muda yang sedang mencari jati dirinya, maka pengaruh teman ini bisa memperburuk atau memperbaiki jati dirinya.
Oleh Siti Uswatun Khasanah
(Aktivis Dakwah Remaja)
JURNALVIBES.COM – Bullying atau perundungan ternyata masih menjadi sebuah masalah besar bagi sistem pendidikan di negeri ini. Akhir-akhir ini semakin marak terjadi, bahkan korbannya tidak pandang bulu, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Seperti yang akhir-akhir ini viral. Kasus sekelompok pelajar di Tapanuli Selatan yang menendang seorang nenek-nenek. Video viral ini nampaknya direkam oleh salah seorang diantara mereka. Korban diduga merupakan seorang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Pelajar tersebut diperiksa oleh polisi dan dikembalikan kepada orang tuanya namun dalam pengawasan polisi, karena masih di bawah umur. (kumparan.com)
Selain kasus di atas, kasus pelajar membully sesama pelajar pun juga terjadi di Bandung. Seorang siswa di SMP Plus Baiturrahman, Kota Bandung menjadi korban. Aksi perundungan tersebut viral di media sosial. Pelaku memasangkan helm pada korban lalu menendang kepala korban hingga terjatuh. Siswa lain dalam kelas tersebut hanya melihat aksi tersebut bahkan menertawakan korban. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit. Pelaku diamankan oleh polisi, kepala sekolah pun mengecam aksi perundungan tersebut.
Miris, sungguh menyayat hati. Ternyata beginilah potret buruk sistem pendidikan di negeri ini. Ternyata fakta tersebut menjadi bukti kegagalan sistem pendidikan di negeri ini dalam mencetak generasi berakhlak mulia. Bahkan jauh dari kata berakhlak. Kasus-kasus perundungan seperti di atas tidak hanya terjadi sekali dua kali, namun sudah ke sekian kali.
Berdasarkan data KPAI tahun 2022, terdapat 226 kasus kekerasan fisik, psikis, termasuk perundungan terhadap anak. Ini baru yang terdata, bagaimana dengan yang tidak terdata dan tidak melapor? Pasti akan lebih banyak daripada ini.
Hari ini bullying bisa terjadi di mana saja, bisa lingkungan rumah, sekolah, lingkungan bermain, pondok pesantren bahkan sosial media. Aksi bullying tidak hanya terjadi secara fisik, namun bisa berupa verbal maupun fisik.
Faktor yang menyebabkan terjadinya bullying yang pertama ialah jauhnya pelajar dari pemikiran Islam. Pemikiran Islam akan melahirkan akhlak mulia pada diri seorang pelajar sehingga membuatkan berpikir beribu kali untuk melakukan tindakan keji seperti ini. Namun sebaliknya, pelajar yang memiliki pemikiran sekuler tidak akan mempertimbangkan dengan matang perbuatannya itu merupakan sebuah tindak kejahatan atau bukan. Maka pemikiran merupakan hal terpenting yang harus diperhatikan dalam menggali permasalahan ini. Perbaikan pemikiran harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah bullying ini.
Pemikiran seorang pelajar itu dipengaruhi oleh informasi yang di terima pelajar tersebut. Hari ini kita dengan mudah mengakses informasi di sosial media. Banyak hal negatif yang ditampilkan di sosial media, salah satunya konten yang mendidik generasi untuk melakukan tindak kejahatan seperti perkelahian ataupun perundungan. Banyak sinetron di televisi yang mempertontonkan adegan yang seharusnya tidak di terima oleh pelajar seperti geng motor yang suka berkelahi, geng pelajar SMA yang suka membully temannya bahkan pelajar yang berkelahi untuk memperebutkan lawan jenisnya. Hal-hal seperti ini dapat meruskan pemikiran generasi muda dan menimbulkan banyak tindak kejahatan termasuk bullying.
Selain itu lingkungan juga mempengaruhi pemikiran dan kepribadian generasi. Lingkungan juga mampu mempengaruhi mental korban bullying. Yang pertama ialah keluarga. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak. Maka pendidik yang pertama bagi anak adalah orang tua. Anak yang dididik dengan Islam tidak akan mungkin melakukan bullying atau tindak kejahatan lainnya.
Anak yang ditanamkan pada dirinya akidah dan pemikiran Islam akan mengutamakan akhlak dan adab ketika berinteraksi dengan sesamanya. Maka orang tua harus memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap anak.
Selain itu keluarga juga pembentuk mental yang pertama bagi anak. Hari ini bullying masih sering diabaikan oleh orang tua. Orang tua tidak membela atau menenangkan anaknya yang menjadi korban bullying. Bahkan banyak orang tua yang kurang memperhatikan anaknya dan tidak mampu menjadi rumah bagi anaknya, menjadi tempat cerita ternyaman untuk anaknya.
Kedua ialah lingkungan sekolah. Sekolah merupakan intansi pendidikan yang menjadi sorotan ketika terjadi tindakan bullying pada pelajar. Sebab status pelajar merupakan gelar yang disandang oleh seorang anak yang belajar di sekolah tersebut, dan hari ini aksi bullying ini banyak dilakukan oleh pelajar, bahkan aksi bullying tersebut tak jarang terjadi di sekolah. Namun mirisnya banyak sekolah yang menutup-nutupi kasus-kasus seperti ini, hanya meminta maaf tanpa ada tindakan lebih lanjut untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Fakta ini kontradiksi dengan program sekolah ramah anak, ketidaksiapan sekolah dengan program tersebut justru membuat sekolah seolah-olah harus menyembunyikan kasus tersebut. Sistem pendidikan yang dijalankan di sekolah hari ini belum mampu mencetak generasi berkarakter, berakhlak mulia, berkepribadian Islam dab berwawasan Islam. Sebab sistem pendidikan yang dijalankan sekolah merupakan sistem pendidikan sekuler yang tidak jelas visi misinya.
Ketiga ialah lingkungan pertemanan. Teman merupakan pengaruh terkuat yang mempengaruhi pemikiran dan kepribadian seseorang. Apalagi seorang generasi muda yang sedang mencari jati dirinya, maka pengaruh teman ini bisa memperburuk atau memperbaiki jati dirinya. Tak jarang aksi bullying juga terjadi pada lingkungan pertemanan korban bullying itu sendiri. Terkadang anak terjebak dalam circle pertemanan toxic. Atau pertemanan yang menjadi racun, bukan hanya mempengaruhi kepribadian buruknya namun juga mempengaruhi mentalnya. Kadang anak merasa tidak nyaman dengan teman-temannya karena sering dibully namun dia sulit keluar dari lingkungan pertemanan itu.
Pertemanan yang didasarkan atas ikatan akidah Islam tidak akan memberikan pengaruh buruk terhadap dirinya. Circle pertemanan Islam akan selalu memberikan dampak positif. Pertemanan dalam Islam akan menjadi kontrol seseorang untuk selalu terikat dengan hukum Allah dan menjauhi maksiat bahkan tindak kejahatan.
Keempat lingkungan. Masyarakat hari ini masih sering menyepelekan tindakan bullying yang terjadi di sekitarnya. Apalagi berkembangnya gaya hidup individualis yang diadopsi dari pemikiran liberal sekuler. Membuat masyarakat menjadi tidak peduli dengan apa yang dialami oleh orang lain. Berbeda dengan masyarakat Islam yang mampu menjadi kontrol sosial. Dengan menerapkan amar ma’ruf nahi munkar, masyarakat Islam mampu mencegah kemaksiatan dan kejahatan yang terjadi di tengah-tengahnya.
Negara merupakan penanggungjawab atas pembentukan kepribadian, pemikiran dan akhlak generasi. Negara yang memiliki tanggung jawab atas penyelesaian masalah perundungan ini. Negara yang memiliki kekuasaan untuk mengontrol umat ini. Namun, negara pengemban ideologi kapitalis tidak akan pernah mampu menyelesaikan permasalahan ini. Hanya Islam yang mampu menyelesaikan permasalahan ini.
Islam jelas melarang perundungan, karena perundungan merupakan sebuah kezaliman. Dalam Islam tidak ada istilah anak di bawah umur. Apabila anak telah mencapai masa baligh, maka di saat itulah dia bertanggung jawab atas semua perbuatannya dan bertanggung jawab di hadapan Allah.
Islam mampu menuntaskan permasalahan ini jika di terapkan secara kafah dalam kehidupan ini. Islam akan melahirkan generasi berakhlak mulia penuh cinta dan kasih sayang. Islam mampu membentuk keluarga Islam yang harmonis. Islam akan menerapkan sistem pendidikan berkualitas berbasis akidah Islam. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






