Opini

Perundungan Anak, Gagalnya Sistem Sekuler dalam Membina Generasi

Kasus perundungan tak akan berhenti jika sistem sekuler tetap dipertahankan. Selama akidah Islam tidak dijadikan asas kehidupan, selama negara lepas tangan dari urusan moral dan akhlak, dan sistem pendidikan tidak dibangun di atas tauhid, maka generasi akan terus rusak, dan perundungan akan terus menghantui anak-anak kita.


Oleh Ferischa Fadhila Salma

JURNALVIBES.COM – Kasus perundungan anak kembali terjadi. Di Bandung, seorang bocah diceburkan ke sumur karena menolak minum tuak. Sontak kejadian ini kembali membuka mata kita akan rusaknya moral generasi muda. Ironisnya, pelaku adalah sesama anak SMP. Fakta ini menunjukkan bahwa perundungan bukan lagi masalah kecil, melainkan fenomena gunung es akibat sistem hidup yang rusak.

Sistem sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan telah gagal membentuk kepribadian mulia pada anak. Pendidikan hanya difokuskan pada capaian akademik, sementara pembinaan akhlak dan pembentukan karakter berbasis iman dan takwa dikesampingkan. Sistem ini menjadikan anak-anak sebagai objek ekonomi dan angka statistik, bukan sebagai generasi yang harus dijaga dan disiapkan untuk memimpin peradaban.

Lebih menyedihkan lagi, sistem hari ini juga gagal menciptakan lingkungan sosial yang sehat. Tayangan kekerasan, pornografi, konten merusak di media sosial, serta peredaran minuman keras dan narkoba begitu mudah diakses anak-anak. Peran negara dalam mengontrol hal ini sangat minim. Bahkan, kadang negara justru membuka ruang lebar bagi budaya liberal dan permisif berkembang di tengah masyarakat.

Tak heran jika perilaku menyimpang seperti perundungan, kekerasan seksual, penyalahgunaan narkoba, hingga tawuran menjadi normal baru di kalangan remaja. Ini bukan hanya krisis akhlak, tetapi krisis sistemik akibat diterapkannya sistem hidup yang rusak dari hulu ke hilir.

Hal ini tentu bertolak belakang dengan sistem Islam yang terbukti mampu mewujudkan generasi cemerlang. Pendidikan berbasis akidah Islam tidak hanya berfungsi untuk mentransfer ilmu, tapi juga membentuk syakhsiyah Islam (kepribadian Islam). Sejak dini, anak-anak ditanamkan nilai-nilai tauhid, rasa takut kepada Allah, cinta kepada kebaikan, serta menjauhi yang haram. Mereka dibina agar siap menjadi mukallaf yang sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Allah.

Negara tidak menyerahkan pendidikan kepada swasta atau pasar, melainkan bertanggung jawab penuh menyusun kurikulum Islam mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Bahkan kurikulum pengasuhan keluarga pun disediakan oleh negara. Dengan begitu, anak-anak dibekali ilmu dan akhlak secara seimbang dan sistematis.

Sistem Islam juga tidak membiarkan anak-anak hidup dalam lingkungan yang rusak. Segala bentuk media merusak, pergaulan bebas, peredaran minuman keras, narkoba, dan tontonan tak mendidik akan ditutup aksesnya dan diberantas dari masyarakat.

Negara akan menerapkan sistem sanksi Islam (uqubat) yang tegas dan adil. Pelaku kriminal, termasuk yang masih usia remaja dan telah baligh, akan dimintai pertanggung jawaban sesuai hukum syariat. Ini memberikan efek jera dan juga keadilan bagi korban. Selain itu, masyarakat pun dibina agar saling menjaga dan peduli terhadap generasi, bukan permisif apalagi abai.

Kasus perundungan tak akan berhenti jika sistem sekuler tetap dipertahankan. Selama akidah Islam tidak dijadikan asas kehidupan, selama negara lepas tangan dari urusan moral dan akhlak, dan sistem pendidikan tidak dibangun di atas tauhid, maka generasi akan terus rusak, dan perundungan akan terus menghantui anak-anak kita.

Sudah saatnya umat berpaling dari solusi tambal sulam, dari regulasi buatan manusia yang rapuh. Solusi sejati ada pada penerapan Islam secara menyeluruh dalam naungan sistem yang berasal dari Sang Pencipta. Sistem yang telah terbukti selama berabad-abad mencetak generasi saleh, cerdas, dan mulia. Generasi yang takut kepada Allah, peduli sesama, dan siap menjaga peradaban. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button