
Islam sebagai agama yang sempurna, bukan hanya berbicara masalah keakhiratan, tetapi juga masalah politik (pengaturan urusan umat di dunia). Oleh karena itu, gerakan Islam politik inilah yang senantiasa mengkritisi setiap kebijakan kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri Muslim.
Oleh Yusra Ummu Izzah
(Pendidik Generasi)
JURNALVIBES.COM – “Buruk rupa, cermin dibelah”, kiranya pepatah ini pas untuk menggambarkan sistem kapitalisme liberal yang sedang mencengkeram dunia saat ini, serta akibat yang ditimbulkannya. Bagaimana tidak, sistem ini telah diterapkan selama puluhan tahun dan menimbulkan berbagai macam problem krusial, tapi yang dijadikan kambing hitam adalah agama (Islam) Kok bisa sih? Ada apa di balik semua ini? Sebagaimana diketahui belum lama ini telah dilaksanakan gelaran Forum Religion of Twenty (R20), yang merupakan rangkaian dari KTT G20.
Dilansir darikompas.com (4/11/2022), R20 atau Religion of Twenty 2022 adalah forum para pemimpin agama-agama dan sekte-sekte dengan peserta utama dari negara-negara anggota G20 dengan memanfaatkan posisi presidensi Indonesia tahun ini. Meski demikian, R20 juga mengundang para pemimpin agama dari negara lain di luar G20 sehingga total ada 32 negara. Jumlah peserta mencapai 464 undangan dan sebanyak 170 di antaranya dari luar negeri yang berasal dari lima benua.
R20 yang diselenggarakan pada 2—3 November lalu mengambil tagline “Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solusions: an International Movement for Shared Moral and Spiritual Values”. Problem yang diangkat di antaranya kemiskinan, kesenjangan global, polarisasi sosial, politik, bangkit dari keterpurukan pandemi Covid-19, dan perang Rusia-Ukrania yang mengancam krisis energi dan pangan global.
Tagline yang diambil tersebut menjadi tanda tanya. Bagaimana sebuah kegiatan yang merupakan bagian dalam sistem kapitalisme global, tetiba menarik agama untuk turut menyelesaikan solusi persoalan dunia. Apa maksudnya?
“Membonsai” Agama
Kapitalisme merupakan ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan. Artinya, agama benar-benar dipinggirkan dari ranah kehidupan. Tidak boleh bicara politik, pendidikan, sosial, hukum, dan yang lainnya atas nama agama. Tidak boleh menganalisa persoalan dengan sudut pandang agama.
Jika dalam agenda R20 agama ditarik untuk menyelesaikan persoalan yang ada saat ini, nyatanya bukan untuk mendudukkan agama di tempat terhormat. Tempat merujuk jawaban atas semua persoalan yang menimpa masyarakat dunia. Sama sekali bukan.
Justru sebaliknya, R20 menjadi ajang ketok palu, menjatuhkan vonis pada agama sebagai pihak yang bersalah. Agama sebagai sumber konflik dan persoalan global dunia saat ini. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Yahya Staquf, salah satu inisiator R20.
Secara lugas, Yahya Staquf menyampaikan berbagai kisruh dunia, baginya, bukan hanya ada pada ruang publik melainkan justru pada agama itu sendiri. Menurutnya, agama selama ini tidak jujur terhadap dirinya bahwa di dalam agama ada problem mendasar yang luput dari pembahasan dan keterusterangan para pemimpin agama itu sendiri.
Problem yang dimaksud adalah doktrin tentang klaim kebenaran yang seringkali menolak untuk sharing dengan yang lain (the others). Menurutnya, agama harus merefleksikan dirinya dan menyelesaikan masalah tersebut dengan melampaui doktrin-doktrin eksklusif dan kemudian membangun konsensus dan sharing nilai-nilai bersama.
Ini jelas “pembonsaian” Islam yang merupakan agama kamilun, syamilun, mutakamilun, tetapi didudukkan sama dengan agama lain yang tidak mempunyai aturan sesempurna dan sedetail islam.
Bukan hanya syariat yang akan diobrak-abrik oleh forum ini, tetapi mereka pun masuk dalam ranah akidah. Innad-dīna ‘indallāhil-islām (hanya Islam (agama) yang diridai Allah). Ayat ini masuk dalam perkara keyakinan. Namun, dengan sudut pandang forum R20, ayat tersebut tidak boleh disuarakan, diajarkan, bahkan diyakini karena masuk dalam klaim kebenaran yang akan memicu persoalan di masyarakat. Begitu pula “diharamkan” menyebut “kafir” bagi pemeluk agama lain.
Itu perkara akidah. Untuk perkara syariat akan banyak lagi yang akan dianggap sebagai biang masalah. Menganggap dosa pelaku L967, perempuan yang mengumbar aurat, pemakan harta riba, dan pelanggaran hukum syara lainnya, justru akan dianggap sebagai pemicu konflik.
Di sisi yang lain, tuduhan agama sebagai sumber konflik juga merupakan cara keji Barat memutar balikkan fakta. Menyalahi akal sehat. Bukti dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebijakan dan perundangan yang diterapkan dalam mengatur kebutuhan masyarakat hari ini dibuat atas landasan kapitalisme, bukan agama. Kerusakan, kemiskinan, dan ketidakadilan yang terjadi adalah buah penerapan kapitalisme. Bukan agama.
Kokohkan Narasi War on Terrorism
Tuduhan Barat bahwa agama adalah sumber konflik dunia hari ini, juga tidak bisa dilepaskan dari agenda War on Extremism yang merupakan bagian dari Global War on Terrorism (GWOT) yang mereka canangkan sebelumnya. Jika kita menilik ke belakang, GWOT mulai digaungkan oleh Presiden AS George W. Bush. Bush menciptakan momentum menggaungkan narasi terorisme tersebut saat diledakkannya dua menara kembar WTC. Namun dalam perjalanannya, narasi terorisme ini dirasa kurang efektif karena hanya menyasar pelaku teror semata. Tidak bisa meluas.
Oleh karena itu, dibuatlah narasi baru yakni ekstremisme dan radikalisme. Narasi ini menyasar pelaku teror, sekaligus ideologi atau pemikiran yang dianggap radikal, yang bisa memicu sebuah tindak terorisme. Walhasil pada periode Thrump, GWOT dengan skema war on radicalism makin dikuatkan.Trump juga memperjelas target GWOT adalah gerakan Islam.
Islam tidak boleh tampak, apalagi memimpin. Ketika semua agama “dipaksa” setara, dijadikanlah HAM sebagai “agama” baru yang dibuat oleh kapitalisme sebagai pengikatnya.
Dengan nilai-nilai baru yang ditanamkan melalui narasi HAM inilah, menjadi mudah bagi kapitalisme global menancapkan hegemoninya di berbagai wilayah, sebagaiman yang sudah dilakukannya selama ini. Atas nama HAM, AS dan sekutunya membombardir wilayah-wilayah yang dianggap sebagai sarang teroris. Atas nama HAM, Barat akan masuk wilayah kaum Muslim, layaknya polisi dunia yang turut menyelesaikan setiap konflik internal negara.
Islam Politik Sasaran Utama
KTT G20 merupakan agenda kapitalisme global dan yang menjadi sasaran kebijakannya adalah negara-negara berkembang yang mayoritas Muslim, seperti Indonesia, Turki, dan India. G20 yang lahir pasca-krisis ekonomi 1998, merupakan upaya negara-negara kapitalis dunia yang dimotori AS melakukan penyelamatan ekonominya. Meski dinarasikan pentingnya agenda ini bagi negara-negara berkembang dan yang memiliki pengaruh ekonomi secara sistemis untuk diikutsertakan dalam perundingan perekonomian global, namun kenyataannya justru negara- negara berkembang hanya menjadi sapi perah untuk mereka.
Atas nama investasi, mereka mengekploitasi SDA di negeri-negeri Muslim. Dengan liberalisasi di berbagai sektor, membuat mereka leluasa dalam menancapkan hegemoninya. Dalam hal ini, yang mampu melihat dan membaca sepak terjang kapitalisme dunia, hanyalah islam politik.
Islam sebagai agama yang sempurna, bukan hanya berbicara masalah keakhiratan, tetapi juga masalah politik (pengaturan urusan umat di dunia). Oleh karena itu, gerakan Islam politik inilah yang senantiasa mengkritisi setiap kebijakan kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri Muslim. Ini jelas membahayakan kepentingan kapitalisme.
Tidak heran jika jargon tolak politik identitas mengemuka mendekati tahun politik pada hari-hari ini. Begitu pula nilai-nilai kebangsaan makin kuat dibenturkan dengan Islam. Menjadikan Islam nusantara seolah menjadi satu-satunya Islam yang sah di Indonesia. Islam yang mengadopsi tradisi dan budaya lokal.
Orang-orang Barat yang mengadopsi sistem kapitalis tidak henti-hentinya membuat makar dan menyerang Islam. Mereka menyerukan memerangi terorisme, padahal merekalah pelaku teror sesungguhnya. Menuduh Islam sumber konflik, justru kapitalisme yang merusak peradaban manusia.
Buah kebijakan dan pembangunan ala kapitalisme membawa kerusakan, dan yang mampu membongkar kerusakan tersebut adalah cermin Islam. Oleh karena itu, agar tidak makin tampak kerusakan dan kebusukannya, cermin islamnya dipecah, sekaligus dijadikan kambing hitam.
Oleh karena itu, wajib bagi umat memahami hal ini agar mereka tidak terjebak terus dengan narasi dusta mereka. Satu-satunya jalan hanya dengan mencerdaskan umat dengan memasifkan dakwah Islam politik ke tengah masyarakat. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






