Opini

Makan Bergizi Gratis, Siapakah yang Diuntungkan?

Dalam negara Islam pemimpin diberikan amanah untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan secara personal individu per individu. Sepanjang sejarah negara Islam sangat mampu mengantarkan seluruh rakyatnya hidup sejahtera.


Oleh Uty Maryanti

JURNALVIBES.COM – Presiden terpilih telah resmi dilantik pada 20 Oktober 2024 kemarin. Pelantikan tersebut tentu membawa harapan baru bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya pada program-program yang telah beliau usung pada pemilu kemarin. Seperti halnya salah satu yang dicetuskan Prabowo-Gibran yaitu Program “Makan Siang Gratis” yang terakhir di ubah menjadi “Makan Bergizi Gratis”. Lantas mampukah MBG (Makan Bergizi Gratis) mengentaskan masalah gizi anak sekolah, memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta menggerakan ekonomi nasional seperti yang diharapkan?

Dilansir dari Tirto (18-10-2024), Menurut Didik J Rachbini selaku Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Program Makan Bergizi Gratis ini banyak di incar para Bandit, disisi lain program MBG juga disinyalir bakal mengerek realisasi impor, khususnya untuk bahan pangan.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menyampaikan bahwa program MBG untuk anak-anak sekolah ini akan menjangkau sekitar 83 juta siswa dan direncanakan mulai berjalan pada tahun 2025, sementara untuk memenuhi kebutuhan susu dan daging, indonesia membuka peluang bagi sektor swasta untuk mengimpor sapi hidup, bahkan sudah ada 46 perusahaan dari dalam dan luar negeri yang berkomitmen untuk mendatangkan 1,3 juta ekor sapi.

Pemerintah pun akan memberikan dukungan dalam hal perizinan dan menyiapkan lahan seluas 1 juta hektare untuk memelihara sapi. (Merdeka,b 17-10-2024)

Bukan rahasia umum bila program pemerintah ini akan menggunakan dana APBN yang tidak sedikit, pun kebijakan ini seolah-seolah lahir untuk kepentingan rakyat, namun pada kenyataannya, kebijakan ini lebih banyak membuka peluang bagi korporasi besar swasta dalam sektor makanan dan minuman untuk mengeruk keuntungan besar. Program ini membutuhkan pasokan makanan dan susu dalam jumlah yang banyak, yang seringkali hanya bisa disuplai oleh korporasi besar yang punya akses ke kontrak pemerintah.

Wacana yang diusulkan akan membuka lapangan kerja bagi UMKM pun sepertinya minim terlaksana, pasalnya bila terlaksana pun hanya sebagian kecil saja yang mendapat keuntungan. Bukan sekali dua kali program pemerintah yang dimaksudkan untuk rakyat ujung-ujungnya malah membuka celah lebar untuk para swasta meraih untung, seperti isu stunting pada anak balita yang pada program pemerintah sebelumnya untuk mengentaskan stunting di Indonesia. Tidak sedikit dana APBN yang di gelontorkan untuk program ini, tetapi realisasi di masyarakat di posyandu-posyandu hanya mendapat makanan tambah gizi ala kadarnya.

Inilah fakta buah dari penerapan sistem ekonomi kapitalis liberal. Selama sistemnya tidak diubah maka program apapun yang di usung sejatinya akan menguntungkan sebagian orang saja rakyat hanya dapat keuntungan remahan masalah tidak selesai sampai ke akarnya. Kebijakan makan bergizi gratis dalam rezim sekuler demokrasi menunjukkan watak khas pemerintahan sekuler neo-liberal. Di satu sisi pemerintah tampak proaktif, namun di sisi lain mereka melepaskan tanggung jawab langsung dalam mengurus rakyat.

Pemerintah lebih memilih untuk menyerahkan urusan penting seperti ketahanan pangan kepada korporasi besar dan swasta.

Akan sangat berbeda jika sistem pemerintahan Islam yang dijalankan, karena dalam sistem Islam pemimpin adalah ra’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Segala macam kebijakan yang dijalankan akan dilakukan dengan sungguh-sungguh karena itu semua akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Swt.

Dalam negara Islam pemimpin diberikan amanah untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan secara personal individu per individu. Sepanjang sejarah negara Islam sangat mampu mengantarkan seluruh rakyatnya hidup sejahtera. Di antara pemasukan negara yang berkontribusi besar yaitu pengelolaan SDA milik umum hanya dikelola negara yang hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pendidikan, kesehatan, keamanan yang sangat terjangkau bahkan gratis.

Negara juga akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi laki-laki dewasa sehingga bisa menafkahi dirinya dan keluarganya. Penguasa juga akan memberikan modal usaha bagi rakyat kecil agar kesejahteraannya meningkat, sehingga sangat jarang sekali dalam Islam terlihat rakyat miskin dan menderita akibat kurangnya gizi.

Oleh karena itu hanya sistem Islam yang mampu mengantarkan pada kesejahteraan yang mampu mengentaskan persoalan pada akarnya karena sistem ini lahir dari asas aqidah yang lurus dan sesuai fitrah penciptaan yang diturunkan Allah Swt. sebagai panduan dan solusi kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button