Opini

Generasi Muda Kian Sadis, Potret Buruk Sistem Kapitalis

Dunia membutuhkan sistem pendidikan tinggi yang mampu memajukan peradaban dunia sekaligus memuliakan manusia. Mencetak generasi unggul yang siap berjuang untuk memajukan peradaban.


Oleh Nesvy Mayasari
(Praktisi Pendidikan)

JURNALVIBES.COM – Wahai generasi muda insan beragama
Tunjukkanlah bahwa Anda berakhlak mulia
Sinarilah wajah bangsa dengan keimanan
Engkaulah harapan
🎵🎶🎵🎶🎵🎶

Jauh panggang dari api. Sungguh berbanding terbalik kondisi generasi muda hari ini dengan lirik lagu yang dibawakan oleh Bang Haji Rhoma tersebut. Tak habis pikir dan sangat memilukan dengan rentetan kasus kekerasan yang dilakukan oleh generasi muda termasuk pelajar. Jumlahnya semakin hari semakin banyak, bukannya berkurang, malah semakin beragam. Kian sadis dan di luar nalar serta logika.

Dilansir dari bbc.com, (23/02/2023) kasus pembunuhan seorang perempuan disertai mutilasi terjadi di Kaliurang, Yogyakarta. Pelaku memutilasi korban menjadi puluhan bagian. Ini bukanlah kasus pertama. Sebelumnya, polisi juga menangkap pelaku pembunuhan yang memutilasi korban menjadi empat bagian di sebuah apartemen di Tangerang, Banten, lalu dibuang di beberapa lokasi berbeda. Di penghujung tahun lalu, polisi juga menangkap pelaku pembunuhan berinisial MEL di Kabupaten Bekasi. MEL mengaku membeli gergaji listrik untuk memutilasi jasad A menjadi tujuh bagian.

Bukan hanya pembunuhan disertai mutilasi, kasus pembacokan juga telah melanda generasi muda. Tiga remaja yang masih duduk di bangku SMP tega membacok ARSS yang berusia 14 tahun hingga tewas. Hal yang lebih miris lagi, peristiwa sadis tersebut sengaja ditayangkan secara langsung melalui Instagram.

Belum cukup dengan kasus pembunuhan dan pembacokan, polisi telah mengamankan 13 orang remaja di Sukabumi yang terlibat kasus tawuran berkedok perang sarung. Polisi juga menemukan barang bukti berupa celurit dan stick golf. Selain itu, di tempat berbeda, di Jaksel, polisi mengamankan 15 orang remaja yang melakukan aksi tawuran dengan menggunakan sarung yang di bagian ujungnya diikat dengan batu. (detik.com, 25/03/2023).

Miris! Jika melihat kondisi generasi muda kita yang seharusnya menjadi garda terdepan sebagai agent of change dan melambungkan kemajuan bangsa malah berperilaku kian brutal dan sadis. Perilaku generasi muda hari ini bukan hanya disebabkan oleh faktor orang tua yang tidak mampu mendidik, atau masyarakat yang semakin tidak peduli dengan profil generasi yang rusak, melainkan karena kita hidup dalam aturan sekuler. Kubangan sekularisme menyetir pemuda usia produktif untuk menegakkan nilai-nilai budaya hidup ala Barat yang kian permisif.

Generasi muda didoktrin untuk toleran terhadap gagasan-gagasan Barat yang liberal. Mereka kian menolerir kemaksiatan, karena mengganggap hal itu sebagai hak individu. Akibatnya mereka tidak sensitif dengan pelanggaran terhadap syariat bahkan cenderung menjadi pelakunya. Mereka pun tumbuh menjadi generasi muda yang imannya lemah, buta syariat Islam, adabnya rendah, individualis, serta tidak peduli halal dan haram lagi.

Atmosfer sekuler juga telah memberikan kontribusi terhadap sistem pendidikan hari ini yang hanya mementingkan prestasi akademik dan berorientasi pada lapangan kerja, bukan untuk membentuk kepribadian Islam. Para pelajar dididik untuk menjadi pengisi lapangan kerja, minim penanaman adab, pola pikir dan pola sikap yang benar. Potensi generasi muda justru dimanfaatkan untuk kepentingan korporasi global. Jadilah hati dan pikiran pemuda Muslim ala Barat dan berideologi kapitalisme sekuler.

Sinyal agama juga makin dijauhkan dari pendidikan nasional yang tertuang dalam Peta Jalan Pendidikan 2020-2035. Dalam draft tersebut, frasa agama dihilangkan, dengan dalih isi draft tersebut hanya rancangan dan akan diperbarui. Kebijakan lain juga semakin memperjelas aroma sekuler dengan penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri mengenai pengaturan pakaian jilbab bagi siswi Muslimah.

Kampanye deradikalisasi Islam pun terus digaungkan. Dimunculkan isu bahwa kerohanian Islam adalah sarang teroris. Dalam kebijakan lain yang sama persis dengan dokumen PBB dinyatakan bahwa memberdayakan pemuda di bidang politik dan ekonomi agar tidak terlibat dalam radikalisme melalui duta damai BNPT melawan ekstremisme, duta pemuda, untuk menangkal ormas radikal, duta pariwisata, duta genre untuk promosi gaul sehat ala kesehatan reproduksi, dan lainnya.

Ironisnya, berbagai rentetan kasus generasi muda seperti pembunuhan disertai mutilasi, pembacokan, tawuran dan lain sebagainya malah jarang mendapatkan perhatian, penanganan dan pembinaan yang serius. Hanya solusi pragmatis yang disuguhkan oleh sistem sekuler.

Dunia membutuhkan sistem pendidikan tinggi yang mampu memajukan peradaban dunia sekaligus memuliakan manusia. Sistem pendidikan tinggi dalam negara khilafah Islam yang telah berlangsung sekitar 1300 sampai dengan 1400 tahun lamanya, yakni sistem pendidikan Islam. Ada tiga hal yang menjadi kunci keberhasilan kegemilangan sistem pendidikan Islam pada masanya, yakni:

  1. Menjadikan akidah Islam sebagai dasar pendidikan;
  2. Mempunyai tujuan yang jelas, yaitu mencetak kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap);
  3. Negara menerapkan hukum yang tegas kepada pelaku pelanggaran atau tindak kriminal.

Islam adalah satu-satunya solusi tuntas dan terbaik untuk mengatasi permasalahan generasi muda kita hari ini. Masihkah kita ragu untuk menerapkannya dan tetap terbelenggu dalam jeratan sistem kapitalisme sekuler hari ini? Wallahu a’lam bishawab.

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by istockphoto.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button