Opini

Drive OJol Meringis, Pendapatan Menipis

Islam memiliki aturan yang saling menguntungkan antara pengusaha dan pekerjanya dan melarang sikap saling menzalimi. Sungguh, layanan publik dalam Islam tidak mahal dan ribet bahkan bisa digratiskan. Hal ini dikarenakan di dalam Islam yang terlibat dalam menjalankan sarana transportasi dan infrastruktur semuanya menjadi milik publik.


Oleh Aisha Besima
(Aktivis Muslimah Banua)

JURNALVIBES.COM – Setelah berakhirnya pandemi, kita berharap kehidupan akan berangsur pulih. Terutama dalam kondisi ekonomi yang merosot tajam akibat pandemi. Namun, yang membuat miris, driver ojol mengalami penurunan penghasilan yang signifikan akibat terjadi potongan besar yang dilakukan oleh pihak Gojek dan Grab.

Igun Wicaksono, ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Daring Garda Indonesia menjelaskan, pengemudi ojol saat tahun-tahun pertama kehadirannya dapat mengantongi lima sampai 10 juta rupiah. Namun, kondisi saat ini berbanding terbalik. Pendapatan driver ojol mengalami penurunan mencapai 50 persen bahkan di bawah Upah Minimum Provinsi. (UMP) ( cnbcindonesia, 1/4/2023).

Penghasilan driver ojek online (ojol) mengalami penurunan signifikan, akibat potongan besar yang dilakukan oleh aplikator. Hal ini terjadi karena hubungan kerja yang dilandaskan kepada sistem kapitalisme, sehingga Ojol menjadi sapi perah pengusaha kapitalis. Maka, hal ini menyebabkan pekerjaan sebagai driver ojol mulai banyak yang berhenti.

Diprediksi jumlah driver ojol akan mengalami penurunan drastis. Penyebabnya adalah pendapatan mereka yang mengalami penurunan karena potongan besar yang dilakukan perusahaan aplikasi ride hailing seperti Gojek dan Grab (cnbcindonesia, 2/4/2023).

Melihat fakta yang ada, kita harus menyadari ideologi kehidupan yang mengatur kita saat ini adalah ideologi sekularisme. Yang menjadi sebab abainya pemerintah negeri ini akan pengurusan rakyatnya. Sistem sekuler yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, telah melahirkan paham kapitalis.
Pemahaman yang rusak, yaitu menganggap bahwa transportasi dan pelayanan aplikasi dari suatu industri adalah sesuatu yang menguntungkan serta menjadi ladang materi para pengusaha.

Pengadaan aplikasi yang digadang-gadang akan memudahkan para pekerja untuk bekerja, dalam hal ini drive ojol. Namun, semakin kesini keadaannya berkebalikan sebagaimana yang dicanangkan diawal. Awalnya memudahkan para pekerja (drive ojol) mencari pelanggan, ternyata hal ini dimanfaatkan oleh perusahaan aplikasi membuat driver ojol seperti sapih perahnya mereka (perusahaan aplikasi), driver ojol dipekerjakan kemudian diberikan potongan yang besar dari aplikasi.

Semakin mirisnya keadaan masyarakat, di tengah gempuran kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Di sisi lain terbukanya lapangan kerja sebagai driver ojol, kini nyatanya bukan solusi yang tepat untuk menghidupi keluarga. Wajar saja hal seperti ini terjadi, ditengah pandangan hidup kapitalisme.

Paradigma dalam sistem sekuler kapitalisme mengakibatkan fasilitas umum menjadi milik korporasi. Dengan otomatis, fasilitas umum yang dijadikan bisnis bukan pelayanan, sesuai adanya kebermanfaatan materi saja yang dikejar. Inilah realita kehidupan dalam masyarakat hari ini, negara berlepas tangan terhadap kesejahteraan rakyat.

Dalam pandangan hidup yang rusak hari ini, transportasi sebagai sebuah industri. Buah dari cara pandang seperti inilah, mengakibatkan seluruh fasilitas umum dikelola oleh korporasi, bukan diberikan pelayan pemerintah terhadap rakyatnya. Karena pemerintah hanya sebagai regulator antara pengusaha dan masyarakat. Sungguh membuat hati miris, fasilitas yang seharusnya disediakan negara untuk memudahkan aktivitas masyarakat, dan juga para pencari kerja dipenuhi lapangan pekerjaan dengan upah yang sesuai. Namun harapan itu bak mimpi saja.

Tentu hal ini berbeda jauh dalam kehidupan yang diatur oleh sistem Islam yang memiliki peran besar dalam menjaga keharmonisan antara pengusaha dan pekerja, juga menjamin kesejahteraan setiap individu rakyat. Sungguh hal itu tidak dapat terwujud dalam sistem sekuler.
Negara dalam sistem Islam, bertanggung jawab penuh untuk menjamin kemudahan akses bagi setiap individu terhadap fasilitas transportasi umum, murah bahkan gratis tetapi aman, dan nyaman. Para pekerja seperti driver ojol tentu dipermudah dengan pengadaan aplikasi oleh negara, sehingga penghasilan dari ojol tidak mendapatkan potongan banyak dari aplikasi yang dikelola oleh negara Islam.

Islam memiliki aturan yang saling menguntungkan antara pengusaha dan pekerjanya dan melarang sikap saling menzalimi. Sungguh, layanan publik dalam Islam tidak mahal dan ribet bahkan bisa digratiskan. Hal ini dikarenakan di dalam Islam yang terlibat dalam menjalankan sarana transportasi dan infrastruktur semuanya menjadi milik publik.

Dalam Islam pengelolaan layanan publik dengan prinsip pelayanan, bukan bertujuan menghasilkan cuan (uang). Negara memiliki tanggung jawab untuk memudahkan segala urusan rakyatnya termasuk dalam hal ini membangun infrastruktur yang memadai untuk rakyat.

Rasulullah saw. bersabda:. “Imam (khalifah) yang menjadi pemimpin manusia adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR. Bukhari).

Selain itu, dalam Islam pengaturan transportasi yang baik akan meminimalisir masyarakat menggunakan transportasi pribadi dan akan memaksimalkan transportasi umum. Negara akan menata kelola agar warga tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik untuk menuntut ilmu atau bekerja. Semua ada dalam jangkauan perjalanan yang wajar dan memiliki kualitas yang terstandar. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by google.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button