Andai 7-8T Anggaran Untuk Rakyat

Dalam negara yang menerapkan sistem Islam, pemegang kebijakan sangat memperhatikan rakyat. Adanya penguasa dalam Islam itu sebagai pelayan rakyat bukan dilayani, namun melayani dan mengayomi seluruh warganya.
Oleh Ade Irma Suryani
JURNALVIBES.COM – Dana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru Nusantara membengkak sekitar Rp30 triliun, dari sebelumnya Rp27 triliun pada tahun ini. Hal ini diungkapkan Direktorat Jendral Kementrian Keuangan yang diusulkan oleh Kementrian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Disebabkan meningkatnya minat investasi dari swasta di IKN sebanyak 25 kali lipat, pada November 2022. (CNBC Indonesia, 21/03/2023).
Dalam sistem kapitalis tidak heran jika hal initerjadi, terbukti sudah terjadi berulang kali hal seperti ini. Dari alasan karena meningkatnya permintaan investasi pun akan menjadikan negara lebih mudah diatur investor.
Pembengkakan dana yang fantastis untuk sebuah proyek yang menghasilkan keuntungan untuk golongan tertentu. Sebut saja pembangunan proyek kereta cepat Jakarta – Bandung yang mangkrak dan butuh tambahan biaya lagi dan juga sama tanpa perencanaan matang. Seketika diusulkan seketika itu dilakukan.
Tentu perhitungannya dipertanyakan dalam hal pembangunan tersebut. Terbukti lagi-lagi di luar anggaran yang diajukan dan selalu mengalami pembengkakan.
Basis sistem kapitalis adalah materi. Tanpa mempedulikan agama dan norma. Ketika apa yang dilakukan menghasilkan materi akan dilakukan walaupun rakyat jadi korban. Padahal seharusnya rakyat yang diperhatikan yang masih banyak hidup di bawah kemiskinan.
Dari rencana sudah tidak tepat di tengah kondisi yang tidak baik dari berbagai aspek seperti ekonomi rakyat banyak yang di bawah kemiskinan. Tidak meratanya kesejahteraan, politik panas, keamanan dalam negeri diwarnai tingginya kriminalitas.
Rencana yang tidak tepat tapi tetap dipaksakan diwujudkan sesungguhnya semakin memperlihatkan kemana negara terutama rezim saat ini berpihak. Bukan ke rakyat. Lihat saja tidak lama setelah IKN, subsidi untuk BBM dikurangi dalam jumlah besar sehingga mengalami kenaikan harga BBM cukup besar. Hal ini berdampak pada kenaikan harga-harga kebutuhan lain yang membuat masyarakat semakin sulit memenuhi kebutuhan dan semakin besar tekanan hidup di tengah masyarakat.
Rakyat sendiri harus mampu memenuhi kebutuhannya. Tanpa peduli apa yang harus mereka lakukan, halal kah ataukah haram.
Berbeda dengan sistem Islam. Dalam negara yang menerapkan sistem Islam, pemegang kebijakan sangat memperhatikan rakyat. Adanya penguasa dalam Islam itu sebagai pelayan rakyat bukan dilayani. Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw. : “Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bayangkan jika rakyat dilayani dengan baik sesuai dengan syariat Allah tentu rakyat merasa aman dan tentram jauh dari tekanan yang membuat hidup jadi tak tentu arah.
Negara memperhatikan semua kebutuhan rakyat dengan sistem ekonominya yang mumpuni. Karena negara memiliki pemasukan secara tetap di baitul maal yang sudah diatur syariat tanpa ketergantungan dari negara asing sehingga negara Islam merupakan negara yang independen dan kuat. Jauh dari pemasukan negara dengan hutang yang notabenenya riba yang diharamkan Allah Swt.
Pembangunan negara atau infrasturktur dilakukan merata di seluruh wilayah sesuai dengan kebutuhannya. Karena setiap wilayah memiliki kebutuhan berbeda. Dengan meratanya pembangunan ini, jikalau pun terjadi pindah ibu kota seperti saat ini pembangunan sudah tidak jadi soal.
Semua kebutuhan dasar masyarakat dipenuhi secara merata pula. Kesehatan dan pendidikan diupayakan gratis dengan kualitas terjamin. Keamanan dalam ataupun luar negeri diperkuat. Semua yang terkait dipantau pelaksanaan tugasnya dan langsung turun di tengah masyarakat. Tindak kriminalitas langsung ditangani di peradilan dengan hukum yang adil sesuai syariat Islam dan menghasilkan efek jera.
Jauh sekali berbeda dengan yang terjadi saat ini. Hal ini tidak bisa dimungkiri sudah tersistem demikian. Karena hanya sistem lah yang menghasilkan setiap peristiwa baik ataukah buruk. Ibarat produksi industri, jika komposisi dan cara produksi buruk tentu hasil produknya buruk, begitu pula sebaliknya.
Jika sistemnya baik tentu menghasilkan yang baik. Begitu pula sebaliknya. Maka sistem terbaik yang ada saat ini adalah sistem yang Allah Swt, turunkan yakni Islam. Bukan sekuler kapitalis.
Kembali di bulan suci ini menjadi muhasabah bagi kita sudah berapa lama kita terpenjara dengan sistem kufur sekuler ini. Padahal sudah nyata dalam sejarah Islam tercatat, bagaimana dengan adanya negara Islam yang menerapkan sistem Islam terbukti hasilnya baik sebagaimana sudah sering disampaikan bertahan selama 13 abad dan menaungi 2/3 bagian dunia.
Tidakkah kita rindu hidup diatur dengan sistem Islam? Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






