Opini

Pensiunan Bebani APBN?

Dalam sistem Islam, semua orang lanjut usia (lansia) diberi perhatian dan pemeliharaan. Meskipun tidak bekerja dan tidak ada gaji lagi, kehidupan mereka dalam ada tanggungan. Keluarga adalah penanggung pertamanya, karena Islam mengajarkan anak untuk berbakti kepada orang tuanya termasuk memberikan pemeliharaan dan perawatan ketika mereka telah renta.


Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Wakil Ketua MPR Fraksi Partai Demokrat Syarief Hasan, menyesalkan anggapan pemerintah tentang dana pensiunan PNS yang membebani negara. Menurut Syarief, hal ini sangat janggal dan terkesan tidak menghargai pengabdian PNS untuk negara. PNS merupakan unsur penyelenggara negara yang memastikan pelayanan publik berjalan dengan baik sehingga sangat layak mendapatkan apresiasi di hari tuanya. Ia juga menegaskan pensiunan PNS bukanlah beban negara sebagaimana tendensi yang berulang kali disampaikan oleh pemerintah. (finance.detik, 28/8/2022)

Syarief menjelaskan bahwa negara bukanlah sebuah perusahaan yang pengelolaan dana pensiun dalam hal perkara untung dan rugi. Seperti dalam pasal 28 D juncto Pasal 34 ayat (2) UUD 1945 tegas-tegas menyatakan negara wajib memberikan pengakuan, jaminan, perlindungan, imbalan, perlakuan yang adil dalam hubungan kerja, serta pengembangan sistem jaminan sosial sesuai dengan martabat kemanusiaan. Termasuk dalam hal pengelolaan dana pensiun adalah hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945.

Pemerintah tidak boleh semata-mata menggunakan kalkulasi bisnis dalam mengelola negara, khususnya jaminan dan kepastian hari tua bagi pensiunan PNS. Akibat sistem kapitalis yang selalu memperhitungkan untung dan rugi, dana pensiun yang seharusnya menjadi hak pensiunan terus dipermasalahkan.

Hal ini dikarenakan kepanikan pemerintah dalam mencari dana dan anggaran. Karena kas negara semakin menipis dan utang semakin menggunung. Kondisi keuangan negara yang memprihatinkan terjadi akibat kesalahan dalam pengelolaan keuangan negara, pengambilan kebijakan yang tidak tepat, dan adanya pembobolan uang negara oleh para pejabat dengan melakukan korupsi.

Negara terus mempermasalah uang tabungan hari tua bagi PNS dan dana pensiun. Padahal dana tersebut adalah merupakan hasil dari pemotongan gaji PNS setiap bulan yang telah diinvestasikan selama aktif menjadi PNS. Jadi dana pensiun bagi PNS itu sebenarnya tidak membebani APBN.

Sistem kapitalis menjadikan semua manusia selalu dipenuhi kekhawatiran dengan uang, uang, dan uang. Bahkan di usia senjapun masih dihantui kekhawatiran tidak bisa makan dan menghidupi dirinya sehingga perlu dipersiapkan tabungan investasi untuk menghadapi hari tua dengan menikmati dunia.

Berbeda dengan Islam yang mengajarkan manusia usia lanjut untuk khawatir dengan amal kebaikan. Bukan tentang biaya hidup. Usia lanjut adalah usia menuju pintu akhirat sehingga fokus mempersiapkan bekal menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya.

Oleh karenanya di dalam sistem Islam, semua orang lanjut usia (lansia) diberi perhatian dan pemeliharaan. Meskipun tidak bekerja dan tidak ada gaji lagi, kehidupan mereka dalam ada tanggungan. Keluarga adalah penanggung pertamanya, karena Islam mengajarkan anak untuk berbakti kepada orang tuanya termasuk memberikan pemeliharaan dan perawatan ketika mereka telah renta.

Bagi yang tidak memiliki anak atau keluarga, orang lanjut usia tetap terpelihara karena negara memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar bagi kehidupannya. Apabila ada yang mempunyai tanggungan maka akan mendapat sokongan dari negara untuk menunaikan tanggung jawabnya.

Apabila mereka meninggal dunia dalam keadaan punya utang dan tidak ada ahli warisnya, maka negara wajib membayarnya.
Negara juga mendukung para lansia fokus beramal salih dan memperbanyak kebaikan, yaitu dengan memberikan santunan yang selalu dianggarkan oleh baitul maal, baik Muslim maupun nonmuslim.

Seperti pada jaman Khalifah Umar bin Khathab, yang pada suatu ketika beliau melihat seorang pria Yahudi tua sedang meminta-minta. Umar r.a pun memanggil sang Gubernur kemudia berkata, “Kenapa pria ini meminta-minta? Di sepanjang hidupnya dia membayar jizyah, kenapa dia tidak mendapat tunjangan? Kenapa dia meminta-minta?” Dan dana tunjangan pun diadakan. Umar berkata, “Demi Allah, aku akan menjamin bahwa pada suku Badui di Pegunungan San’a, akan mendapatkan tunjangan. Mereka mendapatkan tunjangan.” Untuk para sahabat yang buta juga mendapatkan perawat. Mereka mempunyai seorang perawat yang mengurusi mereka. Umar r.a. melihat sekumpulan umat Kristen, mereka menderita kusta, lalu Umar r.a mengambil kekayaan dari baitul maal dan memberikannya kepada mereka untuk menyembuhkan mereka.

Bagi orang-orang yang tidak bisa disembuhkan, Umar r.a. memberikan mereka tunjangan sampai kematian mereka. Demikianlah gambaran sistem Islam memberikan jaminan kepada rakyatnya pada usia pensiun. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button