Opini

Sekularisme Menumbuhkan Emansipasi yang Menurunkan Derajat Perempuan

Bukan ajaran Islam yang menjadi penyebab ketertindasan pada perempuan. Namun pemisahan agama dari kehidupanlah yang menjadi biang keroknya.


Oleh: Novida Sari, S.Kom.

JURNALVIBES.COM – Sebelum Islam datang, tidak ada peradaban yang menganggap perempuan itu sebagai makhluk hidup. Keberadaan mereka dipandang sebelah mata bahkan ditempatkan pada posisi rendah lagi menghinakan. Termasuk di kalangan ahli kitab sebagaimana halnya Yahudi menganggap perempuan adalah laknat karena telah menggoda Adam. Sehingga perempuan golongan Yahudi akan diasingkan jika sedang haid karena dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Pandangan Nasrani juga tak jauh berbeda, mereka menggambarkan perempuan sebagai biang kemaksiatan, akar kejahatan dan dosa karena nenek moyang manusia dahulu telah mendorong  untuk mendekati pohon terlarang sehingga menyebabkan manusia dikeluarkan dari surga.

Konon pandangan dari selain ahli kitab lebih hina lagi, seperti peradaban Yunani yang tidak menganggap adanya perempuan karena statusnya paling rendah yang menyebabkan segala penderitaan dan musibah yang menimpa manusia. Bangsa Romawi yang menganggap perempuan sebagai ajang pemuas nafsu laki-laki, Peradaban Cina yang tidak memberikan warisan,  India dengan anggapan bahwa perempuan sebagai sumber kesalahan dan penyebab kemunduran mental dan akhlak. Apalagi pada peradaban arab Jahiliyah, perempuan adalah aib besar yang kelahirannya tidak diinginkan sehingga penguburan anak perempuan hidup-hidup adalah hal tradisi yang wajar terjadi.

Namun semua anggapan hina dan merendahkan ini tidak berlaku ketika di dalam Islam. Bahkan Islam mengangkat derajat perempuan melebihi peradaban manapun ke tempat yang lebih tinggi dan mulia. Status gender bukanlah penentu, bahkan Allah Swt. berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan” (TQS An Nahl: 97)

Bukan hanya tentang dalil ketaatan, namun juga pada dalil ancaman bagi orang yang melakukan kemaksiatan seperti firman Allah Swt.

لِّيُعَذِّبَ ٱللَّهُ ٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَٱلْمُشْرِكَٰتِ وَيَتُوبَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًۢا

Artinya : “Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (TQS Al Ahzab: 73)

Tampak jelas bahwa gender bukanlah penentu status mulianya seseorang di mata Allah Swt. Bahkan kenyataannya, ajaran Islam telah mengangkat derajat perempuan melebihi laki-laki sekalipun. Posisi ibu (perempuan) memiliki derajat 3 kali lebih tinggi dari laki-laki meskipun di satu sisi perempuan tidak perlu ikut dalam hal kewajiban jihad dan pemenuhan nafkah sebagaimana laki-laki. Di samping itu, jaminan penghalang dari api neraka bagi orang tua yang mampu mendidik anak perempuannya sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka”. (HR Bukhari dan Muslim).

Emansipasi Hanya Menurunkan Derajat Perempuan

Setelah derajat perempuan diangkat oleh Islam, ada saja pihak yang ingin menurukannya kembali atas nama kesetaraan ataupun emansipasi. Penerapan hukum sekularisme yang telah memisahkan agama dari kehidupan dan bernegara telah menyudutkan Islam berlaku tidak adil. Bahkan lebih jauh, tuduhan yang tidak mendasar bahwa Islam telah mengekang perempuan sehingga harus ada perubahan dalam penyetaraan hak, status, hukum dan segala dimensi kehidupan dalam bermasyarakat.

Tak ayal, wanita dipaksa keluar dari peranan fitrahnya untuk bekerja dan meninggalkan rumah tangganya demi memenuhi dapur dan fashionnya. Penudingan bahwa laki-laki tidak mampu memenuhi kehidupan rumah tangga, padahal seharusnya Negaralah yang memiliki peranan krusial dalam hal ini.

Islam telah mengangkat perempuan dari posisi hina menuju posisi mulia. Namun karena negara ini penganut sekuler kapitalis yang semuanya dinilai dari materi bukan berdasarkan pada akidah, akhirnya umat Islam di duniapun terjauhkan dari ajaran Islam yang sempurna. Kesempurnaan Islam yang mendatangkan rahmatan lil ‘alamin hanyalah tinggal slogan semata jika tidak diterapkan secara sempurna, bahkan Allah Swt. telah menuntut agar diterapkannya ajaran Islam secara total sebagaimana Firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (TQS Al Baqarah : 208)

Bukan ajaran Islam yang menjadi penyebab ketertindasan pada perempuan. Namun pemisahan agama dari kehidupanlah yang menjadi biang keroknya. Pemisahan agama dari kehidupan ini telah menyuburkan gerakan emansipasi yang menuntut persamaan semu atas nama gender. Ditambah kapitalisme akut yang telah merongrong negara, karena bagi negara sekalipun untung rugi merupakan landasan kebijakan dibuat. Bukan pada kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat.

Berbeda dengan Islam, melalui institusi Khilafah yang menjadi Tajul Furudh (mahkota kewajiban), Negara akan mengurusi seluruh keperluan rakyat di belakangnya berdasarkan dorongan akidah yang berasaskan pada Alquran dan Sunnah. Sehingga Islam tidak mengenal Istilah emansipasi. Karena kenyataannya, Emansipasi hanya akan menurunkan derajat perempuan. Wallahu a’lam bishshawab []


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button