Motivasi

Menggenggam

Hidup dengan memaafkan dan berdampingan dengan segala kesakitan di masa lampau bagaimanapun adalah cara terbaik untuk membayar pahitnya kehidupan.


Oleh Cinta Anantalia
(Pelajar Bogor)

JURNALVIBES.COM – “Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tetapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.”

Mengenai rasa sakit, hancur, dan kecewa. Dipastikan bukan merupkan hal yang dapat dihindari oleh setiap manusia. Terkadang rasa sakit itu yang membakar diri manusia, membawanya untuk bertindak. Entah berteriak marah, menangis tergugu, atau melepaskan segalanya. Banyak hal-hal terjadi yang melibatkan emosi pribadi. Orang tak akan sungkan berbuat keji demi menuntaskan emosi. Ada pula yang memilih menyerah, tenggelam dalam endapan rasa sakit, tidak beranjak, membiarkan dirinya mati dalam luapan kepedihan.

Berbagai perjalanan dalam kefanaan hidup ini memang begitu, membawa setiap insan menemui lembaran-lembaran cerita. Ada yang terbuai bahagia, ada yang terkulai karena luka. Namun frasa kehidupan tak akan pernah selesai jika tidak melewati keduanya. Kepedihan merupakan hal mutlak yang akan dilalui setiap insan dalam ceritanya masing-masing.

Bagaimana cara setiap kita menuntaskannya yang menjadi pembeda epilog pada setiap cerita. Beberapa memilih menutup ceritanya di bab terendahnya, beberapa memilih melanjutkan dengan rasa dendam, dan berakhir dengan kematian dalam kemarahan. Namun mereka yang terbaik memilih untuk memeluk lukanya, mengubur semua amarahnya dan melanjutkan hidup dengan diri mereka yang berbeda. Bukan lagi diri mereka yang putih tanpa luka, dan berjalan ragu menghadapi dunia. Namun diri mereka dengan luka yang telah pulih dan berjalan tegak menghadapi dunia.

Mereka yang hidup dengan memaafkan luka lama, berhenti menyalahkan keadaan dan berdamai dengan trauma. Mereka yang memilih berdiri menggenggam erat kesakitan yang dibawanya dan siap menggempur kehidupan yang terus berjalan, karena waktu tak pernah menunggu mereka yang siap untuk kembali bergulat dengan kehidupan, maka siapa yang tak siap akan habis tergiling keadaan.

Tak perlu memaksa diri mereka untuk melupakan hal tragis dalam hidupnya sebab mereka tahu, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Namun jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.

Mereka memilih untuk menerima, dan hidup berdampingan dengannya. Mereka tahu bahwa dengan membalas takdir bukan merupakan penyelesaian yang tepat sebab berperang karena dendam dan marah. Akibatnya menyakitkan hati, baik ketika menang apalagi ketika kalah.

Hidup dengan memaafkan dan berdampingan dengan segala kesakitan di masa lampau bagaimanapun adalah cara terbaik untuk membayar pahitnya kehidupan.

Untuk kalian semua yang telah berjuang, terimakasih dan jangan berhenti. Kita sudah sejauh ini, maka epilog kita akan tertulis dengan elegan.

“Tidak ada seorang Muslim pun yang ditusuk oleh duri atau lebih dari itu, kecuali Allah pasti akan menghilangkan kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.” (HR. Bukhari).

*Beberapa kutipan diambil dari buku Anak Rantau (A. Fuadi) dan Hujan (Tere Liye)[]

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button