Kasus Covid Meledak, Bukti Kegagalan Strategi Penanganan Global

Hanya dengan penerapan Islam secara komperhensif yang dapat menangani wabah secara serius, tanpa adanya kepentingan tertentu, namun atas dasar takwallah dan berlandaskan syariat. Sehingga, pandemi akan dapat terselesaikan sejak dini dan penyebarannya dapat segera dihentikan.
Oleh Fathimah A. S.
JURNALVIBES.COM – Ledakan kasus Covid-19 di dunia semakin menjadi-jadi. Munculnya varian baru Covid-19 di berbagai wilayah dunia bak gelombang laut yang saling bersusulan. Menurut WHO, varian Covid-19 yang diklasifikasikan sebagai Variant of Concern (VOCs) merupakan label tertinggi yaitu varian Alpha (UK), varian Beta (Afrika Selatan), varian Gamma (Brazil), varian Delta (India) (kontan.co.id, 22/07/2021). Dari varian ini, yang paling parah penularannya adalah varian Delta.
Untuk mengatasi penyebaran virus Covid-19, pemerintah di seluruh dunia menggembar-gemborkan harapan akan tercapainya kekebalan kelompok atau herd immunity. Suatu keadaan di mana virus berhenti menyebar karena cukup banyak orang yang terlindungi atau kebal dari penyakit tersebut (bisnis.com, 14/08/21). Salah satu upaya untuk mencapai kekebalan kelompok ini adalah dengan penggalangan vaksinasi di berbagai penjuru dunia.
Akan tetapi, realita nyatanya tidak seindah harapan. Menurut perkiraan Infectious Diseases Society of America, munculnya berbagai varian Covid-19 terutama varian Delta mendorong ambang batas kekebalan kelompok hingga lebih dari 80 persen dan mungkin mendekati 90 persen padahal sebelum muncul varian Delta diperkirakan kekebalan kelompok dapat dicapai sekitar 60 persen hingga 70 persen (bisnis.com, 14/08/21).
Dunia mungkin tidak akan mengalami kekebalan kelompok. Menurut Greg Poland, Direktur Kelompok Penelitian Vaksin di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, dilansir Bloomberg, Sabtu (14/8/2021), bahkan dengan tingkat vaksinasi 95 persen mungkin tidak akan menghantarkan dunia pada kekebalan kelompok. “Ini adalah pertarungan ketat antara pengembangan varian yang semakin sangat menular dan tingkat imunisasi”, ujarnya. Selain itu, tidak jelas berapa lama kekebalan alami yang diperoleh dapat bertahan dan apakah itu akan efektif untuk melawan varian baru.
Semakin dikuatkan dengan realitas bahwa meski Amerika Serikat memiliki angka vaksinasi yang cukup tinggi, yaitu menempati urutan kedua di dunia dengan penduduk terbanyak yang telah divaksinasi, negara Paman Sam tersebut tetap memiliki peningkatan infeksi yang signifikan di bulan ini, bahkan lebih dari 1000% dibandingkan Bulan Juni lalu. Dikutip dari data interaktif Covid-19 milik New Tork Times, pada akhir Juni lalu rata-rata kasus infeksi di Amerika Serikat masih berada di level 11 ribuan per minggunya. Akan tetapi saat ini rata-rata infeksi mingguan telah mencapai 141 ribu kasus perharinya. Ini merupakan kenaikan lebih dari 10 kali lipat.
Adanya vaksinasi bukan berarti masalah selesai. Menurut Epidemiolog Indonesia di Griffith University Australia, Dicky Budiman, vaksinasi bukan berarti perlindungan sempurna dari Covid-19, sebab sebagian kecil penerima vaksinasi masih memungkinkan untuk tertular Covid-19 hanya saja dampaknya tidak terlalu parah.
Dicky juga menambahkan, sejauh ini tidak ada pandemi yang selesai dengan vaksinasi. Contohnya cacar yang telah muncul sejak ratusan tahun lalu, meski telah ada vaksin, pandemi ini baru selesai dalam 200 tahun. Polio pun juga baru selesai 50 tahun. Sehingga, perlu bertahun-tahun untuk mencapai tujuan herd immunity. Selain itu, keberhasilan vaksinasi juga lebih mudah terjadi pada kondisi kurva pandemi Covid sudah melandai, tambah Dicky.
Hal ini semakin menunjukkan bahwa kepemimpinan WHO dan Lembaga Dunia lain terkait ini terbukti gagal menemukan strategi jitu demi eradikasi atau pemberantasan pandemi ini. Menjadi bukti bahwa permasalahan pandemi bukan pada permasalahan vaksinasi, pemberian obat, testing, ataupun penelusuran jejak. Bahkan semua itu telah dilakukan. Namun, problem terbesar adalah pada kehadiran kepemimpinan global yang mampu menyelesaikan permasalahan dengan metode yang shahih.
Dunia membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan seluruh dunia dan fokus pada pengurusan urusan umat. Pemimpin ini hanya mampu ditemui dalam sistem yang benar, yaitu Islam yang diterapkan secara totalitas dalam sistem kehidupan. Kepemimpinan Islam akan menjadi kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia serta sebagai pelaksana hukum-hukum syariat Islam. Kepemimpinan inilah yang mampu menyelesaikan problem pandemi secara serius.
Kepemimpinan Islam dilandaskan pada ketakwaan kepada Allah. Khilafah akan menangani wabah karena ia memahami tanggung jawab yang ia pikul dihadapan Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dia pimpin.” (HR Bukhari). Sehingga pemimpin akan senantiasa mencurahkan daya dan upayanya untuk dapat menyelesaikan wabah.
Kepemimpinan Islam menerapkan metode sahih dalam memutus rantai penularan wabah. Solusi Syariat Islam dalam menangani wabah adalah melalui tindakan lockdown.
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang artinya,
“Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasukinya, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu ada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Muslim).
Lockdown yaitu pemisahan secara sempurna orang sakit dengan masyarakat yang sehat, diberlakukan sejak awal munculnya wabah. Pemimpin dalam Islam akan tegas dalam mengisolasi wilayah yang terpapar wabah agar penularan secara berantai dapat dicegah. Negara tidak akan abai terhadap rakyatnya, dampak ekonomi yang timbul akibat isolasi ini akan di-cover oleh negara, jaminan kebutuhan dasar akan dilayani secara penuh. Negara juga wajib men-support segala hal yang dibutuhkan agar wabah segera terselesaikan. Mulai dari dukungan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, alat tes, vaksin, obat-obatan atau vitamin, dan lain-lain. Semua ini diberikan secara cuma-cuma bagi yang membutuhkan.
Negara akan mengelola sumber-sumber keuangan yang ada, termasuk di dalamnya adalah harta milik umum dalam kas negara untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Hal ini dilakukan dengan mekanisme anggaran yang fleksibel serta administrasi yang tidak berbelit-belit untuk penanganan wabah.
Pengadaan riset dan produksi vaksin dan obat-obatan juga akan menjadi prioritas negara. Negara memfasilitasi dan membiayai kegiatan riset yang diambil dari kas negara. Negara juga akan mengerahkan seluruh potensi yang ada. Mulai dari pakar, ilmuwan, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian agar wabah dapat segera teratasi.
Demikianlah gambaran singkat dedikasi khilafah dalam mengatasi pandemi. Solusi inilah yang dibutuhkan untuk menangani pandemi. Solusi yang selaras dengan ketakwaan kepada Ilahi dan dijalankan dengan metode sahih. Berbeda jauh dengan paradigma pengatasan pandemi yang dilakukan hari ini yang penanganannya masih dilakukan secara parsial dan mengutamakan kepentingan ekonomi dibandingkan kesehatan masyarakat. Selain itu, adanya perbedaan kebijakan antar penguasa negeri dan kompetisi negara-negara adidaya untuk memanfaatkan situasi juga semakin memperkeruh kondisi pandemi.
Hanya dengan penerapan Islam secara komprehensif yang dapat menangani wabah secara serius, tanpa adanya kepentingan tertentu, namun atas dasar takwallah dan berlandaskan syariat. Sehingga, pandemi akan dapat terselesaikan sejak dini dan penyebarannya dapat segera dihentikan. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






