Tikus Berdasi dalam Sistem Demokrasi

Berharap bisa memberantas korupsi dalam sistem demokrasi bagaikan pungguk merindukan rembulan. Janji manis demokrasi hanyalah penghias kata tapi pahit dalam praktiknya. Sudah saatnya kita mengganti sistem demokrasi (buatan manusia) dengan sistem yang bersumber dari Al-Khaliq.
Oleh Aslama
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei nasional mengenai persepsi publik atas pengelolaan dan potensi korupsi sektor sumber daya alam. Hasilnya, 60 persen publik menilai tingkat korupsi di Indonesia meningkat dalam dua tahun terakhir. (detik.com, 8/8/2021)
LSI memberikan pertanyaan tentang seberapa luas korupsi yang terjadi di Indonesia. Pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah:
“Menurut ibu/bapak, seberapa luas korupsi terjadi di bidang-bidang berikut?”
Hasilnya, sebanyak 38 persen responden menilai pada bidang pertambangan yang dikelola perusahaan asing sangat luas korupsinya. Berikut ini hasil lengkapnya:
- Penangkapan ikan oleh kapal asing: 37 persen
- Pertambangan (emas, tembaga, batubara, pasir, dan batu) yang dikelola oleh perusahaan asing: 38 persen
- Pertambangan (emas, tembaga, batubara, pasir, dan batu) yang dikelola oleh BUMN/BUMD: 37 persen
- Perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan asing: 34 persen
- Perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan Indonesia: 31 persen
- Penangkapan dan ekspor margasatwa (satwa dan tanaman): 35 persen
- Penangkapan ikan oleh kapal Indonesia: 34 persen
- Pertambangan (emas, tembaga, batu bara, pasir, dan batu) yang dikelola oleh penambang berskala kecil: 30 persen
- Perkebunan karet yang dikelola oleh PTPN (PT Perkebunan Nusantara Milik Pemerintah): 31 persen
- Impor atau perdagangan sampah: 31 persen
Dari hasil survei di atas, nampak jelas bahwa tingkat korupsi di negeri ini semakin meningkat. Walaupun berbagai cara telah dilakukan dalam memberantas korupsi, tetapi tingkat korupsi tetap menjadi-jadi di negeri ini. Hal ini sudah menjadi masalah sistemik, karena korupsi tidaklah sendiri-sendiri melainkan secara gotong royong.
Tingginya Korupsi dalam sistem demokrasi bukanlah tudingan kosong tanpa bukti. Selain hukuman sanksi pidana yang terbilang ringan, korupsi juga diakibatkan tingginya biaya politik dalam sistem demokrasi.
Dana kampanye yang besar memicu tingkat korupsi yang makin tidak terkendali. Alih-alih menyejahterakan rakyat ketika menjabat, yang terjadi adalah berlomba-lomba mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan dalam kompanye dengan target beberapa tahun menjabat bisa balik modal dan mendapat keuntungan. Rakyat hanya dijadikan kambing hitam demi kepentingan sekelompok orang dalam sistem demokrasi saat ini.
Perjalanan sejarah membuktikan bahwa demokrasi hanyalah mainan bagi parpol dan kaum kapitalis. Demokrasi tidak pernah benar-benar memihak rakyat.
Alhasil, berharap bisa memberantas korupsi dalam sistem demokrasi bagaikan pungguk merindukan rembulan. Janji manis demokrasi hanyalah penghias kata tapi pahit dalam praktiknya. Sudah saatnya kita mengganti sistem demokrasi (buatan manusia) dengan sistem yang bersumber dari Al-Khaliq.
Dialah yang menciptakan manusia dengan seperangkat aturan-aturannya, termasuk aturan yang terkait dengan keuangan negara. Aturan yang menyelesaikan permasalahan umat manusia di segala aspeknya kehidupan, sehingga tercipta kedamaian dan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat secara keseluruhan. Sistem yang telah terbukti selama 13 belas abad mampu membawa peradaban yang gemilang. Wallahua’lam bishshowab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






