Opini

Pengendalian Data Pandemi, Untuk Apa?

Dengan kebijakan lockdown, roda perekonomian negeri masih tetap bisa berjalan. Negara pun tidak merasa keberatan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat di daerah lockdown.


Oleh Fatimah Azzahra, S.Pd.

JURNALVIBES.COM – Data memiliki peran yang penting dalam kelancaran berjalannya suatu penelitian, juga sebagai pertimbangan pengambilan suatu kebijakan oleh pemerintah.

Seperti sekarang ini, data seputar korban pandemi, yang terjangkiti, isolasi di rumah sakit, isolasi mandiri di rumah, meninggal, sembuh, dan lainnya, semuanya sangat penting untuk evaluasi dan menentukan kebijakan yang harus segera diambil. Sayangnya, disinyalir justru terjadi manipulasi data seputar Covid-19 ini.

Manipulasi Data

Ahli epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riyono, mempertanyakan penurunan kasus harian Covid-19 yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Sebab, penurunan kasus itu dibarengi dengan rendahnya testing atau pemeriksaan kasus. (kontan.co, 22/7/2021)

Dilansir dari laman kompas.com (22/7/2021), menurut pengamat kebijakan publik Universitas Airlangga, Yanuar Nugroho, penurunan keterisian tempat tidur belum tentu disebabkan karena jumlah pasien yang dirawat menurun, tetapi bisa jadi akibat dari bertambahnya jumlah tempat tidur di rumah sakit darurat dan fasilitas isolasi yang disediakan pemerintah.

Pantas jika para epidemiolog mempertanyakan maksud penurunan data ini bagi publik. Apakah demi relaksasi PPKM? Agar masyarakat bisa menggenjot roda perekonomian negeri?

Prioritas Utama

Dari fakta otak-atik data pandemi demi menggenjot roda ekonomi negeri, terlihat bahwa prioritas utama adalah ekonomi. Bukan penyelesaian pandemi. Inilah potret buram kapitalisme, yang tolok ukur semuanya adalah manfaat dan materi.

Kebijakan PPKM yang diberlakukan negara dinilai oleh rakyat sebagai kebijakan lockdown minim modal. Pemerintah tidak berani mengambil kebijakan lockdown padahal angka kematian, terjangkiti berhari-hari membuat rekor terbaru bagi bumi pertiwi. Bahkan kedatangan warga dari Indonesia ditolak oleh beberapa negara luar sana.

Pandangan bahwa lockdown, pemberian bantuan, pemenuhan kebutuhan masyarakat oleh negara dianggap sebagai beban, tidak bermanfaat, justru merugikan negara. Oleh karena itu, kebijakan ini tak diambil bahkan ‘haram’ bagi kapitalisme. Kapitalisme menuntut agar rakyat mandiri, berempati pada kondisi negeri yang tidak punya kas untuk menyubsidi.

Islam Tuntaskan Pandemi

Sungguh sangat berbeda dengan Islam. Mari lihat bagaimana Umar bin Khattab, sang Amirul mu’minin, menghadapi pandemi. Bukan sekali rakyat ditimpa musibah saat kepemimpinan beliau. Pandemi Amwas, wabah kelaparan pernah dilewati.

Semua kebijakan difokuskan demi keselamatan rakyat, menyelesaikan wabah yang ada. Sebagaimana pandemi Amwas, walau penelitian belum ada seperti saat ini. Belum ada epidemiologi seperti jaman sekarang yang jadi pakar wabah untuk dimintai pendapat.

Jauh sebelum semua hadir, Islam sudah mengajarkan kebijakan lockdown daerah asal pandemi. Tidak mengijinkan yang sehat masuk ke daerah asal pandemi, tidak juga mengijinkan yang sakit keluar daerah wabah. Pemerintah menyuplai kebutuhan rakyat menjadi suatu yang lumrah. Dorongan untuk sabar dan tawakal selalu digalakkan.

Dengan kebijakan lockdown, roda perekonomian negeri masih tetap bisa berjalan. Negara pun tidak merasa keberatan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat di daerah lockdown. Kaca mata yang digunakan adalah kaca mata bagaimana mengurusi rakyat secara optimal, bukan untung rugi materi, karena Allah sudah mandatkan pada pejabat negeri untuk memenuhi kebutuhan rakyat dengan kekayaan alam yang sudah Allah anugerahkan.

Inilah Islam dengan penerapan syariatnya yang mulia. Dinaungi oleh institusi mulia pula, khilafah dengan manhaj kenabian. Sangat berbeda bukan? Masihkah kita betah dengan sistem yang berani otak-atik data demi ekonomi? Bahkan nyawa umat yang hilang hanya dipandang sekedar data belaka. Mari kembali pada aturan Allah yang sempurna. Wallahua’lam bishshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button